Dr. Haris Muslim

 

Mengenai zakat tumbuh-tumbuhan, Allah swt. telah menetapkannya dalam AlQuran:

وَهُوَ الَّذِيْ أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوْشَاتٍ وَ غَيْرَ مَعْرُوْشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِِهًا وَ غَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوْا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَءَاتُوْا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلاَ تُسْرِفُوْا إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ (الأنعام: 141)

“Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun, dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan yang tidak sama (rasanya). Makanlah buahnya (yang bermacam-macam itu) bila berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan”. (Q.S. Al-An’am: 141)

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا أَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّباتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأَرْضِ …

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (zakatkanlah) sebagian yang baik-baik dari harta yang kamu usahakan dan dari apa yang Kami keluarkan untuk kamu dari bumi…” (Q.S. Al-Baqoroh: 267)

Hasil bumi yang wajib dikeluarkan zakatnya

Ada perbedaan pendapat mengenai hasil bumi yang wajib dikeluarkan zakatnya. Ada yang berpendapat zakat hasil bumi hanya wajib untuk empat jenis, yaitu: qamah (gandum), sya’ir (padi Belanda), tamar (korma), dan zabib (anggur kering/kismis). Ada juga yang mengatakan bahwa zakat diwajibkan terhadap semua hasil bumi, sebagaimana pendapat Imam Abu Hanifah: “Zakat itu wajib terhadap tumbuh-tumbuhan yang ditumbuhkan oleh bumi, baik berupa biji-bijian, buah-buahan, maupun bunga, selain dari tiga, yaitu kayu api, buluh, dan rumput.”[1]

Dalam masalah ini, penulis mengambil pendapat Abu Hanifah sebagai pendapat yang paling kuat, dengan memperhatikan firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-An’aam 141 yang disebutkan di atas. Dalam ayat itu Allah SWT menerangkan tentang berbagai macam tumbuhan (hasil bumi) dengan berbagai jenisnya dan yang dimaksud dengan perintah untuk menunaikan haknya ialah mengeluarkan zakatnya.

Jadi, segala macam hasil bumi baik berupa padi (pertanian), buah-buahan, dan sayur-mayur  (perkebunan), wajib dikeluarkan zakatnya sebagai zakat hasil bumi.

Nishab, Kadar, dan Haul  Zakat Hasil Bumi

Hasil bumi wajib dikeluarkan zakatnya jika sudah mencapai nishab yaitu 5 wasaq (650 Kg). Adapun kadar zakatnya ada dua macam, yaitu; Pertama, Jika pengairannya alamiah (oleh hujan atau mata air) maka kadar zakatnya adalah 10%. Kedua, Jika pengairannya oleh tenaga manusia atau binatang sebanyak 5%. Perhatikanlah dalil-dalil di bawah ini:

لَيْسَ فِيْمَا دُوْنَ خَمْسَةٍ أَوْسَاقٍ مِنْ تَمْرٍ وَلاَ حَبٍّ صَدَقَةٌ

Rasulullah SAW bersabda: “Kurma ataupun biji-bijian yang  jumlahnyag kurang dari 5 wasaq (650 Kg) tidak ada zakatnya” (H.R. Muslim)

فِيْمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالأَنْهَارُ وَالْعُيُوْنُ أَوْ كَانَ بَعْلاً الْعُشْرُ, وَفِيْمَا سُقِيَ بِالسَّوَانِيْ أَوْ النَّضْحِ, نِصْفُ الْعُشْرِ

Rasulullah SAW bersabda:“Yang diairi oleh air hujan, mata air, atau air tanah, zakatnya 10%. Sedangkan yang diairi oleh penyiraman, zakatnya 5% (H.R. Abu Dawud)

Adapun waktu pengeluaran zakat hasil bumi adalah ketika dipanen, sebagaimana keterangan dalam Al-Quran Surat Al-An’am 141: “… dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya)… ”

Dalam menggarap hasil bumi para petani biasa mengeluarkan biaya operasional, apakah biaya operasional itu dikurangkan dahulu sebelum dihitung zakatnya atau langsung dihitung tanpa dikurangi biaya operasional?

Menurut Imam Abu Hanifah, Malik, dan Asy Syafi’i: “Yang mempunyai tumbuh-tumbuhan tidak boleh menghitung dulu belanja operasional yang telah dikeluarkan. Zakat langsung dihitung dari penghasilan bersih”.[2]

Sedangkan menurut Ibnu Umar r.a:

يُبْدَأُ بِمَا اسْتَقْرَضَ فَيَقْضِيْهِ وَيُزَكِّيْ مَا بَقِيَ

“Ia mulai dengan membayar utangnya dan ia zakati sisanya”.

Ibnu Abbas juga berpendapat senada:

يَقْضِيْ مَا أَنْفَقَ عِلَى الثَّمَرَةِ ثُمَّ يُزَكِّيْ مَا بَقِيَ

“Ia bayar apa yang telah ia keluarkan untuk belanja tumbuh-tumbuhan kemudian ia zakati sisanya.”

Jadi, menurut Ibnu Umar dan Ibnu Abbas biaya operasional dikurangkan dari penghasilan panen, kemudian dihitung zakatnya setelah dikurangkan biaya operasional tersebut.[3]

Namun jika kita ingin lebih berhati-hati, maka sebaiknya zakat itu dihitung dari penghasilan kotor.

Contoh:

Pak Dudung mempunyai kebun sayur-mayur seluas 10 ha, ketika panen, ia mendapatkan hasil sebanyak 5 ton, yakni seharga Rp 20.000.000,- (asumsi harga per Kg=Rp 4.000,-). Maka penghitungannya adalah sbb

Hasil Panen Kadar Zakat
5% 10%
5 ton =

Rp 20.000.000,-

5% x  20.000.000

=

Rp 1.000.000,-

10 % x 20.000.000 =

Rp 2.000.000,-

 

Zakat yang dikeluarkan bisa berupa hasil panen atau berupa uang tunai seharga kadarnya.

 

[1] Fathul Qadir, 2:6-7

[2] (Al-Majmu’ 5:578)

[3] (Al-Muhalla, 5:578)

 

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB