Oleh:
Dr. H. Ahmad Hasan Ridwan M. Ag
(Dirut Pusat Zakat Umat)
Perjalanan gerakan institusi zakat meniti di rentang waktu yang cukup panjang sejak diinisisasi tahun 1968 sampai dengan tahun 2018. Institusi zakat bergerak secara dinamis dan inovatif yang berjalan di atas waktu dengan perubahan yang ada. Setiap kemajuan yang terjadi dalam gerakan zakat adalah bagian integral sebuah perubahan (change) dan dinamika kehidupan dunia zakat dalam setiap masa (marhalah) yang dilewatinya. Dinamika gerakan zakat di Indonesia merupakan hasil dialektika positif dalam ruang dan waktu (space and time) sebagaimana tersurat secara tekstual dalam Kitab Suci, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS al-Hashr [59] : 18)
Waktu merupakan seri yang terdiri dari masa lampau, masa sekarang, dan masa depan. Masa mendatang (future) terdiri dari masa sekarang yang belum terjadi dan pada suatu ketika akan terjadi. Akhirnya, masa lampau dipahami sebagai masa sekarang yang dulu pernah ada, tetapi kini sudah tidak ada lagi. Struktur pemahaman waktu sebagaimana ada pada pegiat zakat/aktivis amil zakat dipandang penting (significant). Kesadaran pegiat zakat/aktivis amil mentransendir waktu sebagai aktus pelaksanaan diri dan potensi pelaksanaan diri dalam konteks kegiatan kongkrit empiris, it already is what it can be. Demikian dimensi waktu yang paling penting bagi pegiat zakat/amil masa mendatang yang harus didesain, direncanakan, dan dirancang. Oleh karena itu, secara historis, zona waktu yang dapat dipahami terdiri dari tiga gelombang.
Gelombang pertama adalah periode sebelum lahirnya UU Zakat. Kemudian, gelombang kedua adalah setelah UU Zakat lahir hingga hari ini. Dan, gelombang ketiga gerakan zakat adalah ketika zakat menjadi instrumen penting bagi negara, baik dianggap sebagai sumber biaya pembangunan bangsa, sumber peningkatan kesejahteraan, sekaligus sumber pengurang kemiskinan yang ada.
Tahun 2018 bagi institusi Pusat Zakat Umat (PZU) menjadi tahun pada periode gelombang ketiga yang sangat strategis dan menentukan bagi pembangunan dan pengembangan Pusat Zakat Umat. Nilai strategis tersebut dijelaskan oleh tiga argumen:
Pertama, tahun 2016 merupakan tahun implementasi aturan baru perzakatan di bawah rezim UU No 23/2011, dan Peraturan pemerintah (PP) dikeluarkan untuk memberikan kepastian hukum bagi pengelolaan zakat nasional.
Kedua, tahun 2016 adalah tahun aktualisasi nilai profesionalitas amil.
Ketiga, tahun 2017 adalah tahun konsolidasi amil PZU mulai dari tingkat pusat hingga perwakilan, kantor layanan, dan kantor layanan pembantu.
Keempat, masih di tahun 2017 menjadi tahun peningkatan dan pembenahan prasarana dan imfrastruktur kantor.
Kelima, tahun 2018 merupakan tahun pencapaian target minimal 50 miliar, produktivitas program, dan peningkatan sinergi institusi.
Berdasarkan kondisi sebagaimana dijelaskan di atas, maka Pusat Zakat Umat berharap di tahun 2019, Pusat Zakat Umat harus berusaha untuk mencapai target dan pencapaian penghimpunan dana ZIS sebesar 50 miliar secara bertahap. Target ini cukup berat dan menjadi tantangan yang harus dihadapi. PZU harus menjadi lembaga yang terbaik dengan kemampuan untuk menghimpun dana ZIS yang besar dan menarik perhatian donatur (muzaki, munfiq, dan mutashadiq); profesionalitas amil yang semakin meningkat dan menerapkan sistem manajemen SDI; menerapkan sistem akuntasi dan keuangan yang baik, transaparan, akuntabilitas; serta meningkatkan program-program pendayagunaan yang inovatif dan tepat sasaran dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi umat Islam.
Pada fase gelombang ketiga merupakan fase pengembangan di tengah perkembangan dunia yang semakin modern dewasa ini. Selain itu, ditambah dengan lahirnya UU no. 23 tahun 2011, PZU mesti beradaptasi dengan perkembangan modernisasi organisasi dan merupakan keniscayaan bagi setiap institusi sosial kemanusiaan karena organisasi adalah sebuah bentuk kerja sama antar manusia yang digunakan sebagai alat untuk mencapai sasaran tertentu.
Pusat Zakat Umat memiliki lima program unggulan yaitu: Umat Shaleh, Umat Pintar, Umat Peduli, Umat Sehat, dan Umat Mandiri. Selain itu, PZU memiliki jaringan Kantor Perwakilan, Kantor Layanan, dan Kantor Layanan Pembantu di berbagai daerah di Indonesia.
Berkenaan dengan hal itu, PZU menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pencapaian visi, misi, dan tujuan Organisasi Persatuan Islam (PERSIS). Bahkan, PZU merupakan ujung tombak pelaksanaan pengelolaan ZIS yang berdimensi ibadah dan sosial. Dalam hal ini, PZU secara lebih spesifik diarahkan untuk menjadi pusat pengelolaan donasi ZIS yang menghasilkan produk-produk pemberdayaan yang bermutu dan berdaya saing tinggi dengan pendistribusian yang tepat sasaran.
Dengan memperhatikan segi kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dimiliki PZU, ke depan perlu dilakukan evaluasi menyeluruh guna melakukan terobosan-terobosan dalam upaya penguatan dan peningkatan berbagai unsur yang masih dipandang sebagai kendala bagi pencapaian visi PZU sebagai center for excellent (pusat pengelolaan -dana ZIS- yang unggul) dan kompetitif pada Tahun 2020.
Terdapat beberapa unsur yang menjadi piranti penting dalam pencapaian visi tersebut, yang meliputi unsur utama dan unsur pendukung. Unsur utama yang perlu mendapat perhatian seksama bagi pengelolaan ZIS adalah penghimpunan, pendayagunaan, dan SDI. Sedangkan yang menjadi unsur pendukung, antara lain sistem, aturan, IT, sarana, prasarana, riset, serta jaringan. Karena itu, proyeksi ke depan perlu adanya upaya terobosan-terobosan baru yang dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas unsur utama dan unsur pendukung tersebut melalui kerjasama dan usaha lain sesuai dengan kemampuan dan peraturan yang berlaku.

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB