Kh. Aceng Zakaria

 

  1. Dari kapan mulai mengumandangkan Takbir?

 

Pada umumnya umat Islam di Indonesia sudah membudaya bahwa mulai mengumandangkan takbir itu sejak malam hari raya ‘led al-Fithri.

 

Mereka berpendapat dimulai dari malam hari itu berdasarkan keterangan di bawah ini:

 

Menurut asy-Syafi’i: “Bahwa Allah SWT telah berfirman sehubungan dengan Ramadhan: “Dan sempurnakanlah bilangan (shaum) dan bertakbirlah kepada Allah, karena Allah telah memberi hidayah kepadamu.” Berkata asy-Syafi’i: “Saya mendengar orang yang saya akui keilmuannya tentang al Qur’an, bahwasannya ia berkata (maksud) (sempurnakanlah bilangan] ialah bilangan shaum Ramadhan. (Dan bertakbirlah kepada Allah] di saat sempurnanya shaum Ramadhan, karena Allah telah memberi petunjuk kepadamu. Sedangkan sempurnanya (akhir) Ramadhan itu ialah terbenamnya matahari di hari terakhir Ramadhan. Menurut asy-Syafi’i, maka apabila melihat hilal Syawwal, aku suka orang-orang bertakbir secara berjama’ah atau secara sendiri-sendiri di mesjid, di Pasar, di jalan-jalan, atau di rumah-rumah, dan Perjalanan, atau di kampungnya sendiri, dalam kondisi, dan situasi (keadaan dan di mana) mereka berada, dan hendaknya mengeraskan takbir, serta senantiasa bertakbir sampai pergi ke lapang, setelah tiba di lapang, sampai imam datang (keluar) untuk shalat (‘ied), barulah menghentikan takbir.” (al-Umm, 1: 205)

 

Demikian alasan mereka yang memulai takbir dar mulai terbenam matahari.

 

JAWAB:

 

“(Dan sempurnakanlah bilangan (puasa)). Maka firman Allah tersebut adalah sempurnakanlah bilangan/hitungan (hari) yang kamu pernah batal di hari-hari lain (di luar bulan ramadhan).” (H.R. at-Thabari, 2:91)

 

Dari Dhahhâk: “Bahwa yang di maksud dengan firman Allah (dan sempurnakanlah bilangan) ialah bilangan (hitungan hari) dimana yang sakit, atau yang bepergian pernah batal.” (H.R. al-Thabari, 2:91)

 

Jadi maksud ayat ini, bukan berarti sempurnakan puasa itu sampai akhir ramadhan kemudian dilanjukan dengan bertakbir di malam harinya. Tetapi maksud yang sebenarnya yaitu sempurnakanlah puasa itu dengan mengqadha hari-hari yang pernah batal disebabkan sakit atau bepergian.

 

Takbir hari raya ‘ied fithri itu dimulai dari mulai pergi ke lapang untuk shalat ‘id. Hal ini berdasarkan keterangan di bawah ini:

 

Dari Ibnu ‘Umar r.a: “Bahwa ia apabila pergi ke lapang, ia bertakbir dengan mengeraskan suaranya.” Dalam riwayat lain: “la pergi ke lapang pada hari raya ‘ied al-fithri, apabila telah terbit mata hari lalu bertakbir sampai tiba di lapang, kemudian takbir di lapang, dan apabila imam duduk ia menghentikan takbirnya.” (H.R. Syafi’i; Nail al-Authär, 3:324)

 

Menurut riwayat Bukhari, bahwa Ummu ‘Athiyah berkata: “Adalah kami diperintahkan untuk  mengeluarkan perempuan-perempuan haid, lalu mereka bertakbir bersama takbirnya kaum laki laki.” (Nail al-Authâr, 3: 324)

 

Menurut asy-Syaukani: “Bahwa ucapan (Apabila ia pergi ke lapang ia bertakbir), hadits ini -jika sah kema’rfuannya- adalah dalil disyariatkannya bertakbir ketika pergi ke lapang.” (Nail al-Authâr, 3: 327)

 

Menurut an-Nashir: “Bahwa takbir itu dimulai dari keluar imam dari rumahnya untuk shalat sampai menjelang khutbah, Demikian menurut kebanykan para ulama.” (Nail al-Authâr, 3:328)

 

1 Menurut Sayyid Sabiq: “Dan mayoritas ulama berpendapat, bahwa takbir ‘ied fitri itu dimulai saat keluar (ke lapang) untuk shalat sampai (menjelang) memulai khutbah.” (Fiqh al-Sunnah,1: 325)

 

KESIMPULAN:

Jadi pendapat yang kuat mengenai takbir ‘ied fithri ialah mulai dari keluar rumah untuk pergi ke lapang, bukan di mulai dari malam hari, berdasarkan:

 

  1. Amal para sahabat antara lain Ibnu Umar dan Ummu Athiyah.

 

  1. Pendapat mayoritas para ulama ahli hadits.

Sedangkan alasan mereka yang berpendapat dimulai sejak maghrib haditsnya dhaif dan (ayat) al-Quran yang dijadikan dasarnya bukan pada tempatnya.

 

  1. Kemudian pada saat penulis melaksanakan ‘ied fitri di Mekkah tidak pernah mendengar kumandang takbir pada malam hari tetapi pada saat pergi saja untuk melaksanakan shalat ‘ied

 

  1. Mana yang shahih dalam lafazh Takbir; yang du atau yang tiga kali Takbir ?

 

“Adapun lafazh takbir, maka riwayat yang paling shahih ialah apa yang diriwayatkan Abdu Razaq dari Salman dengan sanad yang shahih, ia berkata: “Bertakbirlah! ALLAHU AKBARU, ALLAHU AKBARU, ALLAHU AKBARU KABÎRA.”

 

Juga terdapat riwayat dari ‘Umar dan Ibnu sbb. Mas’ud: “ALLAHU AKBARU, ALLAHU AKBARU, LA A ILLA ALLAHU WA ALLAHU AKBARU ALLAHU AKBARU WA LILLAHI AL-HAMDU.” (Fiqh al-Sunnat 1: 326; Fath al-Bari 2. 462)

 

Jadi lafadz takbir yang diakhiri dengan  ولله الحمد  adalah dua kali takbir.

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB