Kali ini tulisan ustadz KH. Aceng Zakaria Mengulas Tentang Zakat Fithri. Kapan harus mengeluarkan dan mendistribusikan uang zakat fithri? siapa saja yang wajib mengeluarkahn zakat Fithri?

cekidot aja lah.

Kh. Aceng Zakaria

 

 

  1. Apa yang dimaksud dengan Zakat Fithri ?

 

Zakat menurut bahasa artinya; berkembang atau tumbuh, berasal dari kata گا – يزگو artinya نما ينمو ialah berkembang.

 

Ada juga Zakat dengan artian; bersih, berasal dari asal kata; زكى – يزكي – تزكية Dengan pengertian ini maka Zakat berfungsi untuk membersihkan harta dari kemungkinan usaha usaha yang tidak jelas kehalalannya. Juga berfungsi untuk membersihkan jiwa dari sifat kikir atau rakus.

 

Tetapi sepanjang istilah yang terdapat dalam hadits tidak terdapat dengan sebutan Zakat Fitrah, tetapi dengan ungkapan; صدقة الفطر (Shadaqah al-Fitr)  yaitu Zakat disebabkan berbuka puasa karena Fithri artinya berbuka. Dengan demikian, maka Shadaqah al-Fithri itu artinya Shadaqah atau Zakat disebabkan berbuka puasa, yaitu biasanya kita berpuasa sekarang berbuka yaitu pada hari raya Idul Fitri yaitu tanggal 1 Syawwal.

 

Sama halnya dengan ungkapan ‘idul Fitri suka diterjemahkan kembali kepada fitrah. Padahal asal artinya kembali berbuka pada hari yang biasanya berpuasa.

 

Sementara arti Fithrah itu ialah:

 

الجبلة المتهيئة لقبول الدين

 

“Watak atau bakat yang siap untuk menerima agama.”

 

Artinya agama itu adalah aturan-aturan yang cocok dengan fitrah manusia. Tidak mungkin ada aturan aturan agama yang bertentangan dengan fitrah manusia.

 

Dengan demikian maka arti Fitrah dan Fithri itu berbeda. Fithri artinya berbuka puasa. Sedangkan Fitrah artinya kecocokan untuk menerima agama.

 

  1. Bagaimana hukum mengeluarkan Zakat Fithri?

 

Tidak terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama bahwa hukum mengeluarkan Zakat Fithri itu wajib. Hal ini berdasarkan hadits di bawah ini:

 

Dari Ibnu Umar r.a, ia berkata: “Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fithri satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari sya’ir (kacang) atas seorang hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, yang kecil (anak-anak) atau yang dewasa dari kalangan orang yang muslim.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

 

Dari hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa:

 

  1. Hukum Zakat Fitrah itu wajib.

 

  1. Ukuran mengeluarkannya ialah satu sha’ yakni kurang lebih 2,5 Kg atau 3 liter.

 

  1. Jenis bahan makanannya ialah: kurma, syair. Dan di hadits yang lain disebutkan juga gandum atau bur atau makanan pokok yang lainnya seperti beras atau jagung.

 

  1. Orang yang wajib dikeluarkan Zakat Fitrahnya ialah:

 

  1. Orang merdeka atau hamba sahaya.

 

  1. Laki-laki atau perempuan.

 

  1. Anak kecil atau yang dewasa dari kalangan orang Islam.

 

Dalam hal ini tentu saja hamba sahaya dikeluarkan zakatnya oleh majikannya, anak kecil dikeluarkan zakatnya oleh orang tuanya.

 

Untuk kondisi di Indonesia, berarti pembantu rumah tangga pun harus dikeluarkan zakatnya oleh majikannya.

 

  1. Mestikah bayi yang masih dalam kandungan dikeluarkan Zakatnya?

 

Bayi yang masih dalam kandungan ibunya dari mulai 0-4 bulan belum bisa dianggap manusia hidup karena belum ditiupkan ruh kepadanya. Tetapi dari usia 4 bulan dari mulai ditiupkan ruh sudah bisa dianggap manusia hidup. Organ tubuhnya sudah sempurna dan sudah bisa dianggap bernyawa.

 

Oleh karenanya wajib dikeluarkan Zakat Fitrahnya. Hal ini berdasarkan hadits-hadits di bawah ini:

 

Dari Abu Qilabah ia berkata: “Sungguh menjadi perhatian bagi mereka (para sahabat) untuk mengeluarkan Zakat Fithri dari anak kecil dan dari yang dewasa bahkan dari anak (bayi) yang dalam kandungan ibunya.” (H.R. ‘Abdu al-Razzaq)

 

“Sesungguh Nya Sayyidina Utsman Bin Affan suka mengeluarkan Shadaqah Fithri dari anak kecil dan dari orang yang dewasa dan juga dari bayi masih dalam kandungan ibunya.” (H.R. Ahmad)

 

Dari Sulaiman Bin Yasar; “la pernah ditanya tentang bayi yang masih dalam kandungan ibunya, apakah mesti dikeluarkan Zakatnya? la menjawab: Ya.” (al-Muhalla, 6:132)

 

Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut di atas maka bayi yang masih dalam kandungan ibunya dari mulai ditiupkan ruh hendaklah dikeluarkan Zakat Fithrinya. Tetapi jika bayi itu telah mati dalam kandungan ibunya sebelum melahirkan maka tentu tidak wajib dikeluarkan Zakat Fithrinya.

 

Untuk perbandingan:

 

  1. Membunuh anak itu terlarang berdasarkan firman Allah SWT:

 

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ…

 

janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin..” (Q.S. al-An’am: 151)

 

Yang termasuk membunuh itu bukan saja setelah lahir tetapi masih dalam kandungan pun termasuk membunuh dari mulai sudah ada ruhnya.

 

Para ulama pun sepakat bahwa itu termasuk membunuh. Sedangkan sebelum ada ruhnya tidak termasuk membunuh tetapi termasuk merusak keturunan. Dan hal itu pun terlarang tetapi tidak termasuk kategori membunuh.

 

  1. Anak yang baru lahir setelah orang tuanya meninggal. Itu pun mendapatkan warisan dari orang tuanya, karena itu pun termasuk anaknya dan keturunannya.

 

Demikianlah sebagai perbandingan bahwa anak yang masih dalam kandungan pun wajib dikeluarkan Zakatnya asal sudah hidup atau bernyawa.

 

  1. Mestikah pembantu rumah tangga (PRT) dikeluarkan Zakat Fithrinya?

 

Dalam hadits yang telah lalu dinyatakan hamba sahaya pun wajib dikeluarkan Tentu saja ini adalah kewajiban majikannya karena hamba sahaya itu adalah miliknya.

 

Demikian juga pembantu rumah tangga wajib dikeluarkan Zakatnya oleh majikannya.

 

  1. Bagaimana ukuran nishab mengeluarkan Zakat Fithri?

 

Sebetulnya tidak terdapat ketentuan nishab dalam mengeluarkan Zakat Fithri. Tetapi siapa saja yang kira-kira mampu menurut dirinya untuk mengeluarkan Zakat Fithri, maka ia wajib mengeluarkannya. Dan tentu saja setiap orang yang beriman akan berusaha untuk dapat mengeluarkan Zakat Fithri mengingat keutamaannya begitu besar yaitu dapat membersihkan atau menutupi kekurangan-kekurangan shaum dari perbuatan sia-sia atau ucapan-ucapan yang kotor.

 

  1. Bolehkah orang yang mengeluarkan Zakat Fithri menerima bagian Zakat Fithri?

 

Mustahik Zakat Fithri itu ada delapan, di antaranya: fakir, miskin dan ‘amilin. Maka ‘amilin wajib mengeluarka Zakat Fithrinya, dan pun boleh menerima Zakat Fithri sebagai hak ‘amilin.

 

Demikian juga jika orang yang miskin yang mampu mengeluarkan Zakat Fitrahnya, ia wajib mengeluarkan Zakatnya. Dan ia pun boleh menerima bagian Zakat Fithri dari panitia sebagai hak fakir, miskin karena ukuran miskin itu tentu saja tidak diukur dengan kebutuhan satu hari saja, tetapi diukur dari kebutuhan sehari-hari dimana ia menurut panitia tergolong orang yang miskin.

 

  1. Siapa saja Mustahik Zakat Fithri itu?

 

Menurut al-Qur’an mustahik Zakat itu ada delapan yaitu sebagaimana dalam ayat di bawah ini:

 

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

 

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. at- Taubah: 60)

 

Berdasarkan ayat al-Qur’an ini, berarti mustahik Zakat itu ada delapan termasuk mustahik Zakat Fithri karena dalam ayat tersebut diungkapkan dengan lafadz; انما الصدقات (sesungguhnya zakat- zakat itu). Secara umum berarti Zakat apapun baik Zakat pertanian, perdagangan, emas dan perak termasuk Zakat Fithri mustahiknya adalah delapan asnaf (bagian).

 

Memang ada yang berpendapat bahwa Zakat Fithri itu hanya untuk fakir dan miskin saja tidak untuk mustahik yang lainnya mengingat ada takhshish (pengecualian) dalam hadits sebagai berikut:

 

Dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata: “Rasulullah SAW telah mewajibkan Zakat Fitrah sebagai pembersih bagi yang shaum dari perbuatan sia-sia dan ucapan yang kotor dan sebagai makanan bagi orang orang yang miskin.” (H.R. Abu Dawûd)

 

Ungkapan طعمة للمساكين dianggap sebagai takhshish (pengecualian) yang berarti Zakat Fithri itu khusus untuk orang yang miskin saja tidak untuk mustahik yang lainnya.

 

JAWAB:

 

Ungkapan; طعمة للمساكين tidak berarti takhshish. Sama halnya dengan ungkapan; طهرة للصاءم , tidak berarti takhshish bahwa Zakat Fithri itu khusus untuk yang shaum saja, karena anak kecil pun yang tidak shaum wajib dikeluarkan Zakat Fitrahnya. Demikian juga yang nifas yang tidak shaum wajib dikeluarkan Zakat Fithrinya. Ungkapan; طعمة للمساكين itu bukan takhshish tetapi تنصيص (penegasan), penekanan atau prioritas.

 

Dalam hal Zakat mâl juga diungkapkan;

 

“Zakat itu diambil dari hartawan muslimin kemudian diserahkan kepada fuqara muslimin.”

 

Ungkapan ini tidak berarti bahwa Zakat itu khusus untuk yang fakir saja.

 

  1. Berapa bagian ‘Amilin; apakah harus 1/8 atau boleh kurang dari 1/8?

 

Mustahik Zakat itu ada delapan asnaf. Dalam pembagiannya tidak mesti satu asnaf mendapat- kan 1/8 dan tidak mesti dibagi rata untuk delapan asnaf. Kenyataannya hamba sahaya tidak muallaf tidak ada di setiap kampung. Demikian juga ibnu sabil tidak selamanya ada. Oleh karena i pembagiannya tergantung asnaf mana yang sangat membutuhkan atau asnaf mana BWs neea yang harus diprioritaskan. Hal ini tergantung kebijakan dan per timbangan para pengelola Zakat. Demikian juga hak ‘amilin tidak mesti 1/8 tetapi tergantung kebijakan pengurus.

 

Imam Malik memfatwakan:

 

 

“Tidak ada bagi ‘amil zakat bagian yang ditentukan (besarnya) kecuali menurut pertimbangan imam.” (al-Muwaththa’, 1:257)

 

  1. Apa yang dimaksud dengan Fi Sabilillah?

 

Dalam tafsir al-Manar dijelaskan:

 

Yang benar! yang dimaksud dengan Sabilillah itu dan ialah seluruh kepentingan umat Islam secara umum yang dengannya dapat tegak urusan agama dan negara.” (al-Manar, 10:576)

 

Demikian juga al-Marâghi dalam tafsirnya menyatakan:

 

 

“Termasuk ‘Fi Sabilillah’ seluruh jalan kebaikan, seperti kebutuhan kain kafan bagi yang meninggal, membangun jembatan, membuat benteng keamanan, memakmurkan masjid dan yang lainnya.” (al Maraghi, 10: 145)

 

Dengan demikian yang dimaksud dengan Fi Sabilillah itu adalah seluruh kepentingan agama baik itu membangun pesantren, mesjid atau perpustakaan.

 

  1. Bolehkah mengeluarkan Zakat Fithri dengan uang ?

 

Para ulama masih berbeda pendapat tentang mengeluarkan Zakat Fithri dengan uang. Sepihak berpendapat tidak boleh mengeluarkan Zakat Fithri dengan uang dan dianggap menyalahi sunnah karena yang berlaku di zaman nabi, mereka (para sahabat Nabi) senantiasa mengeluarkan Zakat Fithri itu dengan jenis makanan seperti kurma, gandum atau sya’ir.

 

Pihak yang lainnya berpendapat bahwa boleh saja mengelularkan Zakat Fithri dengan uang senilai satu sha’ dari makanan, mengingat:

 

“Bahwa para sahabat membolehkan mengeluarkan Zakat dengan setengah sha’ dari gandum karena mereka menilai setengah sha’ dari gandum itu senilai dengan satu sha’ kurma atau sya’ir.” (Fiqh al-Zakât, 2: 949)

 

Dari Abi Ishaq, ia berkata: “Aku mendapatkan mereka mengeluarkan Zakat Ramadhan (Fitrah) dengan uang dirham senilai (satu sha’) makanan.” (Fiqh al-Zakat, 2; 949)

 

 

Karena sabda Nabi SAW: “Cukupkanlah mereka (yang miskin) agar tidak meminta-meminta di hari ini (hari raya).”

 

“Dan (pengertian) memberi kecukupan bisa terjadi dengan memberikan nilai (uang) seperti halnya dengan memberikan makanan bahkan kadang-kadang dengan uang lebih utama.” (Fiqh al-Zakât, 2: 939)

 

Kemudian kalau memberikan Zakat dengan dinilai tidak manshûsh (tidak berdasarkan nash), sebetulnya Zakat Fithri dengan beras juga tidak ada nashnya karena di zaman Nabi mereka mengeluarkan Zakatnya dengan kurma, gandum dan sya’ir. Berarti mengeluarkan Zakat Fithri dengan beras juga adalah hasil ijtihad.

 

  1. Kapan waktu mengeluarkan Zakat Fithri?

 

Dalam hal mengeluarkan Zakat Fithri, para ulama berbeda pendapat sehingga terdapat 5 pendapat:

 

  1. Boleh mengeluarkan Zakat dimulai dari tanggal satu ramadhan.

 

  1. Boleh dikeluarkan dua atau tiga hari sebelum hari raya.

 

  1. Dimulai dari terbenam matahari pada malam hari raya.

 

  1. Setelah terbit fajar shiddiq sampai sebelum melaksanakan ‘Idul Fithri.

 

  1. Boleh setelah hari raya tetapi makruh.

 

Dari kelima pendapat tersebut di atas, pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa waktu mengeluarkan Zakat Fitrah itu adalah setelah terbit fajar shiddiq sampai sebelum melaksanakan Idul Fitri, mengingat:

 

Dari Ibnu ‘Abbas r.a, berkata: “Rasulullah telah mewajibkan Zakat Fitrah sebagai pembersih bagi yang puasa dari perbuatan sia-sia dan kotor dan (merupakan bantuan) makanan bagi orang miskin, maka siapa yang mengeluarkannya sebelum shalat (‘id), maka itulah Zakat yang diterima dan barang siapa yang mengeluarkannya setelah shalat id, maka hal itu hanya menjadi shadaqah biasa.” (H.R. Abu Dawûd)

 

Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata: “Kami suka mengeluarkan Zakat di masa Nabi satu sha’ makanan di hari raya fitri” (H.R. Bukhari, Tajrid al Sharih, 1: 204)

 

“Adapun yang dinamakan ‘Hari” itu ialah mulai dari terbit fajar shidiq, dan andaikan boleh mengeluarkan Zakat sejak malam hari. (mengingat perhitungan hari dari maghrib), berarti boleh mandi jum’at sejak malam hari (karena telah terhitung hari jum’at), padalah mengenai hal ini tidak ada yang berpendapat demikian.”

 

Karena ada qaidah: “Keluar dari ikhtilaf itu dianjurkan.”

 

Maksudnya, jika terdapat beberapa pendapat, maka pilih pendapat yang tidak diperselisihkan lagi. Dalam hal ini mengeluarkan Zakat Fitrah setelah subuh sampai sebelum shalat Idul Fitri tidak terdapat perselisihan kalangan para ulama mengenai keabsahannya. Artinya menurut semua pihak mengeluarkan Zakat pada waktu tersebut itu sah. Lain halnya dengan pendapat yang lainnya yang masih terdapat perbedaan pendapat mengenai sah dan tidaknya. (Untuk lebih jelasnya silahkan baca buku al-Hidayah jilid 3)

 

  1. Bolehkah anak yatim diberi Zakat ?

 

Anak yatim tidak termasuk daftar mustahik Zakat karena tidak selamanya anak yatim itu miskin, tetapi banyak juga anak yatim yang kaya. Anak yatim yang kaya wajib mengeluarkan Zakat. Dan anak yatim yang miskin ada hak untuk menerima Zakat. Berarti anak yatim boleh diberi Zakat bukan karena yatimnya tetapi karena miskinnya.

 

  1. Mestikah yang miskin mengeluarkan Zakat Fithri ?

 

Yang wajib mengeluarkan Zakat Fithri itu adalah setiap muslim yang mampu untuk mengeluarkan sebanyak kurang lebih 2,5 kg beras. Tentu saja yang terhitung yang miskin pun banyak yang mampu untuk mengeluarkan senilai itu, apalagi di hari raya mereka juga membeli pakaian baru, membeli daging dan makanan yang lainnya.

 

Tentu saja setiap muslim akan berusaha untuk dapat mengeluarkan Zakat Fithri apalagi kalau melihat hikmah dari Zakat Fithri itu dapat membersihkan puasa dari kekurangan-kekurangan yang mungkin dilakukan selama berpuasa seperti ucapan kotor atau perbuatan sia-sia yang akan mengurangi kesemournaan puasa.

 

Dalam satu hadits dijelaskan:

 

Dan dari Abi Hurairah tentang kewajiban Zakat Fitrah yaitu: “Wajib atas setiap yang merdeka dan hamba sahaya, laki-laki atau perempuan, anak kecil atau yang dewasa, yang faqir ataupun yang kaya. Ini adalah ucapan Abi Hurairah tetapi hal yang seperti ini tidak mungkin atas dasar pendapatnya sendiri.” (Fiqh al-Zakât, 2: 924)

 

Ini menunjukkan bahwa Zakat Fithri itu wajib atas setiap orang termasuk yang miskin.

 

  1. Bagaimana kalau satu keluarga itu ada 10 orang dan hanya mampu mengeluarkan Zakat untuk lima orang?

 

Allah SWT berfirman:

 

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها

 

“Allah tidak akan membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya.” (Q.S. al-Baqarah: 286)

 

Dengan demikian, keluarkan saja Zakat dari sejumlah orang yang mampu ia keluarkan Zakatnya lamanya jika mampu mengeluarkan untuk lima orang maka keluarkanlah sejumlah itu, dan ia tidak berdosa karena memang di luar kemampuannya.

 

  1. Bolehkah orang yang miskin yang mampu mengeluarkan Zakat Fithri menerima pembagian Zakat Fithri dari panitia ?

 

Kriteria fakir atau miskin tidak diukur dari kenyataan pada hari-hari tertentu. Seperti pada hari raya, orang yang miskin pun memiliki kecukupan untuk kebutuhannya padahal pada hari-hari biasanya ia sering mengalami kekurangan dan terhitung orang fakir atau miskin. Maka orang yang seperti ini tetap dianggap fakir atau miskin dan berhak menerima Zakat. Berarti walau ia mengeluarkan Zakat, ia berhak juga menerima Zakat, seperti halnya ‘amilin ia wajib mengeluarkan Zakat karena terhitung mampu, dan berhak juga menerima Zakat sebagai hak ‘amilin.

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB