Oleh:
Inna Hanafiah

Muslimah yang berarti perempuan muslim, di mana dalam menjalankan perannya tentu tidak jauh berbeda dari perempuan yang lainnya. Namun, akan berbeda dengan perempuan kebanyakan, mengapa? karena dia terlahir untuk mengabdi dan menyerahkan segala urusan hidupnya kepada Allah Swt. yang telah menciptakannya. Dengan demikian, segala sisi kehidupannya memiliki pola khusus sebagai ciri perbedaan dari perempuan kebanyakan. Seperti apakah itu? pola khusus yang dimaksud adalah seperti dari cara dia berpakaian, bertutur, bersikap, dan dalam hal menentukan pilihan hidupnya.

Islam sangat menjunjung tinggi terhadap kedudukan perempuan sebagaimana sejarah telah mencatat Islam tidak mendiskriditkan dan memarginalkan pada ruang publik, namun mereka dilindungi dengan kebebasan yang cantik dan teratur yang disesuaikan dengan fitrahnya. Mereka tidak berkewajiban untuk pergi berperang mengangangkat senjata, tapi mereka diperbolehkan pergi dengan maksud berjihad dengan tugas yang disesuaikan dengan kemampuannya saat itu, yakni seperti menjadi tim medis bagi pasukan kaum muslimin yang terluka. Sebagai istri, dia tidak berkewajiban susah payah mencari nafkah untuk keluarganya tapi suamilah yang memiliki kewajiban itu. Mereka diperbolehkan menuntut ilmu, berniaga, dan aktivitas lainnya.

Hingga saat ini, Islam pun tetap membuktikan bahwa para muslimah tidak dikekang untuk bergerak. Jadi, apapun mereka asal tetap pada fitrahnya, yang mana dapat melindunginya sebagai perempuan, yang dengan kecerdasan akal dan hatinya dia menjadi sosok yang penuh kelembutan, pribadi hangat yang memiliki cinta dan kasih sayang, juga sosok pembangun hati dan rasa.

Banyak profesi yang dapat menjadi pilihan kaum muslimah. Bahkan di era modern ini, bermunculan pula profesi baru, aktivitas yang dihasilkan dari sebuah kreativitas manusia guna memenuhi kebutuhannya agar lebih cepat, tepat, dan menghasilkan karya baik.

Jiwa kepemimpinan yang dimiliki seseorang mampu mendorong kecerdasannya, tidak hanya untuk mencipta tapi juga mengatur bagaimana hasil karyanya dapat disebarluaskan dan dinikmati banyak pihak atau bahkan dapat memberikan manfaat. Siti Khadijah sebagai Ummul Mukminin pertama adalah sosok tauladan. Sebelum menikah dengan Rasulullah Saw., beliau tercatat sebagai saudagar sukses. Khadijah tumbuh dalam lingkungan keluarga terhormat dan menjadi seorang perempuan yang cerdas dan mulia. Sepeninggal ayahnya, hanya putrinya, Khadijah yang mampu mewarisi keterampilan ayahnya. Usahanya terus dikembangkan oleh Khadijah dengan jerih payah sendiri. Dengan kerja kerasnya, dia akhirnya mematahkan opini masyarakat yang memandangnya kaya hanya karena warisan. Selain cerdas dan tidak suka berfoya-foya, Khadijah dikenal memiliki jiwa sosial yang tinggi. (Humam Kasyful, AW : 39)

Setelah menikah dengan Rasulullah, aktivitas beliau tidak terhenti dalam pengabdian, sikapnya mampu menggetarkan siapa saja yang mencoba mengenalnya. Atas segala keyakinan yang dimiliki kepada Allah Swt, tidak menjadi halangan walau kemudian harta menjadi taruhannya. Maka patut dicatat bahwa Khadijah adalah salah satu contoh bagi perempuan Islam, tapi juga bagi dunia bahwa telah terlahir pengusaha perempuan sukses, dermawan, seorang istri setia, dan seorang ibu yang bijaksana.

Selain Khadijah, Zainab binti Zahsy pun tercatat sebagai perempuan kreatif. Beliau adalah pemilik Home Industry kerajinan Qirbah. Zainab memanfaatkan maraknya jual beli kulit binatang untuk mengembangkan bisnis kerajinan rumah tangga berupa tempat air yang terbuat dari kulit binatang. (Humam Kasyful, AW : 45) Zainab mendedikasikan hasil bisnisnya untuk membantu masyarakat kurang mampu dengan cara menyedekahkan sebagian bisnisnya dan memberikan pelatihan kepada meraka yang memiliki potensi untuk menggeluti di bidang yang ditekuninya sebagai upaya pemberdayaan. Maka dengan demikian, tidak hanya untuk kepentingan individunya saja, tapi ia membangun kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar.

Islam tidak pernah memiliki ruang kosong dari hal yang patut dijadikan panutan. Keseimbangan antara kecerdasan akal dan hatinya senantiasa seimbang, juga peran yang dijalankan baik dia sebagai perempuan mandiri, seorang istri, seorang ibu, dan sebagai anggota masyarakat. Kaum perempuan memiliki peran yang mulitidimensional, di suatu sisi kaum wanita tidak terelakan perannya di sektor publik bersama kaum pria. Kaum perempuan bisa berada di garda depan dalam mencurahkan perhatiannya demi pembangunan keluarga, masyarakat, dan bangsa. Dan di sisi lain, yaitu pada sektor domestik, mereka adalah penyalur dan pembina kehidupan yang keberadaanya berpengaruh besar sebagai modal dari segala bentuk hubungan manusiawi, dalam hal melahirkan, dan membentuk generasi baru yang berkualitas. (Jati Diri Wanita Muslimah, vii : 2012)

Tidak terkecuali perannya dalam pemberdayaan masyarakat, seperti pada sektor ekonomi. Dengan usaha yang digelutinya, sedikit banyak, perempuan mampu menggerakan kemampuan banyak manusia. Saat ini pun, banyak terlahir Khadijah dan Zainab modern yang dengan kemampaunnya dapat membuka lapangan kerja baru, baik di bidang kuliner, fashion, kerajinan, jasa, dan lain sebagainya. Dengan demikian, harapan jangka panjangnya adalah adanya peningkatan skill dan kesejahteraan umat dapat tercapai. Dan, tentu aktivitas di bawah kepemilikan seorang perempuan tidak melupakan atas fitrahnya sebagai perempuan yang miliki hak dan kewajiban sesuai dengan peran yang dimilikinya.
Wallohu ’Alam bis Shawab

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB