Kadang orang bingung tentang qadha dan fidyah. Kapan harus Qadha dan kapan harus Fidyah? Siap saja yang Perli qadha dan Fidyah?Berikut pertanyaan-pertanyaan umum tentang hal tersebut yang dirangkum oleh Ustadz Kh Aceng Zakaria, dalam bukunya :Fatwa-fatwa Seputar Ramadhan”.

 

Kh. Aceng Zakaria

 

  1. Siapa saja yang boleh membatalkan Shaum?

 

Allah telah banyak memberikan keringanan untuk tidak melaksanakan shaum Ramadhan. Di antaranya dalam al-Qur’an ditegaskan:

 

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ

 

“maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Q.S. al-Baqarah: 184)

 

Berdasarkan ayat ini, berarti yang sakit dan yang be pergian boleh membatalkan puasanya tetapi wajib mengqadha di hari-hari lain.

 

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

 

“…dan wajib bagi orang-orang yang berat men jalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” (Q.S. al-Baqarah: 184)

 

Menurut para ahli tafsir, yang termasuk kategori الذين يطيقونه ialah:

 

  1. Yang sedang mengandung.

 

  1. Yang sedang menyusui.

 

  1. Yang bekerja berat yang sekiranya berat sekali untuk melaksanakan shaum.

 

  1. Yang berpenyakit yang sudah menahun yang diperkirakan tidak sembuh lagi.

 

Terhadap mereka diberikan rukhsah (keringanan untuk tidak melaksanakan puasa tetapi wajib membayar fidyah.

 

  1. Berapa ukuran membayar Fidyah?

 

Didalam ayat al-Qur’an hanya ditegaskan memberi 1062 makan kepada orang miskin dan tidak ditentukan berapa banyaknya. Ini berarti menurut kebiasaan sehari-hari ia makan. Dalam ayat lain ditegaskan;

 

… مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ…

 

“…yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu.” (Q.S. al-Maidah: 89)

 

 

Ini berarti relatif. Mungkin ada yang cukup makan dengan uang Rp. 20.000. Mungkin ada yang cukup dengan uang Rp. 40.000. Mungkin juga ada yang lebih dari itu. Untuk seorang menteri atau seorang konglomerat tentu saja tidak cukup untuk membayar fidyah dengan uang Rp. 40.000, karena ke kebiasaan makan sehari-harinya lebih dari itu.

 

Dan jika membayar lebih dari kebiasaan sehari-hari tentu lebih baik sebagaimana firman Allah SWT:

 

…فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ…

 

“barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan, maka itulah yang lebih baik baginya.” (Q.S. al-Baqarah: 184).

 

Umpamanya dengan memberi makan kepada dua orang miskin atau memberikan lebih dari kebiasaan sehari-hari. Umpamanya dengan memberikan uang Rp. 50.000 per hari padahal kebiasaan makannya cukup dengan Rp. 25.000 saja.

 

  1. Bagaimana andai membayar Fidyah juga tidak mampu ?

 

Ada satu kasus di zaman Nabi yaitu ada seseorang datang kepada Nabi, dan ia mengakui bahwa ia telah mencampuri istrinya di siang hari Ramadhan. Kemudian Nabi bertanya padanya: “Dapatkah anda memerdekakan seorang hamba sahaya?” la menjawab: “Tidak.” Kemudian Nabi bertanya lagi: “Mam pukah anda untuk shaum dua bulan berturut turut?” la menjawab: “Tidak.” Nabi bertanya lagi: “Mampukah anda untuk memberi makan kepada 60 orang miskin?” la menjawab: “Tidak.” Kemudian ia duduk, kemudian Nabi diserahi sekantong kurma, lalu Nabi mengatakan: “Sedekahkanlah kurma ini. “la bertanya: “Apakah mesti aku berikan kepada orang yang lebih miskin daripada kami? Padahal kami yang termiskin di kampung ini.” Nabi tersenyum kemudian Nabi mengatakan: “Pergilah dan berikanlah kepada keluargamu.” (H.R. Imam yang tujuh)

 

Dari hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa jika seseorang tidak mampu bayar fidyah, qadha pun tidak mungkin, maka ia terbebas karena itu di luar kemampuannya. Allah SWT berfirman:

 

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا…

 

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (Q.S. al-Baqarah: 286)

 

  1. Mestikah membayar Fidyah langsung setiap hari ?

 

Tidak ada satu ketentuan atau syarat dalam agama bahwa membayar fidyah itu harus langsung setiap hari. Oleh karenanya, boleh dikeluarkan setiap hari, boleh juga ditangguhkan dan dibayar di luar bulan Ramadhan.

 

  1. Kapan harus mengqadha Shaum ?

 

Dalam al-Qur’an ditegaskan:

 

… فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ…

 

“…maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Q.S. al-Baqarah: 184)

 

Dalam ayat tersebut tidak ditentukan hari yang mana atau bulan yang mana. Ini berarti qadha itu bebas di bulan yang mana saja termasuk jika nyebrang ke tahun yang berikutnya yaitu melampaui bulan Ramadhan lagi. Tetapi tentu saja lebih cepat mengqadha lebih baik.

Sedekak Di Bulan Ramadan Yuk,,,

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB