Oleh:
Dr. Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum
Siapapun setuju bila zaman ini adalah musim peradaban Barat yang memiliki ciri dan nilai tersendiri, berbeda dengan peradaban lainnya, apalagi dengan peradaban Islam. Peradaban Islam sendiri sejak dua abad belakangan ini terlihat semakin menurun pamornya. Memang tengah ada upaya di kalangan kaum Muslim untuk memajukan kembali anasir-anasir peradaban Islam yang tenggelam digilas oleh peradaban Barat yang meraksasa belakangan ini. Usaha ini telah dilakukan dengan berbagai macam cara, walaupun hasilnya tentu Allah Swt. yang menentukan.
Dalam konteks pembangunan peradaban Islam kembali ini, perlu kita lihat peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan oleh umat Islam dan potensi yang bisa digali untuk memanfaatkan peluang-peluang tersebut hingga potensi melejitnya kembali peradaban Islam bukan sesuatu yang mustahil. Peluang, selain dapat ditemukan dalam realitas masyarakat, bisa juga ditemukan dengan mengenali potensi kelemahan atau kelemahan yang tampak dari pesaing. Bila saat ini pesaing peradaban Islam ini adalah peradaban Barat, maka kita coba untuk menggali potensi kelemahan dari peradaban Barat yang bisa dijadikan peluang oleh peradaban Islam untuk bisa bersaing dalam kontestasi perebutan supremasi peradaban dunia. Sala satu yang menjadi kelemahan peradaban Barat, tetapi jutsru menjadi tumpuan utama bagi perkembangannya adalah betumpu pada kekuatan ekonomi kapitalis.
Pengembangan peradaban, bagaimanapun membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk apa saja biaya-biaya pengembengan peradaban ini? Pertama, tidak ada peradaban yang berkembang tanpa ilmu pengetahuan. Penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan ini yang menghabiskan dana sangat besar. Mula-mula dana diperlukan untuk membiayai calon-calon ilmuwan mempelajari berbagai jenis ilmu dari jenjang yang paling rendah hingga jenjang yang paling tinggi, karena belajar butuh biaya besar. Mereka yang mengajar pun harus dibiayai pula. Besarannya pasti tidak kecil. Untuk menunjang pengajaran, dibutuhkan buku-buku hingga perlu biaya untuk menuliskan dan menerbitkan buku-buku. Para penulis sangat sulit menulis buku apabila tidak melakukan riset (penelitian). Biaya untuk penelitian pun bukan kecil. Selain menghabiskan waktu yang banyak untuk mempelajari subjek-subjek yang diteliti, sebuah penelitian memerlukan perangkat pendukung agar hasil-hasil penelitian akurat dan memadai secara ilmiah. Tentu saja, untuk melakukan penelitian ini harus ada ilmuwan yang secara khusus dibiayai agar terfokus pada pekerjaannya menghasilkan penemuan-penumuan baru (invention) yang akan menjadi bahan dasar para penulis menghasilakan buku-buku yang akan dibaca para guru dan diajarkan kepada murid-murid, calon-calon intelektual, dan aktor-aktor peradaban. Berapa jumlah dana yang harus disiapkan untuk proses ini? Pasti sangat besar. Semakin intensif dan semakin besarnya proses ini dilakukan, maka semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan.
Kedua, proses ilmu pengetahuan sebagai proses pembasisan peradaban harus dilanjutkan dengan proses berikutnya, yaitu mewujudkan infrastruktur yang dihasilkan dari riset-riset ilmiah. Pembangunan infrastruktur ini pasti akan membutuhkan biaya yang besar, apapun jenisnya. Infrastruktur yang dimaksud adalah semua sarana dan prasarana yang akan menjadi perwujudan suatu peradaban, baik fisik seperti gedung-gedung, jalan-jalan, alat-alat kebutuhan sehari-hari maupun non-fisik seperti sistem politik, sistem hukum, sistem sosial, manajemen, pendidikan masyarakat, dan sebagainya. Semuanya hanya dapat diwujudkan dengan pembiayaan yang besar. Biaya untuk ini bahkan akan lebih besar dibandingkan dengan biasaya pembasisan ilmu pengetahuan di atas. Akan tetapi, dalam proses kedua ini akan dirasakan lebih ringan disebabkan pada proses ini sudah ada nilai ekonomis yang bisa dihitung untung ruginya secara langsung.
Dengan apa perdaban Barat membiayai proses peradabannya, terutama pada proses pertama? Dalam sejarah kemunculan awal peradaban Barat-modern pada sekitar abad ke-15 yang berperan membiayai munculnya para ilmuwan di Barat dengan segala kebutuhannya adalah para pengusaha merkantilis (cikap bakal para kapitalis). Adalah keluarga pengusaha De Medici dan Savonarola di Italia yang sangat bersemangat membiayai orang-orang Eropa agar mereka belajar di universitas-universitas milik umat Islam di Andalusia. Disusul nanti oleh keluarga pengusaha-pengusaha lainnya yang sengaja mengeluarkan biaya besar untuk menyekolahkan calon-calon ilmuwan Eropa ke berbagai perguruan tinggi milik umat Islam. Sepulang ke Eropa, para ilmuwan inipun terus dibiayai untuk melakukan riset, menulis, dan mengajar oleh para pengusaha ini. Filantropi Eropa abad ke-15 dan 16 ini memang banyak diarahkan untuk mendidik calon ilmuwan dan membiayai riset serta penulisan buku para ilmuwan.
Kebiasaan ini terus bertahan hingga saat ini. Hanya saja, setelah munculnya negara-negara modern di Eropa, para pengusahi ini “dipaksa” melalui perundang-undangan untuk mengeluarkan dana khusus untuk membiayai pendidikan dan riset-riset di perguruan tinggi. Tidak sedikit pula perusahaan yang mendirikan universitas-universitas untuk kebutuhan riset perusahaan mereka secara khusus dan pengembangan ilmu pengetahuan modern pada umumnya. Kita akan mendapatkan banyak cerita tentang bagaimana sumbangan-sumbangan dalam jumlah sangat besar diberikan oleh para kepitalis pengusaha-pengusaha besar kepada universitas-universitas besar di Amerika dan Eropa untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena investasi yang besar dalam dunia riset dan pengembangan ilmu pengetahuan ini hingga saat ini, peradaban Barat masih terus bertahan hingga saat ini. Bahkan, kelihatannya hingga satu abad ke depan belum terlihat pesaingnya yang serius.
Mengapa ini disebut kekuatan yang sekaligus kelemahan? Dana para kapitalis ini disebut kekuatan disebabkan dengan dana yang kuat dari merekalah peradaban Barat hingga saat ini masih sanggup bertahan. Para kapitalis ini juga bersemangat untuk terus menyumbangkan dananya untuk pengembangan riset karena mereka pun medapatkan keuntungan dalam bentuk ilmu-ilmu baru untuk terus bertahan dan memperbaharui produk-porduk perusahan mereka agar tetap bisa menjadi “juara” di pasar masing-masing. Tanpa riset mereka sangat sadar bahwa apa yang mereka produksi akan mudah digilas zaman dan dikalahkan pesaing, karena para pesaing mereka pun selalu melakukan riset untuk memperbaharui produk-produk mereka agar lebih unggul dari yang lainnya.
Walaupun demikian, dalam kekuatannya ini justru tersimpan kelemahan yang mendasar, yaitu “keadilan sosial”. Betul bahwa kelihatannya peradaban Barat dapat tetap bertahan dalam kebaruannya, tetapi semakin bertahan dan semakin baru penemuan ilmu pengetahuan yang mereka hasilkan semakin kuat dan kokohlah akar, batang, dan tubuh kapitalisme. Gelombang sosialisme dan komunisme yang minus dukungan dana untuk pengembangan peradabannya pun tidak sanggup menantangnya. Ketika kapitalisme semakin kuat, maka pada saat yang sama gap (ketimpangan) ekonomi semakin besar dan semakin menganga lebar. Di satu sisi ada orang yang dengan sangat mudah menjadi sangat kaya; di sisi lain ada masyarakat dalam jumlah yang lebih banyak hidup dengan penghasilan yang sangat mengkhawatirkan. Sebagian besarnya hanya pas-pasan. Hingga saat ini, hampir sulit ditemukan rumus pemerataan ekonomi dan penjaminan keadilan sosial di negara-negara yang kapitalisme menjadi soko guru utama ekonominya. Bahkan, di negara-negara dengan sistem ekonomi kapitalis, peran negara seringkali lebih lemah di hadapan para kapitalis ini. Oleh sebab itu, usaha-usaha untuk mencoba melakukan pemerataan akses ekonomi dan penjaminan keadilan sosial selalu berbenturan dengan kepentingan para kapitalis yang tertanggu dengan segala program pemerataan dan keadilan ini.
Mungkin di suatu negara maju di Eropa seperti Inggris, Prancis, Jerman, Amerika, dan beberapa lainnya terlihat ekonomi di negara tersebut maju. Kebutuhan hidup warganya terjamin; bahkan ada negara yang sanggup membiayai para pengangguran selama mereka belum mendapatkan pekerjaan. Akan tetapi berapa banyak negara yang sanggup melakukan hal seperti ini? Tidak terlalu banyak. Bahkan di Eropa sendiri banyak negara yang miskin! Negara-negara miskin di Eropa tidak sanggup melakukan apa yang dilakukan negara-negara maju. Sekedar untuk bertahan dari kebangkrutan saja negara-negara miskin Eropa ini harus berjibaku mati-matian mengandalkan sisa-sisa kekuatan yang mereka miliki. Dalam situasi seperti ini, jangankan untuk mengembangkan riset-riset berbiaya super besar sekedar mempertahankan ekonomi jangan goyah hingga masyarakat tidak kelaparan pun sudah sangat baik. Yunani, Spanyol, Italia, Maldova, dan banyak negara Eropa lainnya adalah contoh dari negara-negara miskin yang tidak berdaya secara ekonomi yang berimplikasi juga pada ketidakmampuan mereka dalam melakukan riset demi kemajuan peradaban mereka sendiri.
Negara-negara miskin di Eropa saja pada akhirnya hanya menjadi pasar bagi produk-produk kapitalis yang sanggup membiayai dirinya dan negaranya untuk melakukan banyak riset. Pada umumnya negara yang hanya berperan sebagai pasar produk-produk hasil olah peradaban negara-negara dengan sokongan dana kapitalis yang besar tidak dapat menjadi “aktor” dalam peredaban ini. Hanya saja, karena posisi negara-negara di Eropa secara ideologi hampir mirip, baik yang kaya maupun yang miskin, maka peradaban Barat yang walaupun dikembangkan oleh negara-negara tertentu saja masih dapat diklaim oleh hampir seluruh negara yang sama-sama berhaluan sekuler.
Dari sini saja sudah terlihat lemahnya peradaban Barat ini. Satu-satunya penopang peradaban adalah kekuatan kapitalisme, karena para kapitalislah yang paling diuntungkan dengan berkembangnya berbagai produk peradaban. Merekalah yang akan sanggup mengkomodifikasi hasil-hasil penemuan peradaban itu menjadi produk-produk bernilai ekonomi. Karena posisi negara berada di bawah kendali mereka, para kapitalis ini juga bisa memanfaatkan negara untuk tidak memberikan peluang kepada siapa saja yang mengganggu kepentingan ekonomis mereka. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila peradaban yang berkembang di Barat hanyalah aspek-aspek peradaban yang dapat menghasilkan keuntungan ekonomi. Aspek-aspek peradaban yang tidak ada nilai ekonominya kurang mendapat perhatian. Bahkan, bila menghambat laju kepentingan ekonomi mereka, bisa jadi tidak boleh tumbuh da berkembang.
Semakin berkembangnya peradaban Barat, justru semakin memperdalam jurang antara kaum kapitalis dengan masyarakat kebanyakan. Masyarakat pada umumnya hanya bisa hidup hanya mengandalkan menjadi bagian dari kapitalisme. Mereka umumnya tidak sanggup hidup melebihi kaum kapitalis ini. Alhasil sumbangan mereka terhadap peradaban pun sangat kecil. Kalaupun di antara masyarakat umum ini ada yang menjadi ilmuwan, periset, dan semisalnya; bila ingin hidup nyaman dan normal harus bekerja di bawah visi para kapitalis di perusahaan-perusahaan mereka. Bahkan perguruan tinggi yang menyediakan lembaga-lembaga riset pun, bila ingin mendapatkan support keuangan untuk menjamin kehidupan lembaga-lembaga riset ini harus banyak memberikan pelayanan riset untuk kepentingan kapitalis. Inilah yang menyebabkan independensi perguruan tinggi dalam merancang peradaban yang lebih mulia bagi kemanusiaan menjadi semakin terkikis. Pengembangan ilmu pengetahuan dan riset, bukan lagi untuk tujuan kemanusiaan, melainkan untuk kepentingan usaha para kapitalis.
Situasi semacam ini dalam jangka panjang pasti akan berkontribusi besar bagi kerusakan kehidupan manusia, baik kerusakan lingkungan tempat manusia hidup maupun kerusakan kehidupan manusia sendiri secara fisik dan spiritual. Lalu bagaimana dengan peradaban Islam? Peluang apa yang bisa dimanfaatkan oleh umat Islam untuk menyaingi peradaban berbasis kapitalisme ini? Jawabannya akan dilanjutkan pada tulisan bagian berikutnya pada edisi yang akan datang.
Wallâhu A’lam bis Shawwâb

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB