Oleh:
Gyan Puspa Lestari, Lc., M.Pd
(Penasihat PP Pemudi Persis)

Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama. Keluarga dikatakan sebagai lingkungan pendidikan pertama karena setiap anak dilahirkan di tengah-tengah keluarga dan mendapat pendidikan yang pertama di dalam keluarga. Dikatakan utama karena pendidikan yang terjadi dan berlangsung dalam keluarga ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pendidikan anak selanjutnya.
Dalam pandangan Islam, pendidikan anak di keluarga merupakan tanggung jawab orang tua. Orang tua terdiri dari ayah dan ibu. Sebagaimana ibu, ayah merupakan bagian dari parenting. Keduanya harus sama-sama mengambil peran dalam pertumbuhan dan perkembangan anaknya.
Ibu memiliki peran yang sangat besar di keluarga. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang paling dikenal dan dekat dengan anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak baik fisik, psikis, sosial, dan spiritual, sangat ditentukan oleh lingkungan keluarga. Dalam lingkungan keluarga, ibu berperan memberikan pendidikan dasar bagi anak-anaknya. Dalam proses pendidikan tersebut, ibu menjadi guru pertama bagi sang anak sebelum dididik oleh orang lain.
Ayah adalah bagian yang tak terpisahkan dalam keluarga. Peran ayah dalam pendidikan pun tidak kalah penting. Di dalam al-Qur’an terdapat 17 dialog pengasuhan yang tersebar di sembilan surah. Ke-17 dialog tersebut terbagi; 14 dialog antara ayah dan anak, 2 dialog antara ibu dan anak, 1 dialog antara kedua orang tua dan anak. Hal ini menunjukkan betapa besarnya peran ayah dalam mendidik anak.
Momentum Iedul Adha mengingatkan kita pada suri tauladan agung dalam pendidikan keluarga yang ideal. Adalah keluarga Ibrahim as. dengan kisah pengorbanannya yang luar biasa. Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar as. adalah potret keluarga sempurna dalam pengabdian dan penghambaan kepada Allah Swt. Kisah mereka diabadikan dalam al-Qur’an surah ash-Shaffaat ayat 99-113.
Di usia Nabi Ibrahim as. yang sudah renta, Allah Swt. belum juga menganugerahi keturunan baginya. Sementara Siti Sarah, istrinya yang juga sudah tua, tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Bagi Nabi Ibrahim as., anak bukanlah sekedar pelanjut keturunan, namun sekaligus pewaris risalah kenabian. Oleh karenanya, Nabi Ibrahim tidak putus-putusnya berdoa kepada Allah agar dikaruniai keturunan.

رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ١٠٠ فَبَشَّرۡنَٰهُ بِغُلَٰمٍ حَلِيمٖ ١٠١

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS Ash-Shafaat [37] : 100-101)
Diriwayatkan oleh Bukhari, dari Abdullah bin Abbas ra.; “Wanita pertama yang memakai sabuk kain adalah Ibu Ismail. Dia memakainya dan menyembunyikan kehamilannya dari Sarah. Sampai kemudian Ibrahim membawanya (ke Mekah) dalam keadaan sedang menyusui Ismail. Ibrahim meninggalkannya di sebuah lembah yang tidak ada tumbuhan dekat Baitullah yang mulia. Saat itu, di Mekah tidak berpenghuni dan tidak ada sumber air. Ibrahim meninggalkannya di sana. Dia juga meninggalkan bekal berupa satu kantung berisi kurma dan air. Setelah itu Ibrahim pergi“.
Ibu Ismail mengikutinya dan bertanya, “Hai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi? Engkau tega meninggalkan kami di lembah yang tidak ada apapun di sini?” Dia terus menanyakan hal itu. Tetapi, Ibrahim sama sekali tidak menengok ke belakang. Sampai kemudian dia bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Ibu Ismail berkata, “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Setelah itu dia kembali.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman dalam ayat selanjutnya;

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS Ash-Shaffaat [37] : 102)
Dalam ayat ini, Allah Swt. menerangkan ujian yang berat bagi Ibrahim as., ketika Allah Swt. memerintahkan kepadanya agar dia menyembelih anak satu-satunya, sebagai kurban di sisi Allah. Perintah yang amat berat itu pun disambut Ismail as. dengan penuh kesabaran. Ia menyanggupi dan menyerahkan lehernya untuk disembelih. Bukan itu saja, Ismail yang tahu persis bahwa perintah itu pasti amat berat bagi ayahnya, ia mendorong keteguhan jiwa Ibrahim as. untuk melaksanakan perintah Allah tersebut.
Disebutkan dalam buku “Sejarah Hidup Muhammad”, bahwa ketika Ibrahim menyatakan kepada anaknya tentang mimpinya itu dan meminta pendapatnya, ‘Ayah lakukanlah apa yang diperintahkan,’ lalu katanya lagi: ‘Ayah, kalau ayah akan menyembelihku, kuatkanlah ikatan itu supaya darahku tidak kena Ayah dan akan mengurangi pahalaku. Aku tidak menjamin bahwa aku tak akan gelisah bila dilaksanakan. Tajamkanlah parang itu supaya dapat memotongku sekaligus. Bila ayah sudah merebahkan aku untuk disembelih, telungkupkan aku dan jangan dimiringkan. Aku khawatir bila ayah kelak melihat wajahku, ayah akan jadi lemah, sehingga akan menghalangi maksud ayah melaksanakan perintah Allah. Kalau ayah berpendapat akan membawa bajuku ini kepada ibu kalau-kalau menjadi hiburan baginya, lakukanlah, ayah’. ‘Anakku,’ kata Ibrahim, “sikapmu ini merupakan bantuan besar dalam melaksanakan perintah Allah.” (Muhammad Husain Haekal, 2014 : 26)
Namun, tatkala keduanya telah berserah diri, dan Nabi Ibrahim membaringkan Nabi Ismail pada salah satu pelipisnya. Allah Swt. menggantinya dengan seekor kambing sembelihan. Peristiwa inilah yang selanjutnya menjadi dasar disyariatkannya ibadah kurban yang dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah dan tiga hari sesudahnya (ayyaamut tasyriiq).
Karena ketaatan, perjuangan, dan pengorbanan Nabi Ibrahim as. inilah, maka Allah Swt. memberinya gelar “Khaliilullah” atau “Khaliilur Rahman”, artinya Kekasih Allah Swt. Dan karena kesabaran dan kepasrahan Nabi Ismail as., Allah Swt. menjulukinya sebagai “Al-Haliim”, yang berarti penyantun atau penyabar.
Keluarbiasaan Ismail adalah buah dari pendidikan dan bimbingan dari seorang ibu yang juga sangat luar biasa. Inilah peran besar dari Siti Hajar, perempuan yang telah dipilih Allah untuk mendampingi Ibrahim as. dan melahirkan keturunan para nabi. Siti Hajar telah berhasil mentransformasikan kesalehan, kesabaran, kepasrahan, dan ketakwaannya kepada anak yang amat dicintainya.
Gambaran keluarga Nabi Ibrahim ini memberikan kepada kita beberapa pelajaran penting dalam berkeluarga, di antaranya pentingnya menciptakan keluarga yang taat kepada Allah Swt. dengan menanamkan nilai-nilai ketuhanan dalam setiap anggota keluarga. Itulah mengapa pelaksanaan ibadah kurban tidak bisa dipisahkan dari keluarga. Kemudian, pentingnya menciptakan komunikasi yang baik antara suami dengan istri, orang tua dengan anak dan begitu juga sebaliknya anak dengan orang tua. Dan juga menanamkan nilai kasih sayang kepada anggota keluarga kita. Sebab, kasih sayang merupakan komponen dasar yang utama dalam proses pendidikan dan pembentukan akhlak anak.
Wallaahu ‘Alam bis Shawab

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB