Tulisan ini meneruskan pertanyaan-pertanyaan umum yang sering ditanyakan masyarakat, kaum milenial, bapak-bapak, ibu-ibu (ibu-ibu gais) hehe, dan semua yang ada disini. Di tulisan Kh. Aceng Zakaria ini menjawab peranyaan seorang ibu yang melahirkan di bulan ramadhan. Apakah harus qadha atau fidyah? Cekidot,,,

 

Kh. Aceng Zakaria

 

  1. Bagaimana jika melampaui Ramadhan lagi, cukupkah dengan Qadha atau harus ditambah dengan Fidyah?

 

Ada yang berpendapat bahwa jika melampaui Ramadhan berikutnya maka wajib qadha ditambah membayar fidyah.

 

Tetapi pendapat tersebut tidak ada dasar hukum nya baik dari al-Qur’an maupun dari hadits yang shahih. Oleh karena itu, cukup qadha saja dan tidak mesti membayar fidyah.

 

  1. Bagaimana jika mau mengqadha di bulan Syawal; bolehkah Shaum Syawal dulu atau harus mendahulukan Qadha ?

 

Ada yang berpendapat bahwa harus mengqadha dahulu sebelum shaum sunnah Syawwal. Mengingat qadha mah wajib shaum syawal mah sunat, masa mendahulukan sunat sebelum yang wajib?

 

Sebetulnya tidak ada ketentuan seperti itu. Bukti nya sholat subuh juga sunat qobla subuh dulu sebelum yang wajib. Berarti boleh saja seseorang mendahulukan puasa syawal dahulu mengenal waktunya terbatas sementara qadha mah bebas dan leluasa waktunya.

 

  1. Mestikah orang yang sudah pikun dikeluarkan Fidyahnya ?

 

Orang yang sudah pikun sudah tidak terkena taklif (perintah agama). Berarti sudah tidak mukallaf lagi. la tidak wajib shalat dan tidak wajib puasa dan kewajiban yang lainnya. Berarti orang yang sudah pikun sudah terbebas dari perintah agama. Untuk itu orang yang sudah pikun tidak usah dibayarkan fidyahnya karena sudah tidak mukallaf lagi.

 

  1. Bagaimana mayat yang mempunyai hutang puasa; mestikah dipuasakan oleh keluarganya ?

 

Dalam hal ini ada yang berpendapat mesti puasakan oleh keluarganya mengingat ada hadits dibawah ini:

 

Dari ‘Aisyah ra, sesungguhnya Nabi SAW ber sabda: “Barangsiapa yang mati dan meninggalkan  hutang shaum maka shaumkanlah oleh walinya.” (H. R. Bukhâri dan Muslim)

 

Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa mayit yang mempunyai hutang puasa tidak mesti di puasa kan oleh walinya mengingat:

 

  1. Shaum itu adalah Fardhu Ain, tidak bisa diwakili oleh yang lain seperti halnya shalat wajib adalah Fardhu ‘Ain, tidak bisa diwakili oleh orang yang lain.

 

  1. Yang dimaksud dengan wali dalam hadits itu Heb siapa? Apakah wali nikah atau wali yang mana? Kalau yang dimaksud dengan wali di situ adalah wali nikah, berarti:

 

  1. Anak perempuan tidak boleh mempuasakan orang tuanya atau saudara laki-lakinya karena perempuan tidak berhak menjadi wali.

 

  1. Seorang istri tidak boleh mempuasakan suaminya karena istri tidak berhak menjadi wali.

 

  1. Jika yang meninggal itu tidak bermaksud untuk membayar hutang puasanya, apakah kira-kira bisa bebas dosanya dengan puasakan oleh yang lain? Tentu saja tidak dan tetap saja berdosa.

 

  1. Jika yang meninggal itu sudah ada niat untuk membayar hutang puasanya tetapi keburu meninggal, tentu saja ia tidak berdosa karena sudah ada niat untuk membayar hutang puasanya, walau tidak dipuasakan oleh keluarganya.

 

  1. Mengingat ayat al-Qur’an yang berbunyi:

 

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ 38 وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ39

 

“(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain; dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Q.S. al-Najm: 38-39)

 

Ayat ini menegaskan bahwa seseorang tidakakan dapat memikul atau menanggung dosa orang lain. Demikian juga seseorang tidak akan mendapatkan balasan dari amal shaleh yang dilakukan orang lain.

 

  1. Mengingat pendapat para imam madzhab;

 

“Imam Malik Abu Hanifah dan asy-Syafi’i dalam qaul jadidnya telah berpendapat bahwa tidak harus dipuasakan secara mutlak oleh siapapun hutang puasa seseorang yang telah meninggal dunia.” (Nail al-Authår, 4: 264, Fath al-Båri, 4: 168)

 

  1. Mengingat pendapat shahabat Nabi SAW

 

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Tidak mesti shalat seseorang atas nama seseorang (lain nya), serta tidak boleh puasa seseorang untuk seseorang.” (H.R. al-Nasa`i)

 

“Dari Malik, telah sampai kepadanya bahwa Abdullah bin ‘Umar pernah ditanya, bolehkah seseorang berpuasa untuk seseorang atau shalat untuk seseorang? Ibnu ‘Umar men jawab: “Tidak boleh seseorang berpuasa atau shalat untuk seseorang.” (al-Muwaththa,1:282)

 

KESIMPULAN:

 

Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut di atas, maka mayit yang mempunyai hutang puasa tidak mesti dipuasakan oleh walinya/keluarganya.

 

  1. Mestikah yang safar membatalkan Shaumnya?

 

Membatalkan shaum bagi yang safar adalah rukhshah (keringanan), satu kemurahan bukan satu keharusan. Ditambah pula di akhir ayat al-Baqarah ayat 184 dinyatakan:

 

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

 

“…dan shaum itu lebih baik jika kamu mengetahuinya.” (al-Baqarah: 184)

 

Dengan demikian orang yang sakit atau yang dalam perjalanan, andai ia kuat untuk berpuasa maka lebih baik berpuasa.

 

  1. Bagaimana kedudukan hadits di bawah ini ?

.

 

“Tidak termasuk baik shaum bagi yang sedang safar.”

 

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari;

 

Dari Jabir bin Abdillah r.a, ia berkata: “Adalah Rasulullah SAW dalam perjalanan, kemudian beliau melihat seseorang yang sedang dinaungi sekelompok orang. Nabi SAW bertanya: “Apa yang terjadi? Mereka berkata: “Laki-laki itu tengah berpuasa.” Nabi bersabda: “Bukanlah suatu kebaikan berpuasa pada saat melakukan perjalanan.” (H.R. Bukhari, 1: 333)

 

Hadits tersebut tidak menunjukkan haram berpuasa bagi yang safar. Tetapi shaum itu lebih utama bagi yang kuat untuk berpuasa dan berbuka puasa itu lebih utama bagi yang berat untuk berpuasa. Demikian Ibnu Hajar menyimpulkan.

 

Untuk perbandingan bisa dilihat hadits Muslim yang berbunyi:

 

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kamu telah dekat dari musuh kamu dan berbuka puasa lebih kuat bagi kamu.” (H.R. Muslim)

 

Hadits ini menunjukkan bahwa dalam kondisi umat Islam membutuhkan kekuatan fisik dalam menghadapi peperangan, maka Nabi menganjurkan berbuka puasa.

 

Dalam satu riwayat, Nabi SAW menjawab kepada seseorang yang bertanya:

 

“Apakah boleh aku berpuasa di saat aku dalam perjalanan? Nabi SAW menjawab: “Jika mau berpuasa silahkan dan jika mau berbuka juga silahkan.” (H.R. Bukhari)

 

Dengan demikian maka berbuka puasa dalam perjalanan adalah satu rukhshah/kemurahan dari Nabi.

 

  1. Bagaimana seorang ibu yang melahirkan tanggal Ramadhan; apakah ia harus Qadha atau bayar Fidyah karena sedang menyusui ?

 

Seorang ibu yang melahirkan tanggal 1 Ramadhan tentu saja selama Ramadhan ia tidak berpuasa karena sedang masa nifas yang pada masa nifas haram berpuasa seperti halnya yang sedang haid.

 

Berarti perempuan yang nifas tidak berpuasa bukan karena rukhsah tetapi karena yang nifas haram berpuasa. Berarti tidak boleh dibayar dengan fidyah, karena fidyah itu bagi orang yang wajib berpuasa tetapi tidak kuat berpuasa karena sedang mengadung atau menyusui.

 

Adapun menyusui di saat nifas, itu tidak bisa di jadikan alasan untuk dibayar dengan fidyah, sama halnya seperti yang sedang haid menyusui tidak bisa dibayar dengan fidyah tetap saja harus qadha.

 

Tetapi jika melahirkan tanggal 10 Sya’ban berarti tanggal 20 Ramadhan habis masa nifasnya. Berarti 20 hari Ramadhan tidak puasa karena alasan nifas dan sisanya 10 hari tidak berpuasa karena me menyusui, berarti 20 hari harus dibayar dengan qadha dan 10 hari dibayar dengan fidyah karena memenyusui Adapun kapan qadhanya karena tahun itu harus menyusui, hal ini bebas saja karena untuk qadha itu bisa di hari-hari yang lain walau harus melewati Ramadhan berikutnya.

 

  1. Dalam kitab-Kitab fiqih dijelaskan bahwa yang hamil atau yang sedang menyusui jika ia membatalkan Semuanya maka harus dibayar dengan Qadha dan Fidyah; betulkah demikian?

 

Fidyah itu adalah pengganti qadha dan qadha itu adalah pembayar shaum di saat tidak bisa dilakukan karena alasan sakit umpamanya atau bepergian, setiap orang hanya dibebani satu kewajiban yaitu shaum Ramadhan dan jika tidak mungkin maka diganti dengan qadha atau fidyah.

 

Jadi kalau yang hamil atau yang sedang menyusui wajib qadha dan fidyah, ini berarti ada kewajiban ganda, padahal yang asal hanya satu kewajiban.

 

Dengan demikian berarti bagi yang hamil atau yang sedang menyusui cukup dengan fidyah saja tidak harus dengan qadha.

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB