Zakat Fithri/zakat badan adalah zakat yang wajib dikeluarkan satu kali dalam setahun oleh setiap muslim mukallaf (orang yang dibebani kewajiban oleh Allah) untuk dirinya sendiri dan untuk setiap jiwa yang menjadi tanggungannya. Jumlahnya sebanyak satu sha’ (l.k 3,5 liter/2,5 Kg) perjiwa, yang didistribusikan pada tanggal 1 Syawal setelah shalat shubuh sebelum shalat Iedul Fithri.

Hukum Zakat Fithri

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى (الأعلى : 14-15)

“Sungguh berbahagialah orang yang mengeluarkan zakat (Fithrinya), menyebut nama Tuhannya (mengucap takbir, membesarkan Allah) lalu ia mengerjakan shalat (Iedul Fithri).” (Q.S. Al-A’la:14-15)

Menurut riwayat Ibnu Khuzaimah, ayat di atas diturunkan berkaitan dengan zakat Fithri, takbir hari raya, dan shalat ied (hari raya). Menurut Sa’id Ibnul Musayyab dan Umar bin Abdul Aziz : “Zakat yang dimaksudkan oleh ayat ini,adalah  zakat Fithri.”

Menurut Al-Hafidh dalam “Fathul Baari“: “Ditambah nama zakat ini dengan kata fithri karena diwajibkan setelah selesai mengerjakan shaum Ramadhan.” [1]

Lebih tegas lagi dalil tentang wajibnya zakat Fithri dalam sebuah Hadits yang diterima oleh Ibnu Abbas :

قَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ ص زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ طُهْرَةً للِصَائِمِ مِنَ اللَغْوِ وَالرَفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ

“Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan orang yang shaum dari segala perkataan yang keji dan buruk yang mereka lakukan selama mereka shaum, dan untuk menjadi makanan bagi orang-orang yang miskin.” (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Dengan hadits ini jelas dan tegaslah bahwa hukum membayar zakat Fithri itu fardhu (wajib) ditunaikan oleh umat Islam untuk membersihkan dan mensucikan diri serta membantu jiwa-jiwa yang kelaparan karena dibelit kemiskinan.

Hikmah disyari’atkan Zakat Fithri

Zakat Fithri disyari’atkan pada Bulan Sya’ban tahun kedua hijrah sebagai penyuci bagi orang yang shaum dari perbuatan ataupun perkataan yang sia-sia dan dari perkataan-perkataan keji yang mungkin telah dilakukan pada saat menjalankan ibadah shaum. Serta hikmah lainnya juga sebagai penolong bagi orang-orang miskin agar dapat merasakan kebahagiaan pada saat Iedul Fithri

Kadar (Prosentase/ukuran) Zakat Fithri

Adapun dalil banyaknya zakat Fithri itu satu sho’, adalah hadits berikut ini:

كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ

“Kami mengeluarkan (zakat Fithri) di zaman Rasulullah SAW pada Iedul Fithri sebanyak satu sha’ dari makanan” (H.R. Bukhari)

Sebuah Hadits diceritakan oleh Abi Sa’id Al-Khudry:

كُنَا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُوْلُ الله ص صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صًاعًا مِنْ شَعِيْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيْبٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ, فَلَمْ نَزَلْ عَلَى دلِكَ حَتَّى قَدِمَ عَلَيْنَا مُعَاوِيَةُ الْمَدِيْنَةَ فَقَالَ : إِنِيْ لَأَرَى مُدَّيْنِ مِنْ سَمْرَاءِ الشَامِ يَعْدِلُ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ فَأَخَذَ النَّاسُ بِذَلِكَ أَمَّا أَنَا فَلاَ أَزَالُ أُخْرِجُهُ كَمَا كُنْتُ أُخْرِجُهُ

“Adalah kami (para sahabat) di masa rasul SAW mengeluarkan zakat Fithri satu sha’ makanan atau satu sha’ tamar (kurma), atau satu sha’ sya’ir (padi Belanda), atau satu sha’ zabib (kismis), atau satu sha’ aqith (susu yang telah kering yang tidak diambil buihnya, atau semacam makanan yang terbuat dari susu, dimasak, sesudah itu dibiarkan dan lalu diletakkan di kain perca agar menetes ke bawah). Demikianlah kami berbuat hingga datang kepada kami Mu’awiyah di Madinah , maka ia berkata: Saya berpendapat bahwa dua mud gandum syam menyamai satu sha’ tamar. Setelah itu semua orang melakukan hal itu, sedangkan  aku tetap mengeluarkan seperti semula”.[2]

Hadits ini menyatakan bahwa kadar zakat fithar itu satu sha’ makanan. Pada hadits di atas makanan yang dimaksud adalah: tamar, sya’ir, zabib, dan aqith. Itulah jenis makanan yang dikeluarkan untuk zakat Fithri pada masa Rasulullah.

Zakat Fithri dengan uang

Pada dasarnya Rasulullah memberikan kebebasan bentuk zakat, termasuk zakat Fithri. Hal ini bisa kita simpulkan dari kalimat:

مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صًاعًا مِنْ شَعِيْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيْبٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ

satu sha’ makanan atau satu sha’ tamar (kurma), atau satu sha’ sya’ir (padi Belanda), atau satu sha’ zabib (kismis)…

Sebagian orang berpendapat bahwa zakat Fithri itu harus dengan makanan pokok berdasarkan hadits diatas. Padahal kalau kita lebih memperhatikan lebih mendalam hadits tersebut, ada beberapa hal yang dapat kita pertanyakan; kalimat min tha’am (dari makanan) apakah dapat disimpulkan makanan pokok? Apakah kurma dan kismis termasuk makanan pokok?. Penyebutan jenis-jenis makanan pada hadits di atas, tidak mesti dipahami secara tekstual, sehingga bisa disesuaikan dengan kondisi di masing-masing negara.

Ada sebuah Hadits tentang Mu’adz bin Jabal, bahwa beliau diwaktu menjadi gubernur Yaman, selalu meminta agar sya’ir (padi Belanda), dan jagung, diganti dengan pakaian atau baju. Beliau berkata:

اِئْتُوْنِيْ بِكُلِّ خَمِيْسٍ وَلَبِيْسٍ اَخُذُهُ مِنْكُمْ مَكَانَ الصَّدَقَةِ فَإِنَّهُ أَرْفَقُ بِكُمْ وَأَنْفَعُ لِلْمُهَاجِرِيْنَ

“Berilah kepadaku khamis dan labis (dua macam pakaian) sebagai ganti sya’ir dan jagung. Khamis dan Labis lebih berguna bagi Muhajirin dan Anshar di Madinah.” (H.R. Bukhari)

Berdasarkan keterangan di atas, maka membayar zakat Fithri atu zakat yang lainnya dengan uang seharga barang/makanan yang wajib zakat, adalah sah, dan tidak menyalahi syari’at.

 

Waktu Membagikan Zakat Fithri

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ  قَالَ فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَ الرَّفَثِ وَ طُعْمَةً لِلْمِسَاكِيْنِ فَمَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُوْلَةٌ, وَ مَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW mewajibkan zakat Fithri (untuk) membersihkan orang yang berpuasa dari omongan sia-sia dan perbuatan dosa; serta (sebagai) pemberian makanan bagi orang-orang miskin. Karena itu, siapa yang membagikannya sebelum shalat (iedul fithri) maka zakatnya diterima, dan siapa yang membagikannya setelah shalat, itu hanyalah dihitung sebagai shadaqah biasa (H.R. Abu Dawud, Ibnu Majah, Daruquthni)

Berdasarkan hadits di atas, para ulama sepakat bahwa mengeluarkan zakat Fithri itu waktunya sebelum Shalat Iedul Fithri. Namun mereka berbeda pendapat tentang makna sebelum (qobla). Ada yang memaknainya dengan sangat luas, sehingga dikeluarkan sejak tanggal pertama Bulan Ramadhan. Ada juga yang berpendapat Setelah Shalat Maghrib pada waktu malam Iedul Fithri. Ada juga yang berpendapat setelah shalat shubuh pada Iedul fithri sebelum Shalat Ied.

Penulis berpegang pada pendapat yang terakhir. Mengingat bahwa dalam bahasa hadits, khususnya yang mengenai ibadah, kata qobla (sebelum) ditujukan untuk waktu yang terdekat. Seperti Shalat Qobla Shubuh, tentu tidak dilakukan pada jam 22.OO malam, atau jam 01.00 dini hari, walaupun waktu seperti itu juga termasuk qobla (sebelum), tapi shalat qobla shubuh dilaksanakan setelah adzan shubuh berkumandang.

Oleh karena itu, yang dimaksud dengan “sebelum orang-orang pergi Shalat Ied“, itu berarti setelah shalat shubuh, karena itulah waktu ibadah yang terdekat dengan shalat Iedul Fithri.

Adapun mengenai sebuah riwayat dari Ibnu Umar yang berbunyi:

وَ كَانُوا يُعْطُوْنَهَا قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

“Para sahabat biasa menyerahkan zakat Fithri (kepada ‘amil) sehari atau dua hari sebelum hari raya.” (H.R. Bukhari)

Yang dimaksud dalam hadits di atas adalah para sahabat memberikannya kepada badan ‘amil zakat untuk dibagikan pada waktunya. Hal ini sesuai dengan perbuatan Ibnu Umar dan Rasulullah tidak pernah membagikan zakat Fithri kepada mustahik sebelum fajar pada hari raya. Lebih tegasnya lagi bisa dilihat dalam hadits di bawah ini:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِهِ ، فَيُقْسَمُ – قَالَ يَزِيدُ أَظُنُّ: هَذَا يَوْمَ الْفِطْرِ – وَيَقُولُ أَغْنَوْهُمْ عَنْ الطَّوَافِ فِي هَذَا الْيَوْمِ “

“Dari Ibn ‘Umar ia berkata: “Rasulullah SAW menyuruh untuk mengeluarkan zakat Fithri lalu dibagikan ­­­­­-Yazid berkata aku berpendapat bahwa pada hari ini- ‘Iedul Fitri- serta beliau lalu bersabda: Cukupknalah keperluan mereka dari berkeliling (untuk meminta-minta pada hari ini).” (H.R. Al-Jauzaani)

Yang Berkewajiban Mengeluarkan Zakat Fithri

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ، صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ: عَلَى الْعَبْدِ ، وَالْحُرِّ ، وَالذَّكَرِ ، وَالْأُنْثَى ، وَالصَّغِيرِ ، وَالْكَبِيرِ ، مِنْ الْمُسْلِمِينَ

 “Dari Ibn ‘Umar semoga Allah meridloi keduanya Ia telah berkata: Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat Fithri, yaitu mengeluarkan satu sha’ kurma, atau satu sha’ sya’ir (padi Belanda), atas hamba sahaya dan orang yang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang dewasa, dari segenap orang Islam….” (H.R. Bukhari-Muslim)

 

Dari hadits di atas, jelaslah bahwa zakat Fithri itu diwajibkan kepada setiap orang muslim yang sudah bernyawa, baik ia miskin ataupun kaya. Namun ada pengecualian bagi orang yang memang tidak memiliki apapun untuk diberikan. Yang wajib mengeluarkan zakat Fithri adalah orang yang mempunyai kelebihan dari sekadar keperluannya pada hari itu.

Adapun bagi yang belum memiliki harta sendiri seperti anak-anak, maka orang tuanyalah yang berkewajiban membayarkan zakat Fithrinya. Demikian pula apabila ada saudara kita yang tidak sanggup membayart zakat Fithri, alangkah baiknya kita sebagai saudara ikut membayarkan zakatnya, sehingga semakin memperkokoh jalinan ukhuwwah.

Mustahiq Zakat Fithri

Pendapat yang umum mengatakan bahwa mustahiq (orang yang berhak menerima) zakat itu ada 8 ashnaf (golongan/kelompok yaitu: Fakir, miskin amil, muallaf, pembebas budak, yang terlilit hutang, pejuang di jalan Allah, perantau yang kehabisan bekal ), sebagaimana yang tertera dalam Q.S. At-Taubah: 60. Namun Khusus untuk zakat Fithri ini, ada yang berpendapat bahwa mustahiqnya hanya fakir dan miskin. Mereka beralasan dengan hadits Ibnu Abbas seperti yang disebutkan di atas, bahwa zakat Fithri itu “thu’matan lil masaakin” (Sebagai Makanan bagi orang-orang miskin). Demikian pula ada beberapa keterangan dalam Kitab Zaadul Ma’ad yang menyebutkan bahwa nabi SAW memberikan zakat Fithri kepada fakir dan miskin saja.

 

Ungkapan Nabi SAW bahwa zakat Fithri itu “thu’matan lil masaakin”, bukanlah berarti hanya dikhususkan bagi fakir san miskin saja, namun hanya merupakan keutamaan saja. Seperti halnya mengenai zakat  maal, nabi mengatakan:

أَنَّ اللَّهَ قَدِ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ ، فَتُرَدَّ فِي فُقَرَائِهِمْ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ (

“Bahwasanya Allah telah mewajibkan Zakat Maal itu diambil dari orang-orang kaya diantara mereka  untuk dibagikan kepada orang-orang miskindiantara mereka juga.” (Muttafaq ‘Alaih)

Ungkapan itu ditujukan kepada Mu’adz bin Jabal yang diberi tugas khusus oleh Nabi sebagai amil zakat untuk mengambil zakat maal di negeri Syam. Namun sesuai dengan Q.S. At-Taubah: 60, zakat maal itu dibagikan kepada 8 ashnaf. Demikian pula kalau kita melihat sejarah bahwa zakat Fithri itu disyari’atkan pada Tahun kedua hijrah, sementara Q.S. At-Taubah: 60, turun jauh setelah tahun kedua hijrah. Dan sebelum ayat tersebut diwahyukan, semua zakat memang dibagikan hanya kepada fakir dan miskin.

Menurut Ibnu Qudamah: “Diberikan Shadaqah Fithri itu kepada mereka yang menerima shadaqah maal, karena shadaqah fithri dinamakan zakat juga. Karena itu membagi zakat Fithri sama dengan membagi zakat maal juga, dan masuk ke dalam ketentuan umum yang terdapat dalam Q.S. At-Taubah ayat: 60“.

Jadi, penyebutan thu’matan lil masaakin (makanan untuk orang miskin), dalam istilah ushul fiqh, disebut sebagai tanshish (penegasan yang menunjukan keutamaan/prioritas), bukan takhshish (pengkhususan). Sehingga dalam pembagian zakat Fithri, prioritas utamanya adalah fakir miskin, sebagai pemberian agar mereka bisa merasakan kebahagiaan ketika Iedul Fithri. Namun keutamaan itu tidak berarti menghilangkan hak ashnaf mustahiq yang lainnya.

Sumber: Buku Petunjuk Zakat Praktis

 

[1] (Nailul Authar, 4:250)

[2] Nailul Authar, 2:249

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB