Dra. Lia Yuliani, M.Ag

 

Ujian pandemi yang menimpa kaum muslim secara khusus maupun umat manusia secara umum, dirasakan berpengaruh terhadap berbagai bidang kehidupan. Baik dari bidang ekonomi, sosial, maupun dalam bidang pendidikan. Masyarakat dikondisikan untuk menjaga jarak secara fisik (social distancing) guna mengurangi penularan penyakit yang kita kenal dengan virus Covid-19.

Meski begitu, aktivitas pembelajaran baik formal maupun nonformal perlu terus berjalan kepada anak-anak di rumah. Sehingga, salah satu metode yang dianggap menjadi solusi ialah pembelajaran secara daring/via online; melalui media telekomunikasi. Pembelajaran dapat di­lakukan tanpa harus berkumpul dan bertemu secara fisik sebagaimana pembelajaran tatap muka di sekolah seperti biasanya.

Para orang tua tentu sudah dapat merasakan bagaimana keterbatasan dari pendidikan via online tersebut. Terlebih lagi, bila dibandingkan dengan pembelajaran secara tatap muka dan berkumpul dalam satu majelis/kelas. Maka, belajar kepada guru secara tatap muka tidak dapat tergantikan dengan pembelajaran via sinyal telekomunikasi, baik ditinjau dari sisi efektifitas metode pembelajaran, maupun dari sisi pemahaman yang didapat.

Meski begitu, kita umat muslim meyakini selalu ada kemudahan dalam setiap kesulitan. Bahkan, dalam ujian yang Allah berikan pasti terkandung hikmah dan kebaikan yang besar bila dijalani dengan sabar dan doa. Sehingga sangat memungkinkan, justru Allah sedang ingin memberikan sarana pendidikan terbaik untuk keluarga melalui sentuhan pendidikan langsung dari orang tua terhadap anak-anaknya.

Pembaca Tazkiah yang dirahmati Allah, Rasulullah saw. bersabda: “Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anak­nya selain pendidikan yang baik”. (HR Tirmidzi: 1952)

Melalui hadits di atas, Rasulullah saw.mengingatkan bahwa pemberian utama orang tua kepada anaknya bukanlah berupa harta benda, melainkan pendidikan terbaik. Maka, salah satu hikmah dari ujian pandemi ini yang dapat dirasakan ialah terjalinkan komunikasi dan kedekatan dalam keluarga, juga kedekatan orangtua terhadap anak-anak di rumah.

Kesempatan yang Allah berikan kepada orangtua untuk mendidik anak terbuka sangat lebar. Di sisi ini, kita dapat merasakan bahwa Allah sedang memberikan nikmat kepada para orang tua melalui aktivitas mendidik anak-anaknya, di mana pendidikan kepada anak-anak akan Allah mintai pertanggungjawabannya dan kesolehan anak-anak akan menjadi amal jariah bagi orangtuanya yang tidak terputus sampai dengan yaumil akhir.

Pembelajaran di rumah menuntut orangtua terlibat aktif dalam pengajarannya. Maka dari itu, orang tua perlu memiliki ilmu tentang bagaimana menjalankan pendidikan terbaik dalam mendampingi belajar anak-anak di rumah, terkhusus di saat pandemi seperti ini.

Pertama, menghadirkan kekaguman dan keteladanan orangtua. Sebagaimana Rasulullah yang menjadi Uswatun Hasanah bagi kaum muslimin, maka orangtua perlu menjadi orang yang mengagumkan dan menjadi teladan sepenuhnya bagi anak. Kekaguman akan membantu banyak hal dalam pendidikan di rumah. Pendidikan kepada anak akan sangat terbantu bila anak telah kagum kepada orangtuanya.

Kekaguman dapat ‘menggerakan’ anak. Ke­kagum­an dapat dihadir­kan melalui karya amal saleh terbaik orangtua. Sehingga amal saleh tersebut dapat dijadikan acuan sekali­gus teladan oleh anak. Kekaguman dan keteladanan perlu ditampilkan orangtua, baik dari sisi akhlak maupun keahlian yang menghasilkan karya terbaik. Anak akan terbantu untuk mudah me­nuruti orang tua saat anak melihat akhlak yang baik dari orangtuanya. Orangtua perlu menjadi sosok nyata bagi kekaguman dan kete­ladan­an anak sehingga kekaguman dan keteladanan menjadi dasar bagi orangtua dalam mendidik anak di rumah.

Sebagai contoh, kedisiplinan orangtua yang ditampilkan sehari-hari akan memudahkan anak untuk meniru bagaimana cara menjadi seseorang yang disiplin. Bahkan, anak dapat melihat hasil dari prilaku disiplin tersebut. Sehingga, kedisiplinan orangtua tersebut dapat menjadi bahan untuk memunculkan kekaguman pada anak. Maka, orangtua perlu menghadirkan banyak kekaguman dan keteladanan sesuai dengan potensi yang Allah berikan kepada masing-masing orangtua.

Kedua, pentingnya membuat kesepakatan. Sebagaimana Rasulullah membuat kesepakatan bersama kaum muslimin untuk dapat bersama-sama berjuang di jalan Allah, kesepakatan tersebut dapat menjadi pegangan kaum muslimin dalam menegakan kalimat Allah. Kesepakatan dalam belajar di rumah dapat menjadi acuan baik bagi orangtua maupun anak. Belajar di rumah memerlukan kedisiplinan. Maka, orangtua dapat membimbing dan bersama-sama membuat kesepakatan belajar bersama anak dengan harapan memudahkan orangtua dalam mendisiplinkan anak, juga memudahkan anak untuk mendisiplinkan dirinya sendiri. Kesepakatan yang dibuat, baik dari segi waktu maupun dari segi kegiatan belajarnya itu sendiri. Umpanya, dapat disepakati bersama oleh orangtua dan anak kapan waktu-waktu yang disepakati untuk belajar, waktu untuk bermain, juga waktu untuk istirahat.

Ketiga, memberikan kepercayaan pada anak. Setelah anak ‘dibekali’ dengan keteladanan orang­tua­nya juga kesepakatan dalam belajar. Maka, penting orang­­tua memberikan ruang kepercayaan pada anak untuk dapat menjalankan kewajiban belajarnya. Ke­percayaan yang diberikan ini bukan berarti tanpa pe­ngawasan. Orangtua tetap perlu melihat dan meng­ukur sejauh mana anak dapat menjalankan kewajibannya tersebut.

Kepercayaan orangtua ini diharapkan dapat membuah­kan kepercayaan diri pada anak saat ia dapat berjuang dalam menyelesaikan kewa­jiban belajarnya secara mandiri. Kepercayaan yang diberikan ini perlu ber­tahap dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Kebertahapan ini dilakukan sembari orangtua mengukur dan menimbang sejauh mana anaknya dapat dilepas untuk mandiri dalam belajar.

Keempat, pemberian penguatan melalui pujian bahkan hadiah. Rasulullah saw. selalu memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan anak-anak yang tumbuh di masanya.

Anak-anak sentuhan Rasul saw. tentu hasilnya istimewa. Dalam sirah banyak didapati kisah bagaimana Rasulullah memberikan penguatan kepada anak, baik berupa sentuhan, pujian, bahkan hadiah.

Sebagaimana Rasul saw., orangtua dapat memberikan sentuhan lembut dan ucapan pujian atas apa yang telah dicapai oleh anak. Orangtua dapat pula memberikan hadiah yang disenanginya, tidak perlu hadiah yang besar dan mahal. Meski hanya dengan hadiah yang kecil, namun yakinilah rasa kasih sayang orangtua akan dirasakan oleh anak. Anak akan meneladanainya sekaligus menjadi penguat bagi prilaku baiknya.

Kelima, menguatkan ikhtiyar dengan doa dan tawakal. Upaya yang terakhir ini menjadi hal yang tidak boleh terlewatkan oleh orangtua yang sedang mendidik anaknya. Aktivitas mendidik ini berjalan dalam waktu yang panjang dan proses yang dinamis.

Ikhtiar-iktiar yang dilakukan orangtua tentu tidak se­banding dengan rezeki berupa kemudahan-kemudahan yang Allah berikan dalam mendidik anak. Dalam al-Qur’an maupun al-Hadits, banyak anjuran dan ajaran me­ngenai pentingnya men­doakan anak bahkan sampai dengan redaksi doanya.

Dalam al-Qur’an banyak doa-doa tentang keluarga dan anak, seperti dalam surah al-Baqarah: 128, surah Ali Imran: 38, surah Ibrahim: 35, & 40-41, surah Furqan: 74. Dan masih banyak ayat Qur’an lainnya. Rasulullah saw. pun dalam haditsnya banyak narasi-narasi doa yang dapat kita hafal dan panjatkan kepada Allah Swt.

Semoga Allah memudahkan aktivitas mendidik anak bagi kita semua. Semoga anak-anak kita dimudahkan Allah untuk menjadi anak-anak yang saleh dan solehah serta dapat menjadi syafaat bagi orangtuanya di akhirat kelak. Aamiin..

Wallahu A’lam bis Shawab

Bersihkan Harta Dengan Zakat

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB