Oleh: Dr. Jeje Jaenudin, M.Ag (Dewan Syariah Pusat Zakat Umat)

Salah satu ritual agama yang sangat tua dan di abadikan oleh al-Qur’an sebagai salah satu ibadah besar dalam Syariat Islam adalah perayaan Qurban. Perayaan Qurban dalam syariat Islam diyakini sebagai lanjutan dari syariat agama nabi Ibrahim a.s..Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an ketika menceritakan kisah pengorbanan Ismail,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ – ١٠٢ فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ – ١٠٣ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُ ۙ – ١٠٤ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚاِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ – ١٠٥ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْبَلٰۤؤُا الْمُبِيْنُ – ١٠٦ وَفَدَيْنٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيْمٍ – ١٠٧

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ismail menjawab: “Haibapakku, kerjakanlahapa yang diperintahkankepadamu; insya Allah, kamuakanmendapatikutermasuk orang-orang yang sabar”. Tatkalakeduanyatelahberserahdiridan Ibrahim membaringkananaknyaataspelipis(nya), (nyatalahkesabarankeduanya). Dan Kami panggillahdia: “Hai Ibrahim, sesungguhnyakamutelahmembenarkanmimpiitu”, sesungguhnyademikianlah Kami memberibalasankepada orang-orang yang berbuatbaik. Sesungguhnyainibenar-benarsuatuujian yang nyata. Dan Kami tebusanakitudenganseekorsembelihan yang besar.” (QS Ash-Shaffaat [37]: 102-107)

Nabi Ibrahim a.s. tidak hanya diakui umat Islam sebagai nenek moyang nabi Muhammad dari garis Ismail, putra nabi Ibrahim dari Siti Hajar. Tetapi diakui juga oleh kaumYahudi dan Kristen sebagai nenek moyang nabi-nabi mereka dari garisk eturunan Ishaq, putra nabi Ibrahim dari Siti Sarah. Karena itu, tradisi berqurban juga dipelihara kaum Yahudi dan Kristen. Di dalam agama Yahudi, dikenal bermacam jenis pengorbanan dengan hewan ternak atau pun dengan makanan sesuai dengan tujuan qurban mereka, seperti qurban bakaran untuk penebusan dosa dengan anak sapi atau domba, qurban mensyukuri nikmat Tuhan, qurban berupa persembahan berupa makanan, roti atau susu, dan lain sebagainya. Di dalam tradisi agama Nashrani juga dikenal korban (qurban) persembahan yang berupa roti dan anggur yang telah disucikan oleh para pendeta mereka yang diyakini sebagai pengorbanan daging dan darah Yesus.

Sebenarnya, tradisi berqurban dalam pengertian mempersembahkan hewan atau pun jenis kekayaan yang lain sebagai persembahan kepadaTuhan sudah dikenal sejak generasi yang paling awal dari umat manusia ini. Kisah persembahan tersebut sudah dimulai sejak kedua putra Adam bertengkar lalu mereka diperintah menyerahkan qurban kepada Allah. Al-Qur’an menceritakan kejadian itu,

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ – ٢٧

“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). berkata (Qabil): ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa’.” (QS Al-Maidah [5]: 27)

Siapa sebenarnya kedua putra Adam itu? Ada mufassir yang berpendapat bahwa mungkin saja yang dimaksud “dua anak Adam itu”  adalah anak cucu Adam yang sudah jauh keturunannya dari Adam. Karena semua manusia sering disebut sebagai “anak-anak Adam”. Akan tetapi, mayoritas ulama tafsir meyakini bahwa kedua putra Adam itu benar-benar anak Nabi Adam secara langsung. Ini sesuai dengan arti lahiriyah dari teks ayat al-Qur’an di atas dan mendapat penguat dari kitab Perjanjian Lama atauTaurat sebagaimana termaktub dalam Kitab Kejadian Pasal yang keempat. Bahkan, dalamTaurat disebutkan bahwa nama kedua anak Adam yang bertengkar itu adalah Qabil dan Habil. Dan penyebab perselisihan mereka adalah karena masalah perebutan calon istri. Cerita itu berakhir dengan pembunuhan yang dilakukan Qabil kepada adiknya, Habil. Kemudian, ia menjadi kebingungan cara memperlakukan mayat adik kandungnya itu sehingga Allah mengirim dua ekor burung gagak yang beradu hingga mati salah satunya. Kemudian gagak yang hidup itu menggali tanah dan menguburkan bangkai lawannya. Barulah Qabil dapat inspirasi cara memperlakukan mayat Habilitu. Ia menggali tanah dan menguburnya.

Inilah peristiwa qurban dan sekaligus juga kasus pembunuhan yang pertama dalam sejarah manusia. Imam Ahmad meriwayatkan hadits bahwa Nabi bersabda, “Setiap ada pembunuhan secara zalim di dunia ini, maka Qabil memperoleh bagian dari dosanya”. Hal itu dikarenakan dialah yang pertama member teladan pembunuhan jahat kepada umat manusia. Sedang siapa yang member teladan; baik atau buruk, akan memperoleh balasan pahala atau dosa sebanyak orang yang menirunya tanpa mereka dikurangi dari pahala atau dosa mereka masing-masing.

Kemudian, Allah Swt. Menjadikan upacara berqurban sebagai persembahan kepada Tuhan itu sebagai syariat bagi tiap generasi umat manusia. Sebagaimana firman-Nya,

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۗ فَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَلَهٗٓ اَسْلِمُوْاۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِيْنَ ۙ – ٣٤

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka, makaTuhan mu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS Al-Hajj [22]: 34)

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB