• Setiap kali takbir pada rakaat pertama (7 takbir) dan pada rakaat kedua (5 takbir) dalam shalat ‘ied disertai dengan mengangkat tangan.

Pengamalan ini berdasarkan amaliah shahabat Umar bin Khathab, sebagai petunjuk adanya dalil dari Nabi saw. (marfu’ hukman). Dengan perkataan lain, bukan semata-mata ijtihad Umar bin Khathab.

Imam al-Baihaqi meriwayatkan:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ مَعَ كُلِّ تَكْبِيْرَةٍ فِي الْجَنَازَةِ وَالْعِيْدَيْنِ

“Sesungguhnya Umar bin al-Khatab mengangkat kedua tangannya setiap kali takbir pada shalat jenazah dan dua ‘ied.” (Lihat, As-Sunanul Kubra, III:293, No. 5983)[1]

  • Tidak terdapat keterangan yang menunjukkan adanya bacaan antara takbir dan takbir.

 

  • Takbiratul Ihram dan Intiqal termasuk pada takbir 7 & 5

Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi saw. bahwa pada rakaat pertama tujuh kali takbir. Berdasarkan sabda beliau, maka dapat dipahami bahwa tujuh kali takbir itu meliputi takbiratul ihram. Sebagaimana pada rakaat kedua, Nabi saw. menegaskan lima kali takbir tanpa menyebut pemisahan dengan takbir iftitah[2] (bangkit dari sujud).

Berdasarkan sabda beliau, maka dapat dipahami bahwa lima kali takbir itu meliputi takbir iftitah (bangkit dari sujud kedua) di rakaat pertama.

Selain itu, pengamalan di atas sesuai dengan praktik Nabi saw. sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut ini:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ الْأُولَى سَبْعًا ثُمَّ يَقْرَأُ ثُمَّ يُكَبِّرُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُكَبِّرُ أَرْبَعًا ثُمَّ يَقْرَأُ ثُمَّ يَرْكَعُ. قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ وَكِيعٌ وَابْنُ الْمُبَارَكِ قَالَا سَبْعًا وَخَمْسًا

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya dari kakeknya[3], bahwa Nabi saw. dalam shalat ‘Idul Fithri beliau bertakbir tujuh kali pada raka’at pertama kemudian membaca (Fatihah dan surat Al Qur’an), lalu bertakbir (untuk ruku). Kemudian (pada rakaat kedua) beliau berdiri, maka beliau bertakbir empat kali, lalu membaca (Fatihah dan surat Al Qur’an) setelah itu beliau ruku’.” Abu Daud mengatakan, “diriwayatkan pula oleh Waki’ dan Ibnu Mubarrak, keduanya berkata, “(bertakbir) tujuh kali dan lima kali (bukan empat kali).” (HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, I: 299, No. hadis 1152)

Berdasarkan hadis di atas maka praktik takbir 5 pada rakaat kedua sebagai berikut:

Ketika bangkit dari sujud kedua pada rakaat pertama menuju rakaat yang kedua, mengucapkan Allahu Akbar disertai mengangkat tangan. Takbir ini termasuk takbir yang pertama dari yang lima itu.

  • Bila Imam lupa pada takbir Ied yang seharusnya 7 kali takbir tetapi ia malah 6 kali, maka shalat ‘Iednya sah. Sebab untuk kekurangan takbir ini tidak ada keterangan untuk mengerjakan sujud sahwi.

 

Dewan Hisbah Persatuan Islam. 2019. Masalah Seputar Idul Adha dan Qurban. Bandung-Persispres

 

[1] Kata Imam al-Baihaqi, hadis itu diriwayatkan pula oleh al-Walid bin Muslim, dari Ibnu Lahi’ah, dari Bakr bin Suwadah, dari Abu Zur’ah al-Lakhmi, bahwa Umar, lalu ia menyebutkan pada shalat dua ied. (Lihat, As-Sunanul Kubra, III:293)

[2] Dalam istilah umum disebut takbir intiqal.

[3] Silsilah sanad: Amr bin Syu’aib, ‘An Abiihi (dari Ayahnya), ‘An Jaddihi (dari Kakeknya), digunakan dalam Al-Kutub As-Sittah (Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan An-Nasa’I, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad) sekitar 180 hadis. Kata Imam Adz-Dzahabi, “Jika Amr berkata: ‘An Abiihi (dari ayahnya), lalu berkata, ‘An Jaddihi (dari kakeknya)” maka maksud dhamir (kata ganti) pada perkataannya ‘An Jaddihi’ kembali kepada Syu’aib.” (Lihat, Mizan Al-I’tidal, III: 266).

Kesimpulan: Amr bin Syu’aib dari ayahnya, yaitu Syu’aib bin Muhammad, dari kakeknya, yaitu Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, bukan Muhammad bin Abdullah.

Bersihkan Harta Dengan Zakat

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB