Rizal Nazihudin, S.Sos

 

Menjadi Mudlohi (orang yang berkurban) itu tidak harus menunggu kaya dulu, atau karena kita seorang yang dermawan, juga bukan karena iba melihat penderitaan orang lain. Tapi keinginan menjadi Mudlohi (orang yang berkurban) itu dikarenakan ingin melaksanakan keta’atan kepada Allah untuk menyempurnakan ke-Islaman kita.

Tak lama lagi Idul Adha akan tiba. Idul Adha atau yang sering kita sebut iedul qurban, di hari tersebut umat muslim seluruh dunia melaksanakan ibadah haji. Adapun yang belum bisa melaksanakan rukun Islam yang kelima, yaitu Ibadah Haji disunnahkan melaksanakan Ibadah Kurban bagi yang mampu.

Ibadah Kurban ialah hewan yang disembelih pada hari Idul Adha (Iedul Qurban) dari hewan yang telah ditentukan oleh syari`at ini sebagai bukti pendekatan diri kepada Allah Ta`ala, (dan dikatakan sebab dinamakan dengan demikian karena ia disembelih di waktu Ad Dhuha; waktu matahari mulai naik). Lihat: al-Majmuu` oleh Al Imam An Nawawiy (8/382).

Menyembelih kurban merupakan amalan yang disukai oleh Allah Swt. Ibadah Kurban pun sebagai bukti keimanan serta keikhlasan kita dalam menghidupkan syi‘ar agama Islam. Ini jelas dipahami dari firman-Nya:

Daging dan darah binatang kurban atau hadyi itu tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya ialah amal yang ikhlas yang berdasarkan takwa dari pada kamu”. (Surah Al-Hajj: 37)

Ajaran berkurban yang datangnya dari Allah Swt, merupakan sebuah ajaran yang agung, yang membuktikan kedekatan sang hamba kepada Rab-nya, sebuah proses pendakian yang suci menuju Allah Yang Mahaagung, Pencipta langit dan bumi, Pemilik alam semesta dan segala isinya. Itulah mengapa istilah yang dipakai adalah “qurban” yang maknanya berarti pendekatan.

Pada dasarnya, hakikat “qurban” merupakan salah satu ujian dari Allah, yang dengannya setiap mukmin bisa mengukur hakikat keimanannya, hakikat ketaatannya kepada perintah Allah, hakikat kedekatannya kepada Allah. Atau dengan kata lain, sejauh mana tingkat kepasrahan seorang hamba kepada Allah Swt., sejauh mana tingkat ketaatannya kepada-Nya, serta sejauh mana tingkat ketabahannya dalam menjalani ajaran yang telah Allah tetapkan.

Allah Swt. memerintahkan kepada segenap kaum mukminin agar saling tolong menolong dalam berbuat kebajikan dan ketakwaan. Sebagaimana Firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 2 yang menyebutkan:

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan ber­takwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Di antara syariat yang Allah tetapkan kepada kita ialah Ibadah Kurban. Allah berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 34, “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”.

Dari Abi Hurairah r,a,, ia ber­kata: Bersabda Rasulullah saw.:

(من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا)

Barang siapa yang mem­punyai kelapangan dalam rezekinya namun dia tidak berkurban, maka jangan sekali kali dia men­dekati tempat salat kami (lapangan).” (HR Ahmad, Ibnu Maajah, Al Haakim, dan selain dari mereka)

Hadist tersebut hasan sebagaimana diterangkan dalam Sahih Sunan Ibnu Maajah oleh al-Albaaniy rahimahullah Ta`ala (2/199).

Sisi pentafsiran hadist ini: bahwasanya larangan Nabi saw. terhadap orang yang mempunyai kemampuan untuk menyembelih hewan kurban akan tetapi dia tidak menyembelihnya, menunjukan bahwa orang tersebut telah meninggalkan sesuatu yang wajib, seolah-olah tidak ada faedahnya kalau dia mendekatkan diri pada hari itu sementara dia meninggalkan satu kewajiban. (Nailul Authaar: 5/199)

Adapun pandangan jumhur (kebanyakan) ulama adalah sunnah muakkadah. Berkata al-Imam Ahmad dalam satu riwayat yang lain darinya: “Dibenci untuk ditinggalkan jika dia mampu” dan dari Muhammad bin Al Hasan, “Ini merupakan sunnah tidak diberi keringanan untuk meninggalkannya”. Salah satu pandangan dari al-Imam as-Syafi`I: “Perbuatan ini merupakan bahagian dari fardhu al-Kifaayah.” Lihat: al-Fathu, oleh al-Hafidz Ibnu Hajar (10/2), Al Majmuu`, oleh an-Nawawiy (8/385).

Yang sahih/rojih dalam masalah ini ialah; bahwa hukum kurban adalah wajib atas setiap muslim yang baligh, muqim, dan mampu.Dengan demikian, setiap ibadah dalam Islam dituntut untuk memenuhi dua perkara agar ibadah tersebut menjadi ibadah yang benar dan diterima oleh Allah sebagai bentuk ketaatan hamba kepada Khalik. Dua perkara itu adalah lurusnya niat dan tepatnya kaifiat (tata cara) dari ibadah tersebut.

Demikian pula halnya dengan Ibadah Kurban, yang di dalam al-Qur’an disebut dengan beberapa istilah, yaitu:

Pertama, Kurban dikatakan Kurban karena manusia menyerahkan sesuatu kepada Pencipta dengan maksud agar sesuatu tersebut dapat lebih mendekatkan dirinya dengan sang Pencipta.Biasanya sesuatu yang dipersembahkan itu adalah dari hasil jerih payah manusia, dalam arti berupa binatang yang disembelih.

Kedua, disebut dengan nusuk yang artinya ibadah, sembelihan. Maka kata an-nasiikah diartikan peribadahan yang dikhususkan dengan sembelihan.

Ketiga, an-Nahr, artinya sembelihan.

Dari penggunaan ketiga kata tersebut, dari segi pelaksanaan Ibadah Kurban itu, ada yang namanya sembelihan (adz-dzabhu). Adapun tujuannya ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Setiap mudhahhi/qurbani hendaknya meluruskan niat Ibadah Kurbannya semata-mata mencari keridaan Allah, menunaikan keta’atan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta jangan diniatkan selain dari itu. Bisa jadi, timbul ria dan kesombongan dalam berkurban dengan merasa paling segalanya. Padahal, justru sikap itulah yang harus pertama kali disembelih dalam berkurban.

kalaulah hanya sekedar mengejar dampak dan pengaruh dari Ibadah Kurban itu sendiri, jika sekedar hikmah, bisa jadi orang akan berpikiran tidak usah menyembelih hewan kurban. Kalau sekedar untuk membagi-bagi daging, lebih mudah beli daging ke pasar, harganya lebih murah dibanding beli hewan hidup, tidak usah sibuk menyembelih dan mengolah. Atau lebih praktis lagi tinggal pergi ke super market, beli kornet lalu dibagikan ke tetangga yang miskin atau para korban bencana alam.

Dan jika yang dikejar adalah kesejahteraaan, maka tidak usah menyembelih kambing atau sapi, uangnya dikumpulkan lalu dibuat lahan usaha yang besar yang menyerap tenaga kerja yang banyak. Karena ternyata nilai ekonomis dari kurban itu sungguh fantastis, dalam kurun waktu 4 hari (Idul Adha dan hari Tasyrik) omset kurban bisa mencapai ratusan miliar, bahkan menembus angka triliunan.

Dan apabila kita ingin mengejar dampak, pengaruh, dan hikmah dari ibadah kurban, lakukanlah setelah kita menunaikan ibadah kurban secara syar’i sebagi bukti kemabruran Ibadah Kurban kita, karena masih banyak lahan ibadah di sekitar kita yang membutuhkan pengurbanan kita, baik dalam bentuk harta maupun jiwa kita.

Maka dalam kesempatan ini Pusat Zakat Umat (PZU), sebagai lembaga zakat yang menjadi wasilah (perantara) penyambung antara mudlohi (orang yang berkurban) dan mustahik (penerima manfaat kurban) membuka selebar lebarnya titipan hewan kurban untuk umat.

PZU pada program Qurban Super Barokah 1441H dengan mengusung ”Menjangkau Pelosok Menebar Berkah Sesuai Syariat” mempunyai cita-cita dan target besar untuk mendistribusikan ke beberapa wilayah yang minim kurban dan daerah konflik kemanusiaan, serta yang masih terdampak Covid-19.

Selain di berbagai pelosok wilayah Indonesia, di antara wilayah yang akan menjadi target PZU adalah Palestina, Suriah, Sudan, Mesir dan daerah-daerah yang menjadi binaan PZU, insya Allah.

Menjadi Mudlohi (orang yang berkurban) itu tidak harus menunggu kaya dulu, atau karena kita seorang yang dermawan, juga bukan karena iba melihat penderitaan orang lain. Tapi keinginan menjadi Mudlohi (orang yang berkurban) itu dikarenakan ingin melaksanakan keta’atan kepada Allah untuk menyempurnakan ke-Islaman kita.

Semoga kita istiqamah dalam berbuat baik, wallaahu A’lam bish Shawwaab.

 

Bersihkan Harta Dengan Zakat

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB