Menurut pendapat ulama Hanafiah dan Malikiah, zakat uang ini merupakan zakat emas dan perak karena uang pada zaman rasul terbuat dari emas dan perak. Jika pada saat ini negara Indonesia memberlakukan uang kertas dan logam, maka dalam jumlah tertentu tetap dianggap senilai dengan uang emas dan perak sehinga kewajiban zakat tetap berlaku.

Menurut ulama Syafi’iyah: “Tidak wajib zakat karena uang kertas adalah hawalah (tanda penukaran) yang tidak shahih, karena tidak ada ijab dan qabul, kecuali apabila telah ditukar dengan emas atau perak dan telah berlalu waktu setahun.”

Menurut ualama Hanbaliyah: “Tidak wajib zakat, melainkan apabila telah ditukar dengan emas atau perak.”

Pendapat yang tidak mewajibkan zakat berdasarkan ‘illat (alasan hukum) yang mereka kemukakan, yakni tak adanya ijab dan qabul yang sangat lemah itu, mengakibatkan hak fakir miskin dari tumpukan kekayaan orang-orang kaya, terambil atau tertahan di kantong orang-orang kaya.

Pendapat ulama-ulama yang mewajibkan itu kiranya lebih maslahat dan lebih ihtiyathi (hati-hati), dan lebih mendekatkan kepada kesadaran dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

A.Hassan pun berpendapat: “Adapun harta kekayaan yang berupa uang bukan dari emas dan perak, dan yang berupa uang kertas, atau yang menjadi simpanan di bank, hendaklah dikeluarkan zakatnya menurut ukuran uang emas dan perak tersebut.”[1]

Zakat Uang ini wajib dikeluarkan jika sudah mencapai nishab dan haul. Nishab uang adalah seharga emas 90 gram atau perak 600 gram. Kadar zakatnya 2,5%, dikeluarkan setiap satu tahun sekali.

 

 

Contoh:

Pak Ahmad memiliki uang tabungan di sebuah Bank Syari’ah, sbb:

Tanggal Debet Kredit Saldo
01/02/05 20.000.000   20.000.000
10/05/05   2.000.000 18.000.000
20/06/05   5.000.000 13.000.000
02/07/05 200.000   13.200.000
13/08/05   1.000.000 12.200.000
04/10/05      200.000 12.000.000
20/11/05 2.000.000   14.000.000
31/01/06 1.000.000   15.000.000

 

Jika asumsi harga emas adalah Rp 80.000 per gram, maka nishabnya adalah: 90 x Rp 80.000 = Rp 7.200.000,- . Jadi, tabungan Pak Ahmad sudah mencapai nishab, dan juga haul. Sehingga wajib dikeluarkan zakatnya dengan perhitungan sbb:

Saldo terakhir  : Rp 15.000.000,-

Zakat                 : 2,5% x Rp 15.000.000,- = Rp 375.000,-

 

Deposito, saham, obligasi, dan uang tunai yang disimpan di rumahnya sendiri termasuk dalam kategori zakat uang, Oleh karena itu pemilik uang dalam berbagai bentuknya wajib mengeluarkan zakatnya jika telah mencapai nishab dan haul.

 

Sumber: Petunjuk Zakat Praktis

 

[1] Kumpulan Risalah A.Hassan:2005:199

 

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB