Oleh:
el hafidzie

BPS mencatat bahwa angak kemiskinan di Indonesia 2019 tercatat sebanyak 9.14%. Per maret 2019, jumlah penduduk Indoensia yang kategorikan miskin sebanyak 25.14 juta jiwa. Jumlah tersebut tersebar, baik di pedesaan sampai ke tingkat perkotaan. Adakalanya jumlah itu dianggap tidak sedikit jika mengukur persentase penduduk Indonesia secara keseluruhan. Namun, angka kemiskinan itu menjadi sangat besar jika ditinjau secara tunggal tanpa diembeli dengan persentase jumlah penduduk nasional. Mengapa? Tentu saja jiwa sebanyak 25, 14 juta yang harus diselamatkan dan dibantu itu angka yang banyak dan besar.

Kemiskinan sudah manjadi istilah dari berbagai sudut pandang dan disiplin ilmu. Ilmu sosial memiliki persepsi tersendiri mengenai fenomena kemiskinan, begitu pula jika dikaitkan dengan berbagai persepsi dari susut pandang lain yang memiliki etimologis masing-masing mengenai hal tersebut. Bahkan, kemiskinan pun melibatkan unsur matematis dengan wujud-wujud angka yang meliputi rincian yang berkaitan dengan persoalan kemiskinan. Kita jangan lupa, selain lapisan sosial di tataran miskin, ada juga lapisan sosial yang berada di zona rentan miskin. Itu pun jangan sampai lepas dari perhitungan dan perhatian kita bersama.

Agama Islam, memiliki perhatian khusus dan ekstra mengenai hal-hal yang berkaitan dengan fenomena kemiskinan. Hal tersebut dibuktikan dengan seriusnya Islam mengatur persoalan harta dan kepemilikan bagi manusia. Ingat, salah satu rukun Islam itu adalah zakat yang merupakan salah satu daru sistem pengaturan harta yang ditetapkan Allah melalui agama Islam. Itu menjadi bukti bahwa Islam memberi solusi atas krisis sosial yang bisa mencuat yang diakibatkan dari persoalan harta kepemilikan. Belum lagi, anjuran yang ditekankan Islam dalam bentuk sedekah dan infak yang semuanya merupakan sistem penghubung sistem kesejahteraan dalam kompleksitas sosial.

Zakat, infak, dan sedekah menjadi senjata ampuh dalam mengurai persoalan kemiskinan yang mencuat ke permukaan. Hal tersebut sudah terbukti dan teruji menjadi solusi dalam menciptakan kondusivitas dalam tatanan sosial di masyarakat. Di mana pun, kapan pun, solsui yang ditawarkan Islam mengenai peroslan kemiskinan akan tetap relevan. Hanya saja, yang banyak jadi persoalan adalah keengganan penerapannya. Bisa jadi, kecintaan berlebih terhadap harta menjadi penghambat kenyamanan dan ketenteraman soaial yang seharusnya bisa dirasakan oleh setiap orang di lapisan sosial masing-masing. Baik lapisan sosial di taraf kaya sampai di taraf miskin akan sangat nyaman dalam berkativitas sosial saat kesadaran zakat, infak, dan sedekah sudah menjadi aktivitas yang membudaya.

Sampel ideal mengenai penerapan zakat, infak, dan sedekah tentu saja dapat diadopsi dari zaman Rasulullah yang kemudian dilanjutkan para Khalifah yang menjadi pengganti Rasul. Interaksi antara si kaya dan si miskin sangat cair tanpa kecanggungan satu dengan lainnya. Setiap individu sangat hati-hati dengan harta dan kepemilikan yang ada pada dirinya. Setiap individu memiliki habit untuk saling memerhatikan satu dengan lainnya. Kadang, fenomena itu berasal dari teladan dan anjuran sederhana Rasulullah yang bisa berdampak luar biasa bagi tatanan sosial. Contoh, Rasulullah memberikan arahan kepada sahabatnya (Abu Dzar), “jika masak masakan berkuah, perbanyak kuahnya dan perhatikan tetangga”. Ungkapan Rasul itu sederhana, namun bisa berdampak signifikan dalam tatanan sosial. Bayangkan jika setiap orang secara individu menerapkan konsep “berbagi makanan kepada tetangga”, apakah akan tetap terjadi kesenjangan sosial yang tinggi? Dengan konsep tersebut, kecemburuan sosial tidak akan mendapat ruang untuk berkembang biak. Artinya, si kaya dan si miskin akan terjalin ikatan sosial yang bisa berdampak terhadap tatanan sosial yang nyaman dan aman. Si miskin terjaga dari kelaparannya dan si kaya terjaga dari kecemburuan si miskin akan harta.

Bayangkan, jika hanya 10% penduduk Indonesia yang menerapkan konsep “berbagi makanan kepada tetangga”, berapa banyak jiwa yang terjamin dari rasa lapar? Bukankah konsep tersebut akan mampu meringankan  beban negara untuk melayani kaum miskin tersebut? Inilah proses edukasi Rasulullah dalam menciptakan tatanan sosial ideal dalam masyarakat. Hanya saja, masih banyak yang skeptis dan alergi dengan konsep yang Islam tawarkan. Atau, malu-malu mengakui betapa hebatnya Islam dalam membangun tatanan sosial di masyarakat.

Mari kita sama-sama aplikasikan rumus-rumus canggih yang sudah teruji dan terbukti menjadi solusi dalam masyarakat. Kita mulai dari saling perhatikan tetangga masing-masing. Jika ada tetangga yang masih teridentifikasi kelaparan, itulah sesungguhnya tanggung jawab kita sebagai tetangga dan sebagai umat Islam. Jadi, tugas kita adalah mengidentifikasi tetangga, dan beraksi nyatalah. Jaga tetangga, jaga bangsa! (/HFH)

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB