Secara fi’liyyah, Rasulullah saw. tidak pernah melaksanakan shalat ‘Ied di dalam masjid, baik ‘Idul Fithri maupun ‘Idul Adha.

Kenyataannya beliau sengaja keluar menuju tempat yang lapang untuk melaksanakan shalat ‘Ied tersebut. Sebagaimana keterangan berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى

Dari Abi Sa’id, ia mengatakan: “Nabi saw. keluar pada hari ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha menuju mushalla (sebuah lapangan yang terletak di pintu Madinah sebelah timur).” (HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II: 370, no. 956)

Adapun hadis yang menerangkan Rasulullah saw. shalat ‘Ied di masjid derajatnya dha‘if. Hadis tersebut yaitu:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُمْ أَصَابَهُمْ مَطَرٌ فِي يَوْمٍ عِيْدٍ فَصَلَّى بِهِمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ العِيْدِ فِي الْمَسْجِدِ.

Dan dari Abu Hurairah ra., bahwasanya mereka pernah kehujanan pada hari ‘Ied. Maka Nabi shalat ‘Ied mengimami mereka di dalam masjid. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Kedua riwayat di atas (Abu Dawud dan Ibnu Majah) jalur periwayatannya melalui rawi yang sama yaitu yang bernama Isa bin Abdul A’la bin Abu Farwah Al-Farwi Al-Madani yang dinilai sangat lemah. Ia dinyatakan majhul oleh para ahli, hadis yang diriwayatkannya dinyatakan munkar, karena rawi ini sangat tidak dikenal dan hanya hadis ini saja yang tercatat di dalam periwayatannya.[1]

Melaksanakan shalat ‘Ied di lapangan tentu sesuai dengan amaliyah Rasulullah saw. dan para shahabat. Sedangkan amaliah Rasulullah itu pada pokoknya untuk diikuti. Sesuai dengan kaidah berikut:

الأَصْلُ فِي أَفْعَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الاِقْتِدَاءُ

“Asal perbuatan Nabi saw. itu untuk diikuti”.

Adapun hikmah yang dapat diambil dari mengerjakan ‘Ied di tempat terbuka antara lain syi’ar yang lebih izhhar (terbuka), hingga Nabi saw. menyuruh perempuan yang haid dan nifas untuk mendatangi tempat shalat ‘Ied.

Sekiranya lapang terbuka tersebut tidak ada atau karena kondisi yang tidak memungkinkan, maka carilah tempat yang luas. Seperti masjid, lapangan olah raga indoor, aula, dan lain-lain, maka hal itu tidak melanggar sunnah Rasulullah saw. sebab, dalil-dalil yang berhubungan dengan tempat shalat secara umum Nabi saw. tidak membatasinya kecuali pekuburan dan jamban. Sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِي … وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا وَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ …

Dari Jabir bin Abdulah, ia berkata, Rasulullah saw. telah bersabda: Saya telah diberi lima keistimewaan yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelum saya….dan dijadikan bagiku bumi ini tempat shalat dan bersuci dan siapa pun yang disusul waktu shalat, hendaklah shalat…” (HR. Al-Bukhari)[2]

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ، إِلاَّ الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ.

Dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata, Rasulullah saw. telah bersabda: “Bumi ini seluruhnya tempat shalat kecuali pekuburan dan jamban.” (HR. Ahmad)[3]

Kesimpulan:

Shalat ied dilaksanakan di lapang adalah lebih utama (afdhaliyah), mengingat Nabi saw. selalu melakukannya di lapangan. Oleh karena itu selama bisa diusahakan di lapang lakukanlah di lapang.

Dewan Hisbah Persatuan Islam. 2019. Masalah Seputar Idul Adha dan Qurban. Bandung-Persispres

[1] Isa bin Abdul ‘Ala. Ia adalah Isa bin Abdul ‘Ala bin Abdillah bin Abi Farwah al-Amawi Maulahum Ibnu Akhi Ishaq bin Abi Farwah. Abu Daud meriwayatkan darinya satu hadis saja tentang shalat Ied. Ad-Dzahabi mengatakan, “Hampir tidak dikenal sedangkan khabarnya (Hadis tentang shalat Ied) itu munkar (diingkari). Berkata Ibnu Al-Qathan, ‘Aku tidak mengenalnya sesuatu pun di dalam kitab-kitab dan tidak pula (mengetahuinya) selain pada hadis ini (hadis tentang shalat Ied). (Tahdzibut Tahdzib, VIII: 195, no. 404). Dalam At-Taqrib, Ibnu Hajar menyatakan, ‘Ia rawi yang majhul (thabaqah) ke tujuh. (Taqribut Tahdzib: 439)

[2] Shahih Al-Bukhari, I: 448. No. 438)

[3] Musnad Ahmad bin Hanbal, III: 108, no.11801, Sunan At-Tirmidzi, II : 131, no. 317, Sunan ibnu majah, II : 246, no. 745.

Bersihkan Harta Dengan Zakat

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB