Ibadah Ramadhan yang pokok adalah shaum Ramadhan. Ibadah ini merupakan pusat dari semua ibadah yang menjadi cabang darinya seperti qiyam Ramadhan dan qiyam lailatul-Qadar. Gagal di ibadah shaum, berarti gagal di ibadah Ramadhan secara keseluruhan.

Shaum arti asalnya imsak; menahan diri (Mu’jam Mufradat Alfazh al-quran, hlm. 298). Maksudnya, menahan diri dari rafats (berhubungan sebadan dengan istri), makan, dan minum, dari fajar sampai maghrib. Allh swt dalam hal ini menjelaskan:

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari shaum bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempunakanlah shaum itu sampai (datang) malam. (QS. Al-Baqarah [2]: 187)

Ayat di atas menginformasikan bahwa secara syari’at, wajib hukumnya shaum atau imsak dari hal-hal yang dihalalkan diwaktu malam, yakni rafats, makan dan minun dari sejak fajar sampai fajar. Melanggarnya berarti batal shaumnya. Akan tetapi dalam hadits, Nabi kemudian mengarahkan bahwa shaum tidak hanya sebatas pada aspek syari’at semata, ada aspek diluar syari’at yang juga harus diperhatikan, atau dengan kata lain aspek haqiqat, yakni shaum dari amal-amal jelek yang kesemuanya bersumber dari hati. Perhatikan misalnya sabda Nabi saw berikut:

Shaum itu bukan dari makan dan minum. Hanyasanya shaum itu dari laghwu (perbuatan sia-sia) dan rafats (perkataan tidak senonoh). (al-Mustadrak ‘ala as-Shahihain kitab as-shaum no. 1520).

siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (yang tidak diizinkan Allah) dan juga perbuatannya, maka Allah tidak punya kepentingan (tidak akan memberi pahala) terhadap usahanya meninggalkan makan dan minum. (shahih al-Bukhari kitab as-shaum bab man lam yada’ qaula az-zur wa al-‘amal bihi fi as-shaum no. 1903).

Saking pentingnya meninggalkan perkataan dan perbuatan jelek ini, maka Nabi saw mengarahkan agar setiap hal yang dapat memancing emosi ditinggalkan tanpa syarat. Jika dilayani pasti akan menjerumuskan  seseorang pada perkataan dan perbuatan yang tidak mestinya dilakukan.

“Shaum itu benteng, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang shaum (ia mengulang ucapannya dua kali). Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. Shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuiluh kebaikan yang serupa” (Shahih al-Bukhari kitab as-shiam bab fadlis-shaum 1894)

Sabda Nabi saw: “maka katakanlah : “ saya sedeng shaum,” “saya sedang shaum.”, maksudnya kuatkan kesadaran dalam diri bahwa saya sedang shaum. Shaum yang sedang dilaksanakan harus menjadi tameng bagi diri saya sendiri dari semua perkataan dan sikap yang bodoh. Itu artinya, shaum yang diajarkan Nabi saw harus dengan men-shaum-kan hati.

Akan tetapi tidak berarti bahwa amal ini hanya dilakukan di waktu shaum saja; sesudah shaum Ramadhan selesai, maka hati dan amal-amal yang jelek menjadi halal lagi sebagaimana halalnya makan dan minum yang haram ketika siang Ramadhan dan sesudah Ramadhan menjadi halal lagi. Sebab untuk makan, minum dan rafats dengan istri, hokum asalnya memang mubah/halal, berlaku haramnya hanya pas shaum ramadhan saja. Sementara untuk perkataan dan perbuatan yang bodoh, hukum asalnya haram. Jadi ketika shaum Ramadhan haram, sesudah shaum Ramadhan pun tetap haram.

Terlebih Allah swt telah menggariskan dari sejak awal bahwa tujuan shaum Ramadhan itu adalah mencapai taqwa. Ketakwaan yang paling puncak itu wujudnya adalah taqwa dalam bentuk perkataan dan perbuatan sehari-hari yang jauh dari (1) merendahkan orang lain, (2) menghina, (3) memanggil dengan panggailan yang jelek, (4) banyak berprasangka, (5) tajassus atau mencari-cari kesalahan orang lain, dan (6) ghibah (membicarakan kejelekan orang lain yang memang benar-benar jelek). Orang yang atqakum (paling taqwa) adalah orang yang senantiasa menjaga ukhuwah (persaudaraan) dan selalu siap untuk ishlah (berdamai) ketika konflik terjadi (rujuk QS. Al-Hujurat [49]: 9-13). Berarti jika shaum tujuannya taqwa, maka sesudah shaum setiap muslim harus bertaqwa, diantaranya yang utama dengan meninggalkan perkataan dan perbuatan bodoh sebagaimana diuraukan di atas.

Semua ini terkait arat dengan hati dan sejauhmana shaum sudah mampu mengendalikan hati, sebab di hadits lain Nabi saw menyebutkan bahwa taqwa yang paling inti juga sumbernya dari dalam hati.

Janganlah kalian saling dengaki, saling menipu dalam harga barang jualan, saling membenci, saling membelakangi, dan jangan pula sebagian dari kalian menjual di atas penjualan sebagiannya lagi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu saudara muslim lainnya, jangan pernah menganiayanya, menelantarkannya, dan menghinanya. Taqwa itu disini—kata abu Hurairah: beliau sambil menunjuk dadanya tiga kali—cukuplah seorang muslim merasa berdosa ketika menghina saudaranya sesame muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram; darahnya, hartanya, dan kehormatannya (Shahih Muslim kitab al-birr- was-shilah wal-adab bab tahrim zhulil-muslim no. 6706).

Maksud sabda Nabi saw: “Takwa itu di sini” sambil menunjuk dadanya, bermakna ketaqwaan itu wujud yang paling intinya adalah taqwa hati yang diwujudkan dengan jauh dari hasud, mengumpat, menghina, menelantarkan, dan semua perbuatan zhalim lainnya yang disebut hadits di atas.

Itu berarti bahwa shaum Ramadhan yang benar adalah shaum yang mengantarkan pelakunya menjauh dari perkataan dan perbuatan bodoh. Jika seorang muslim masih saja senang ghibah kepada muslim lainnya, masih susah meninggalkan berprasangka buruk, tajassus, dan mencela muslim lainnya, maka itu pertanda shaum Ramadhan yang diamalkan belum benar. Shaum Ramadhan yang dijalankan baru sebatas shaum makan, minum, dan rafats, belum sampai shaum amal dan hati. Shaum Ramadhan seperti ini yang diancam oleh Nabi saw melalui sabdanya : “Allah tidak punya kepentingan (tidak akan memberi pahala) terhadap usahanya meninggalkan makan dan minum.” Na’udzu bil-Llah min dzalik.

 

 

 

Buku Sukses Ibadah Ramadlan (Panduan Bagi Yang Tidak Mau Gagal Ibadah Ramadlan), Nashruddin Syarief, Tsaqifa Publishing Mencerdaskan Umat.

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB