Senin, 14 Januari 2019, Persatuan Islam (PERSIS) diwakili Dr. Tiar Anwar Bachtiar didampingi oleh Direktur Eksekutif Pusat Zakat Umat (PZU), Angga Nugraha, S.Kom.i bersilaturahmi dengan perwakilan Persatuan muslim Uighur yang diwakili oleh Hidayet Oghuzan , Siraccudin Azizi, dan  Assoc. Prof . DR Ataullah SAHYAR.  Bertempat disalah satu rumah makan di Jakarta, perbincangan serius mengenai kondisi muslim Uighur disana cukup menyita perhatian di malam itu. Selama kurang lebih dua jam para perwakilan persatuan muslim Uighur menceritakan sejarah dan kondisi pilu muslim Uighur.
Selain berita yang menjadi sorotan dunia ketika dipulangkannya 100 warga muslim Uighur yang menjadi imigran oleh pemerintahan Thailand di tahun 2018, Sirojudil Azizi menceritakan kejadian yang memilukan lainnya bahwa pada tahun 2017 pemerintahan Republik Rakyat Cina (RRC) komunis pernah meminta kepada rezim kudeta Abdul Ahad Fatahzizi  untuk memulangkan sekitar 4000 orang siswa Cina yang ada di mesir, baik yang sedang berkuliah di al-Azhar atau universitas lain nya,  kemudian mulailah dipulangkan sekitar 400 orang terlebih dahulu. Tanpa disangka 400 orang yang dipulangkan langsung ditangkap dan dimasukan kepenjara di kamp konsentrasi, mendengar kejadian tersebut  itu mahasiswa yang lain langsung “berterbangan”, bahkan kala itu 2000 orang ada yang masuk ke Turki. Menurut beliau, Ini merupakan salah satu cara sistematis untuk tidak menyisakan identitas muslim apapun di Uighur.
Dalam dua tahun terakhir, kejadian seperti ini semakin intensif dengan adanya kamp konsentrasi. Beliau menjelaskan bahwa kamp konsentrasi adalah sebuah lokasi tempat dilakukannya doktrinasi secara paksa terhadap ideologi komunisme terhadap rakyat muslim Uighur, warga yang tinggal di kamp konsentrasi harus mengikuti upacara satu minggu satu kali, dan dalam upacara tersebut mereka harus menyatakan secara verbal bahwa yang memberikan rizki, kesejahteraan, dan masa depan yang cerah adalah Xi Jinping dan partai komunis cina bukan yang lain.
Tidak hanya itu, pemaksaan makan daging babi dan meminum khomr dilakukan, bahkan tidur  hanya selama 3-4 jam saja karena kurang tidur dianggap sebagai salah satu cara untuk doktrinasi, bahkan penghuni kamp konsentrasi diharuskan menandatangani baiat untuk melepaskan keyakinan mengenai tuhan, mengenai agama, mengenai syariat Islam. Kamp konsentrasi ini merupakan hal yang paling dikhawatirkan, karena jika kamp konsentrasi ini semakin efektif berjalan maka identitas muslim yang tersisa akan hilang dalam waktu yang singkat.
Selain itu, penderitaan tidak hanya dirasakan bagi yang tinggal di kamp konsentrasi saja, yang tidak tinggal di kamp konsentrasi pun tidak diberi kebebasan beribadah. Salah satu contohnya di buatkannya sebuah kartu, yang merupakan kartu izin untuk masuk masjid, dan kartu ini hanya berlaku untuk satu masjid saja, bahkan untuk mendapatkan sebuah kartu masjid harus dengan syrata syarat yang berat. Tekanan beribadah tidak sampai disitu, setelah muadzin mengumandangkan adzan, muadzin harus mengucapkan “Xi Jinping panjang umur partai komunis cina” dan juga harus diucapkan oleh yang lainnya setelah melaksanakan solat, juga berkibar bendera RRC di dalam masjid tersebut.
Dalam akhir cerita tentang kondisi muslim Uighur, Sirojudil Azizi menaruh harapan bahwa kedatangannya ke Indonesia sebagai salah satu ikhtiar dan memohon kepada Allah swt agar Allah mengukuhkan ukhuwuwah kita sebagai sesama muslim, sebagaimana  diwasiatkan oleh nabi kita Muhammad saw bahwa umat Islam itu adalah satu tubuh dimana satu dan lainnya saling menguatkan dan kalau sebgian merasakan sakit maka yang lain juga akan merasakan sakit. “mudah-mudahan dengan ukhuwah yang kita bangun ini Allah swt mengembalikan kekuatan kita dan menurunkan pertolongan dan kemenangan insyaallah” ujarnya.
 
 
 
 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB