Oleh:

Haris Muslim, Lc., M.A (Dewan Syariah Pusat Zakat Umat )

 Sembelihan Qurban disyariatkan untuk dibagikan dagingnya dalam keadaan mentah, agar penerima yang berhak dapat memanfaatkan sesuai keinginannya. Tidak boleh pula pembagian dilakukan dengan cara mengundang fakir miskin dan disuguhkan kepada mereka daging yang sudah dimasak dari hewan Qurban.

Ali Ibnu Abu Thalib r.a., ia berkata: “Rasulullah SAW memerintahkan kepadaku untuk mengurusi kurban-kurbannya; membagi-bagikan daging, kulit dan pakaiannya kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi suatu apapun dari kurban kepada penyembelihnya.” (Muttafaq Alaihi)

Pada awalnya, Nabi Saw. memerintahkan untuk membagikan daging Qurban dan tidak boleh menyimpannya lebih dari tiga hari, akan tetapi kemudian beliau mengizinkannya. Sebagaimana hadis berikut. Dari Jabir bin Abdullah r.a., “sesungguhnya Rasulullah Saw. melarang untuk memakan daging Qurban setelah dari tiga hari, kemudian beliau bersabda setelah itu, ‘Makanlah, berbekallah, dan simpanlah’”. (HR Imam Malik)

Hadis di atas menunjukan bahwa orang yang berqurban berhak mengambil sebagian daging Qurban dan selebihnya dibagikan (disedekahkan) kepada fakir miskin. Sebagian ulama berpendapat, daging kurban didistribusikan menjadi tiga bagian, sepertiga dimakan oleh yang berkurban, sepertiga lagi untuk disimpan oleh yang berkurban, dan sepertiga yang lain disedekahkan kepada fakir miskin atau orang lain.

Adanya hak orang yang berqurban mengambil bagian dari daging Qurban tidaklah mengurangi nilai ibadah Qurbannya karena nilai Qurban telah terwujud pada proses penyembelihan dan penumpahan darah hewan Qurban.

Demikian di antara hukum-hukum yang terkait dengan pembagian daging Qurban. Hal yang paling penting dari itu semua adalah Qurban dilaksanakan atas dasar ketaqwaan karena yang akan diterima oleh Allah Swt. bukan daging dan darah hewan Qurban, tetapi ketaqwaan orang yang melaksanakan Qurban.

Wallahu A’lam bis Shawab

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB