Dr. Haris Muslim

 

Beberapa hari yang lalu tersebar broadcast di jejaring media sosial dengan judul “Ustadz Pencuri”. Postingan tersebut menceritakan tentang seorang ustadz yang dicurigai mencuri uang oleh satu keluarga, padahal uang tersebut disimpan oleh sang ustadz dalam mushaf Al-Qur’an milik keluarga tersebut. Setelah dua bulan, baru dikasih tahu oleh sang ustadz bahwa uangnya disimpan dalam Al-Qur’an, dan sengaja tidak memberi tahu dengan asumsi bahwa Al-Qur’an setiap hari akan dibuka.

Terlepas apakah itu kisah nyata atau fiksi, tetapi postingan tersebut “menonjok” kita semua, bayangkan dua bulan tidak menyentuh Al-Qur’an (?). Cerita tersebut bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk kita, jangan-jangan kita yang selama ini seperti itu.

Saya lantas teringat firman Allah SWT :

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا (الفرقان : 30)

Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak dipedulikan.” (QS Al-Furqan : 30)

Kata “Mahjuran” berasal dari “Hajara” yang berarti meningaalkan. Dalam ayat di atas, Rasulullah SAW mengeluhkan kepada Allah tentang kaumnya yang minggalkan Al-Qur’an. Atau dengan bahasa lain, mencuekkan dan mengisolasi Al-Qur’an.

Semoga kita tidak termasuk kaum Nabi Muhammad SAW yang dimaksud ayat tersebut. Marilah kita kembali mendekatkan diri dengan Al-Qur’an sesuai dengan kewajiban kita untuk mengimaninya ; membaca, memahami dan mengamalkannya.

Apalagi sekarang kita berada di bulan Ramadhan, bulan diturunkannya Al-Qur’an (QS Al-Baqarah : 185), pada bulan ini ada malam yang penuh dengan keberkahan (QS Ad-Dukhan : 3) malam diturunkannya Al-Qur’an, yang disebut dengan Lailatul Qadar (QS Al-Qadr).

Jika Ramadhan disebut dengan bulan mulia, maka kemuliaan yang menempel padanya diantaranya karena turunnya Al-Qur’an pada bulan tersebut. Demikian juga manusia, kemuliaan yang menempel pada diri manusia karena ia beriman kepada Al-Qur’an, karena ia membaca Al-Qur’an, memahami dan mengamalkannya. dan semua berawal dari membacanya, dalam hadits dari Abu Musa Al-Asy’ari Rasulullah SAW menggambarkan :

“Perumpamaan orang mukmin yang suka membaca al-Quran ialah seperti buah jeruk utrujah, baunya enak dan rasanya pun enak dan perumpamaan orang mukmin yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya, tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang suka membaca al-Quran ialah seperti minyak harum, baunya enak sedang rasanya pahit dan perumpamaan orang munafik yang tidak suka membaca al-Quran ialah seperti rumput hanzhalah, tidak ada baunya dan rasanyapun pahit.” (HR. Bukhari, no. 5059)

Mudah-mudahan Ramadhan kali ini lebih mendekatkan diri kita kembali kepada Al-Qur’an, dan hidup mulia dengan Al-Qur’an.

Wassalam,
Akhukum
~ HM ~

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB