Oleh:
dr. Harry Rayadi, MARS
Kita telah mengetahui shaum dalam Islam dikerjakan dengan mudah dan ringan bagi orang yang sehat dan yang tidak bepergian. Tidak ada beban yang berat yang menyusahkan diri dan tidak akan ada pula bahaya yang bias menimpa tubuh lantaran melakukan shaum. Dan, hal tersebut merupakan fakta yang sudah pasti dan meyakinkan.
Bukti ilmiah yang definitif membuktikan bahwa shaum dalam Islam tidak memiliki pengaruh negatif apapun untuk kesehatan tubuh manusia. Sebaliknya, hasil-hasil penelitian berharga yang dilakukan oleh Dr. Ahmad al-Qadhi dkk. memperlihatkan bahwa tingkat stamina tubuh dan performa otot justru mengalami peningkatan 200% pada 30% orang sedangkan 40% lainnya mengalami peningkatan sebesar 7%.
Melaksanakan shaum Islam dengan penuh ketaatan dan ketundukkan kepada Allah Swt., sambil mengharap pahalanya merupakan amal perbuatan yang memiliki banyak manfaat bagi tubuh dan jiwa manusia. Sebab, hal tersebut menebarkan ketenangan dan kedamaian dalam jiwa manusia. Dan, pada gilirannya hal tersebut akan tercermin pada mekanisme-mekanisme metabolisme sehingga tubuh biasa menjalankan semua proses ini secara optimal dan mudah, dan tentunya dengan cara yang paling bermanfaat dan keuntungannya tetap kembali pada tubuh.
Sesungguhnya Allah Swt. berkehendak mendidik manusia untuk mendapatkan kebaikan dalam kehidupannya, baik jasmani maupun rohani. Shaum merupakan ibadah yang memiliki banyak fungsi. Setidaknya, ada tiga fungsi diperintahkan oleh Allah. Tiga fungsi tersebut, antara lain adalah tahzib, ta`db, dan tadrib. Shaum adalah sarana untuk mengarahkan atau tahzib, membentuk karakteristik jiwa seseorang (ta`dib), serta sarana latihan untuk menjadi manusia yang kamil dan paripurna (tadrib). Ketiga hal tersebut yang pada hakikatnya bermuara pada tujuan akhir shaum, yakni agar umat manusia menjadi umat yang bertakwa.
Shiyam atau shaum, bagi manusia, pada hakikatnya adalah menahan atau megendalikan diri. Karena itu pula, shaum disamakan dengan sikap sabar, baik dari segi pengertian bahasa (keduanya berarti menahan diri) maupun dalam esensi puasa itu sendiri.
Oleh sebab itu, pola yang diterapkan selama seseorang berpuasa bermuara pada penahanan dan pengendalian diri dari sesuatu yang tidak bermanfaat atau bahkan merugikan bagi manusia. Beberapa pola pengendalian puasa Islam, antara lain:
1. Pola Pengendalian Emosi
Pola pengendalian ini sangat jelas ketika Rasulullah Saw. memberikan tahzib kepada para shaim (orang yang melaksanakan shaum) pada saat diajak bertengkar atau berkelahi, hendaklah mengatakan bahwa ia sedang shaum. Hal tersebut menunjukkan pengendalian emosi pada saat tertentu sangatlah diperlukan. Dr. Yuri Nikolayov dari Instiute Psikologi Moskow mengatakan, bahwa penyakit-penyakit pikiran bisa diatasi dengan efek puasa dan diet.
2. Pola Pengendalian Syahwat
Rasulullah Saw. pernah bersabda …” فعيله باالصّوم فأنّه له وجاءٌ …” : “maka hendaklah ia berpuasa sebab ia adalah obat penwar nafsu baginya”. (HR Bukhari)
Riset membuktikan bahwa disamping meningkatkan kesuburan laki-laki setelah berbuka, shaum juga memiliki kapabilitas untuk menahan dorongan seksual dan selanjutnya memulihkan dan meningkatkan performa diri.
3. Pengendalian Pola Waktu Makan
Selama melaksanakan shaum, tubuh dididik untuk bertahan beberapa jam tidak diisi dengan makanan dan minuman. Hal tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan, sebagaimana telah diuraikan para pakar kesehatan, selama kurang lebih 12-16 jam, sebagian waktunya jatuh pada fase absorpsi sementara sebagian besarnya jatuh pada masa pasca absorpsi, di mana seluruh mekanisme absorpsi dan metabolisme berlansung semakin aktif dan seimbang.
Kondisi tersebut dapat memperkuat sistem imunitas (kekebalan tubuh) sehingga tubuh selalu steril dari berbagai penyakit. Indikator fungsional sel-sel limpa pun semakin membaik sepulh kali lipat. Proses sel yang bertanggung jawab atas kekebalan kulaitatif (lymphocytes) juga semakin bertambah. Alangkah baiknya apabila kondisi tersebut (shaum) dibiasakan di luar bulan Ramadhan, misalnya dengan melaksanakan shaum sunat atau setiap hari ada fase beberapa jam tidak diisi makanan.
4. Pengaturan Kualitas dan Kuantitas Makanan
Jelas, selama Ramadhan Allah Swt. memberikan ta`dib, mendidik jiwa muslim yang berkarakter dengan melatih diri menahan diri untuk tidak menkonsumsi yang tidak halal, tidak thayyibah, di samping itu juga dalam jumlah sesuai dengan kebutuhan nutrisi. Beberapa tips yang bisa dilakukan, antara lain:
• Makanan untuk berbuka shaum: kurma, satu mangkok sup yang bebas lemak, makan banyak salad segar dengan dressing minyak zaitun. Hindari makanan berkalori tinggi, perbanyak minum air bening, dan juga buah-buahan.
• Untuk makan sahur, sangat dianjurkan buah-buahan kering, kurma, susu murni, yogurt, sedikit makan nasi.
Itu hanya sekelumit bagian kecil manfaat yang didapat dengan melaksanakan shaum dalam Islam jika dikerjakan sesuai Sunah Rasulullah Saw.
Wallahu Álam bis Shawab

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB