Ustadz. Haris Muslim

 

Salah satu nikmat terbesar yang Alllah karuniakan kepada manusia adalah nikmat persaudaraan. Hidup tentram, damai, saling menghargai dan menghormati adalah karunia terindah. Tidak bisa dibayangkan seandainya hidup tanpa saudara, atau teman yang peduli. Sehingga pepatah mengatakan, “Seribu teman masih kurang, musuh satu terlalu banyak”.

Inilah ajaran Islam, dan sejatinya islam itu mempersaudarakan. Sebagaimana firman Allah SWT :

وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا  ( آل عمران : 103)

dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara (QS Ali Imran : 103).

Ayat ini memang berkaitan dengan suku Aus dan Khajraj penduduk kota Yatsrib atau Madinah yang sebelum Islam mereka merupakan musuh bebuyutan, tetapi setelah Islam masuk di hati-hati mereka, dengan sendirinya mereka berdamai. Demikianlah Islam mempersatukan hati dan mempersaudarakan. Bukan hanya untuk Aus dan Khajraj, tapi sejatinya untuk semua orang.

Allah berfirman :

 إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ١٠ (الحجرات : 10)

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Al-Hujurat : 10)

Kata “Ikhwah” adalah bentuk jama’ dari “Akh” yang berarti saudara kandung; adik atau kakak. Tetapi yang dimaksud dengan “Ikhwah” dalam ayat ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Qurthubi adalah persaudaraan dalam agama dan kehormatan.

Ini menggambarkan bagaimana kuatnya hubungan sesama muslim, bagaikan saudara kandung. Bahkan lebih kuat. Sehingga tidak aneh Abu Bakar yang dari Hijaz, Bilal dari Habsyah, Salman dari Persia bisa hidup berdampingan di bawah naungan Islam tanpa sekat ras.

Akan tetapi nikmat ini banyak tantangannya, yang namanya bersaudara ada resiko dan potensi konflik, karena itu pantas kalau dalam ayat di atas disebut “fa ashlihu” (damaikanlah). Kewajiban kita memelihara nikmat persaudaran ini, sehingga Nabi SAW melarang perbuatan-perbuatan yang dapat merusak persaudaraan.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian saling dengki, janganlah saling tipu, janganlah saling benci, janganlah saling berpaling, janganlah sebagian kalian mencurangi perniagaan orang lain, jadilah hamba Allah yang bersaudara, seorang muslim merupakan saudara muslim yang lain, tidak boleh mendzalimnya, menelantarkannya, atau menghinanya, taqwa ada di sini” sambil Rasul menunjuk dadanya tiga kali “cukuplah kejelekan seseorang dengan menhina saudaranya yang muslim, setiap muslim kepada muslim lainya haram ; darahnya, hartanya dan kehormatannya” H.r. Muslim : No. 32 (2564)

Di sisa Ramadhan yang tinggal beberapa hari ini, marilah kita pelihara nikmat persaudaraan sebagai karunia Allah yang besar dalam hidup ini.

 

Wassalam,

Akhukum

~ HM ~

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB