Abu Faqih Aso al-Bakr

Pengertian Nikah

Dalam kamus bahasa Indonesia, kata nikah diartikan sebagai  ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Kata nikah itu sendiri berasal dari bahasa  arab, yaitu ( نكح  ينكح –  -نكاحا ) yang memiliki arti asal ialah akad atau perjanjian. Nikah juga diartikan dengan menguasai dan mengalahkan.

Dalam sebuah acara penikahan ada seorang ustadz memberikan penjelasan tentang nikah dengan merinci dari huruf-huruf arab dari kata nikah itu sendiri. Yang pertama, yaitu huruf nun, sebagai ni’matul ibtida, maksudnya bahwa pernikahan itu awal-awalnya penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan, bahkan sang pengantin pun sering disebut sebagai raja dan ratu sehari. Seorang yang baru mulai rumah tangga pada umumnya diliputi oleh kebahagiaan, masingmasing pihak berusaha untuk menyenangkan pasangannya. Belum muncul sifat sebenarnya dari masing-masing pasangan. Mungkin masih malumalu, walaupun ada juga yang cuek-cuek saja. Namun yang jelas awal pernikahan penuh dengan kebahagiaan dan akan menjadi kenangan indah bagi keduanya. Dan dengan segala kekurangan yang dimiliki oleh sebuah pasangan, mengenang masa-masa indah pernikahan akan menjadi peredam konflik yang muncul.

Huruf yang kedua yaitu “kaf” untuk “kurbatun”. Artinya kesulitan. Masa bahagia tidak akan selamanya ada. Setelah setiap pasangan mengenal sifat dan watak masing-masing, dengan ego dan harapan masing-masing maka akan menimbulkan perbedaan dalam segala hal. Tapi sebetulnya perbedaan itulah yang akan menimbulkan kasih sayang. Toh seorang yang menikah itu kan diawali dengan perbedaan, bukan dengan persamaan. Yang harus sama itu adalah keyakinan (agama)nya, yang harus beda itu adalah jenis kelaminnya, dan yang pasti beda itu adalah keinginan dan cara pandang dari masing-masing pasangan.

Sebenarnya persoalan rumah tangga tidak akan pernah berhenti menghinggapi kehidupan sebuah rumah tangga. Bahkan bagi mereka yang sudah mengarungi bahtera rumah tangga puluhan tahun pun, tak akan luput dari persoalan-persoalan rumah tangga. Baik suami, atau istri, tetap saja gak akan luput dari kekesalan terhadap pasangannya, walaupun sudah mengenal satu sama lain dan berumah tangga puluhan tahun Akhir-akhir ini, banyak bertemu dengan kawan-kawan yang kehidupan rumah tangganya gak harmonis. Ada yang istrinya selingkuh, (geus puguh ari lalaki selingkuh mah, da teu kaop nempo nu mencrang sok kagembang, padahal di imah pamajikan teu kurang geulis kumaha, pada muji ku tatangga jeung baraya) Ada juga yang sudah berbulan-bulan tidak melakukan hubungan intim, entah karena ada idaman lain, atau sudah gak ada “rasa” lagi terhadap pasangannya, namun untuk cerai masih ogah, alasannya sayang sama anak; entah karena kesibukan masing-masing, sehingga hampir gak ada kesempatan, karena dua-duanya sama sibuk. Istri pergi pagi suami masih tidur, karena subuh baru pulang. Istri pulang sore suami gak ada di rumah. Pas lagi dua-duanya ada di rumah, eeh, malah bertengkar. Akibatnya, baik suami atau istri jadi gak betah tinggal di rumah.

Malahan ada juga pasangan (yang sudah tua), sudah bertahun-tahun gak mau tidur bareng. Akibatnya si suami yang pusing, punya penyakit gak kunjung sembuh-sembuh. Tiap bulan mesti ke dokter. Setelah disarankan oleh kawannya untuk minta bantuan kepada anaknya agar bicara dengan ibunya. Akhirnya si kakek dan si nenek mau tidur bareng dan si kakek gak perlu lagi datang ke dokter.

Ada juga yang rumah tangganya terganggu, gara-ara pasangannya FB-an, ketemu teman lamanya waktu dulu, akhirnya CLBK (Cinta Lama bersemi kembali), karena penasaran, akhirnya ketemuan di darat. Awalnya Cuma kangen biasa, eeh ternyata keterusan, muncul fantasi berlebihan, berangan-angan dan berandai-andai, pasangan yang sudah pasti jadi terabaikan, sikap jadi berubah, sensitif dan mudah tersinggung jika banyak ditanya, seolah-olah diinterogasi oleh densus 88. Ujung-ujungnya jadi gak betah di rumah, kalo gak perang dingin, meletuslah perang dunia ketiga.

Segudang permasalahan rumah tangga akan terus bermunculan, datang silih berganti. Namun gak usah putus asa atau pesimis menghentikan rumah tangga, dan gak mau punya pasangan toh itu semua memang merupakan dinamika kehidupan. Maka diantara solusinya ialah kita harus tahu huruf yang ketiga dari nikah tersebut, yaitu “alif” untuk “ulfatun” yang artinya lunak atau lembut.

Dengan sifat ulfah ini setiap pasangan mesti alias kudu memiliki dua hal, yaitu kesabaran dan pemaaf. Suami harus sabar dalam mendidik dan memberikan perintah kepada istrinya. Gak boleh ia membenci perangai istrinya,  Rasulullah saw, mengingatkan kepada para suami dalam sabdanya, “Janganlah seorang suami menghina istrinya, jika ia membencinya dalam satu sikap, ia pun pasti menyukai sikapnya yang lain”. (Muslim/2672). Malahan suami kudu menasehati istrinya dengan baik. Ingat sabda Rasulullah Saw. “Berbuat baiklah kalian kepada istri, karena dia diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok ialah  yang paling atas, kalau engkau meluruskannya  berarti engkau mematahkannya, jika engkau biarkan maka dia akan selalu bengkok. Oleh karena itu, berbuat baiklah kalian kepada istri. (Muslim)

Makanya seorang suami yang mulia ialah suami yang memuliakan isrinya, demikianlah yang disebutkan oleh Baginda Rasulullah Saw. “Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baiknya kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya. . (Tirmidzi:1082)

Bagi istri tentunya harus senantiasa bersabar dalam mentaati suaminya. Karena ketaatan terhadap sumai merupakan gerbang surga bagi setiap istri. Kewajiban taat seorang istri terhadap suami ini meliputi segala hal. Baik istri itu suka atau tidak, rela atau terpaksa, tetap harus taat kepada suami. Selama suami tidak memerintahnya dalam urusan maksiat terhadap Allah.

Selain kesabaran, hal berikutnya yang mesti dimiliki setiap pasangan adalah pemaaf. Sebelum pasangan kita meminta maaf, maka maafkanlah terlebih dahulu oleh kita. Jangan terhalang dengan ego masing-masing, gak mau duluan ngucapin salam, gak mau duluan melontarkan senyuman, karena pasangan kita belum minta maaf. Ingat, pertengakaran dalam rumah tangga itu gak boleh lama-lama. Jika saudara semuslim saja gak boleh bertengkar lebih dari tiga hari, apalagi suami-istri. Jangan sampai pertengkarannya lebih dari semalam. Dan ingat, jika mesti, kepaksa kudu bertengkar, jangan sampai pertengkarannya itu melibatkan anak-anak, ngajak-ngajak orang tua, apalagi cari dukungan dari tetangga dan kawankawan. Maka besarkanlah jiwa pemaaf.

Huruf yang keempat ialah “ha” untuk “halwatun” artinya manis. Ini adalah hasil yang akan diperoleh jika kita melakoni pernikahan dengan kelembutan tadi. Dan diniatkan semuanya untuk ibadah. Suami mendidik dan mengayomi istri merupakan ibadah, istri melayani suami serta mengurus anak dan harta suami adalah ibadah. Malahan cerewetnya seorang istri pun bisa menjadi kebaikan jika diniatkan ibadah dan ditujukan untuk menegakkan kebaikan dalam rumah tangga. Seperti halnya seorang ibu yang cerewet menyuruh anaknya bangun pagi-pagi dan sholat. Atau cerewet mengingatkan suami untuk shalat berjamaah di masjid, atau mengingatkan suami untuk tidak korupsi.

Sekedar mengingatkan, bahwa dengan pernikahan,  kita punya akad (ikatan, janji) di hadapan Allah untuk menjadi suami-isteri yang berdampak pada adanya tanggung jawab, hak dan kewajiban sebagai suami-istri. Akad tersebut merupakan kehormatan kita, dan akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah. Bisa saja pasangan kita dibohongi. Namun sampai kapan pun, kita tak akan pernah bisa membohongi diri kita sendiri. Dan yang pasti, Allah gak akan pernah bisa dibohongi.

Ingat pula bahwa pernikahan itu adalah ibadah. Maka niatkan mencintai pasangan itu untuk ibadah. Suami akan tetap sayang dan cinta kepada istrinya dengan segala kekurangan dan kelebihannya, cintanya gak luntur meski istrinya sudah gak muda lagi, wajahnya berubah jadi keriput. Demikian pula, istri, cintanya gak akan luntur, meski suami sudah reyot, gak mampu ngasih nafkah yang banyak, apalagi ngandelin gajih pensiunan yang sudah dipotong berbagai tagihan.

Jadikan cinta kita pada pasangan kita cinta yang “mawaddah” dan “rahmah”,  cinta yang “eros” dan “philos”. Dan temukanlah ketentraman hidup padanya.

Wallaahu a’lam Abu Faqih Aso al-Bakr Makkah al-Mukarramah,  16 Rabi’u Tsani 1434 H/26 Februari 2013 M

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB