Sebagaimana telah kita maklumi bahwa saat ‘Idul Fithri kaum muslim disyariatkan bertakbir sejak dari rumah menuju lapangan dan saat berada di tanah lapang tempat shalat ‘Id, hingga imam memulai shalat.

Praktik demikian itu sebagaimana diterangan dalam hadis berikut ini:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُكَبِّرُ يَوْمَ الْفِطْرِ مِنْ حِينِ يَخْرُجُ مِنْ بَيْتِهِ حَتَّى يَأْتِىَ الْمُصَلَّى

“Dari Ibnu Umar sesungguhnya Rasulullah saw. bertakbir pada ‘Idul Fithri dari mulai keluar rumah hingga mendatangi lapang.” (HR. Al-Baihaqi).[1]

Keterangan di atas menunjukkan bahwa waktu takbir pada ‘Idul Fithri sangat terbatas, yaitu sejak keluar rumah hingga shalat ‘Idul Fithri dilaksanakan.

Hal ini berbeda dengan waktu takbir pada ‘Idul Adha, karena pada ‘Idul Adha dilakukan sejak subuh 9 Dzulhijjah hingga Ashar 13 Dzulhijjah. Ketentuan takbir demikian itu merujuk kepada hadis Nabi saw. berikut ini:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُكَبِّرُ يَوْمَ عَرَفَةَ صَلاَةَ الْغَدَاةِ إِلَى صَلاَةِ الْعَصْرِ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ

“Dari Jabir, ia berkata, ‘Nabi saw. bertakbir sejak hari Arafah setelah shalat shubuh hingga shalat Ashar di akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah)’.” (HR. Al-Baihaqi).[2]

Dalam riwayat lain disebutkan oleh Ali bin Abu Thalib dan ‘Ammar bin Yasir:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْهَرُ فِي الْمَكْتُوبَاتِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ، وَكَانَ يَقْنُتُ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ ، وَكَانَ يُكَبِّرُ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ صَلاَةَ الْغَدَاةِ ، وَيَقْطَعُهَا صَلاَةَ الْعَصْرِ آخِرَ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.

“Sesungguhnya Nabi saw. menjaharkan basmalah pada shalat-shalat wajib dan beliau berqunut[3](panjang bacaannya) pada shalat shubuh, dan beliau bertakbir sejak hari Arafah setelah shalat shubuh dan menghentikannya pada shalat Ashar di akhir hari tasyriq.” (HR. Al-Hakim dan ad-Daraquthni). [4]

Al-Hakim (w.405 H) berkata:

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الإِسْنَادِ ، وَلاَ أَعْلَمُ فِي رُوَاتِهِ مَنْسُوبًا إِلَى الْجَرْحِ وَقَدْ رُوِيَ فِي الْبَابِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَغَيْرِهِ ، فَأَمَّا مِنْ فِعْلِ عُمَرَ وَعَلِيٍّ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ سَعِيدٍ فَصَحِيحٌ عَنْهُمُ التَّكْبِيرُ مِنْ غَدَاةِ عَرَفَةَ إِلَى آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ

“Ini hadis shahih sanadnya, dan saya tidak mengetahui pada rawi-rawinya nisbat jarah (celaan) dan dalam topik ini telah diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah dan lainnya. Adapun amal Umar, Ali, Abdullah bin Abbas, dan Abdullah bin Sa’id maka shahih bersumber dari mereka bertakbir sejak pagi pada hari Arafah hingga akhir hari tasyriq.”[5]

Takbir ‘Idul Adha seperti pengamalan Nabi saw. di atas dipraktikan pula oleh para shahabat sebagai berikut:

Pertama, Umar bin Khatab

عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ ، قَالَ : كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يُكَبِّرُ بَعْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى صَلاَةِ الظُّهْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.

“Dari Ubaid bin Umar, ia berkata, ‘Umar bin Khatab bertakbir setelah shalat shubuh pada hari Arafah hingga shalat Zuhur di akhir hari tasyriq.” (HR. Al-Hakim).[6]

Kedua, Ali bin Abu Thalib

عَنْ شَقِيقٍ ، قَالَ : كَانَ عَلِيٌّ يُكَبِّرُ بَعْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ غَدَاةَ

عَرَفَةَ ، ثُمَّ لاَ يَقْطَعُ حَتَّى يُصَلِّيَ الإِمَامُ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ، ثُمَّ يُكَبِّرُ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Dari Syaqiq, ia berkata, ‘Ali bertakbir setelah shalat shubuh pada pagi hari Arafah kemudian tidak menghentikannya hingga imam shalat di akhir hari tasyriq, lalu bertakbir setelah Ashar.” (HR. Al-Hakim dan al-Baihaqi). [7]

Ketiga, Abdullah bin Abbas

أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ غَدَاةِ عَرَفَةَ إِلَى صَلاَةِ الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ

“Sesungguhnya Ibnu Abbas, bertakbir sejak pagi pada hari Arafah hingga shalat Ashar di akhir hari tasyriq.” (HR. Al-Hakim dan al-Baihaqi). [8]

Keempat, Abdullah bin Mas’ud

عَنْ عُمَيْرِ بْنِ سَعِيدٍ ، قَالَ : قَدِمَ عَلَيْنَا ابْنُ مَسْعُودٍ فَكَانَ يُكَبِّرُ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ يَوْمَ عَرَفَةَ إِلَى صَلاَةِ الْعَصْرِ مِنْ

آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.

“Dari Umair bin Sa’id, ia berkata, ‘Ibnu Mas’ud datang menemui kami, maka ia bertakbir sejak shalat shubuh pada hari Arafah hingga shalat Ashar di akhir hari tasyriq.” (HR. Al-Hakim). [9]

Berbagai keterangan di atas, baik marfu’ (hadis Nabi) maupun mauquf (hadis shahabat) menunjukkan takbiran ‘Idul Adha dilakukan sejak subuh 9 Dzulhijjah hingga Ashar 13 Dzulhijjah. Karena pada hadis-hadis itu tidak diterangkan teknis pelaksanaanya maka kita dapat mengaturnya sedemikian rupa, baik ketika berkumpul di masjid maupun di rumah masing-masing, karena pada prinsipnya selama 5 hari itu (9-13 Dzulhijjah) tidak “kosong” dari gema takbir. Sunah Rasul pada ‘Idul Adha ini tampaknya mulai “ditinggalkan” oleh mayoritas kaum muslimin di Indonesia.

Dewan Hisbah Persatuan Islam. 2019. Masalah Seputar Idul Adha dan Qurban. Bandung-Persispres

[1] Lihat, As-Sunan al-Kubra, III:279, No. 5926

[2] Lihat, As-Sunan al-Kubra, III:312, No. 6501

[3] Yang dimaksud qunut di sini ialah berdiri lama. Sebagaimana dalam hadis:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ طُولُ الْقُنُوتِ

Dari Jabir ia berkata; Rasulullah saw. bersabda: “Shalat yang paling Afdlal (utama) adalah shalat yang lama berdirinya.” (HR. Muslim)

[4] Lihat, al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, I:439, No. 1111, ad-Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, II:49, No. 26

[5] Lihat, Al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, I:439, No. 1111, Ad-Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, II:49, No. 26

[6] Lihat, Al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, I:439, No. 1112.

[7] Lihat, Al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, I:440, No. 1113, As-Sunan al-Kubra, III:314, No. 6069

[8] Lihat, Al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, I:440, No. 1114, As-Sunan al-Kubra, III:314, No. 6070

[9] Lihat, al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, I: 440, No. 1115.

Bersihkan Harta Dengan Zakat

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB