Kh. Aceng Zakaria

 

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِى وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرُسُوْلُهُ.

 

Al-Qur‘an dan As-Sunnah adalah dua sumber ajaran Islam yang telah disepakati oleh semua pihak, baik generasi salaf maupun khalaf. Al-Qur‘an diturunkan untuk dijadikan petunjuk atau pedoman hidup bagi manusia untuk meraih kesempurnaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di hari akhir yang abadi.

Oleh karena itu, setiap muslim dituntut untuk berpegang teguh dengan Al-Qur‘an dan As-Sunnah dan dijamin tidak akan tersesat selama berpegang teguh dengan keduanya.

Tetapi terkadang, tidak sedikit orang yang keliru dan salah dalam mengambil kesimpulan hukum dari Al-Qur‘an, akibatnya salah dalam mengamalkannya.

Orang-orang musyrik pada masa jahiliyah mereka menyembelih hewan sebagai persembahan kepada berhala, lalu memotong daging-daging hewan itu, selanjutnya disebarkannya sekitar Kabah, dan melumuri Kabah dengan darah-darah sembelihannya.

Begitu pula Abdul Muthalib menyembelih seratus unta lalu dibagikan daging-dagingnya kepada fakir miskin pada zaman Jahiliyyah. Itu semua bukanlah qurban, sekalipun dilakukan dengan niat yang baik, sebab apa yang dilakukan oleh mereka tidak semata-mata niat karena Allah.

Meskipun jumlah hewan yang diqurbankan sebanyak seratus unta, kemudian disembelih dengan rasa tulus hati, namun tiadalah ia termasuk qurban, sebab tidak mencerminkan ketauhidan, tidak berdasarkan taat kepada Allah, tapi karena petunjuk Kahin.

Islam hadir di tengah masyarakat yang penuh kemusyrikan dengan membawa salah satu syariatnya yaitu ibadah qurban. Meskipun tampak sama dari segi penyembelihan, lalu dibagikan dagingnya untuk masyarakat miskin tetapi tanpa dilandasi ketakwaan dan ketaatan, itu semua tidak akan sampai kepada Allah swt. berupa kebaikan yang hakiki.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرْ الْمُحْسِنِينَ

“Tidak akan sampai kepada Allah daging-daging (kurban) dan tidak darah-darahnya, tetapi ketakwaan kamulah yang sampai kepada-Nya. Demikianlah Ia mudahkan (kurban-kurban) itu untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang berbuat kebajikan.” QS. Al-Hajj: 37.

Melalui ayat di atas Allah swt. hendak mengingatkan bahwa yang sampai kepada-Nya dan dicatat sebagai suatu pahala kebajikan dalam berkurban bukanlah daging dan darah dari binatang yang mereka sembelih melainkan ketakwaan mereka kepada Allah swt. berupa ketaatan terhadap perintah-Nya.

Allah swt. tidak berkepentingan dengan daging dan darah binatang yang mereka sembelih, akan tetapi ketakwaan yang memancar pada amal saleh mereka yang Allah catat sebagai suatu kebajikan. Sehubungan dengan itu, Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah swt. tidak memandang rupa dan harta kamu, akan tetapi Ia memandang hati dan amal kamu.” HR. Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad.

Di sini Nabi saw. hendak mengingatkan bahwa tampilan fisik, status, dan kekayaan seseorang, tidak akan menjadikan seseorang mulia di hadapan Allah swt. karena kemulian itu terletak pada kesucian hati yang memancarkan ketakwaan.

Dalam ibadah kurban, Allah swt. akan menerima ketakwaan orang yang berkurban sebelum darah binatang sembelihannya itu menyentuh tanah dan daging kurban itu diterima mustahiknya.

Ini berarti ketakwaan yang akan diterima Allah swt. dari orang yang berkurban berupa keridaan-Nya kepada mereka karena senantiasa menjaga aturan Allah swt. dan Rasul-Nya dalam setiap melakukan ketaatan.

Dalam melaksanakan ketaatan ibadah qurban, diperlukan kaifiat qurban yang sesuai dengan Rasul saw., ada dua hal yang perlu diperhatikan; Pertama aspek kekuatan dalil, harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah; yaitu sahih atau hasan. Seandainya dhaif, maka dalil tersebut tidak dapat dijadikan hujjah. Kedua, aspek penunjukkan makna harus menunjukkan secara jelas dan pasti tidak mengandung ihtimalat (berbagai kemungkinan)

Dengan demikian jika hadis itu sahih tapi tidak sarih (jelas dan pasti), maka tidak dapat dijadikan hujjah, begitu pula sebaliknya jika haditsnya sarih namun haditsnya dhaif, maka tidak dapat dijadikan hujjah pula.

Buku ini mengurai secara ringkas dalil dan dilalah (penunjukkan makna) yang dijadikan hujjah oleh Dewan Hisbah dalam “Masalah Seputar ‘Idul Adha dan Qurban”, sehingga bisa menjawab keraguan umat dalam masalah yang masih diperselisihkan serta memelihara pelaksanaan ibadah qurban yang sesuai dengan petunjuk Nabi saw.

الله يأخذ بأيدينا إلى ما فيه خير للإسلام والمسلمين

 

Bandung, 21 Dzul Qa’dah 1440 H / 24 Juli 2019 M

 

Pimpinan Pusat Persatuan Islam

 

Ketua Umum,

KH.A. Zakaria

 

Dewan Hisbah Persatuan Islam. 2019. Masalah Seputar Idul Adha dan Qurban. Bandung-Persispres

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB