Oleh: Dr. Jeje Jaenudin, M.Ag (Dewan Syariah Pusat Zakat Umat)

Jika memperhatikan awal mula tradisi berqurban ini, maka dapat dipahami mengapa hampir pada setiap umat pemeluk agama apapun di dunia ini, baik itu agama samawi atau agama budaya; seperti animisme-dinamisme dan agama primitive lainnya, senantiasa mengenal upacara berqurban, meskipun dalam prakteknya berbeda-beda sesuai dengan keyakinan dan tujuan masing-masing. Dapat dipastikan bahwa memang upacara ritual berkorban (berqurban) bagi Tuhan itu adalah tradisi agama yang sudah ada sejak generasi pertama manusia sehingga manusia yang merupakan anak cucu Adam ini masih mewarisi tradisi tersebut walaupun sudah sangat jauh terjadi perubahan dan penyimpangan. Di samping itu, memang ada juga naluri tersembunyi dalam jiwa manusia yang selalu ingin menunjukkan rasa syukur, kesetiaan, dan pengabdiaannya kepada Tuhan dengan wujud konkrit berupa pengorbanan harta benda. Kemudian, syariat Islam dating meneguhkan kembali semangat dan tradisi qurban itu sekaligus meluruskannya dari berbagai penyelewengan dalam niat dan tata caranya. Al Qur’an menegaskan,

لَنْيَنَالَاللَّهَلُحُومُهَاوَلَادِمَاؤُهَاوَلَكِنْيَنَالُهُالتَّقْوَىمِنْكُمْ

“Daging-dagingdandarahnya (hewanqurban) itusekali-kali tidakdapatmencapai (keridhaan) Allah, tetapiketaqwaandarikamulah yang dapatmencapainya.” (QS Al-Hajj: 36)

Maka, syariat Islam mengatur dengan jelas pelaksanaan qurban itu. Baik tata cara formalnya, waktu pelaksaan, jenis hewan qurban, manfaat dan tujuan, serta semangat dan hikmah filosofisnya. Dengan demikian, qurban menjadi syariat persembahan kepadaTuhan (Allah) yang berdiri tegak di atas pondasi aqidah tauhid yang sekaligus member dampak kemaslahatan bagi kehidupan social umat manusia. Terutama dalam membangun semangat solidaritas kaum kaya terhadap nasib kaum dhu’afa.

WallahuÁlambisShawab

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB