Oleh:
Gyan Puspa Lestari
(Penulis Kitab “Tafsir Harian“)

Al-Qur’an merupakan kalamullah Ta’ala yang diturunkan ke­pada Nabi Muhammad Saw. Di dalamnya terkandung se­perangkat petunjuk yang telah Allah ciptakan untuk dijadikan pedoman hidup, yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syariah, dan akhlak, dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsip mengenai persoalan-persoalan tersebut. Keselamatan kita, baik di dunia maupun akhirat hanya akan diperoleh dengan cara patuh dan tunduk dengan semua petunjuk yang ada di dalamnya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira ke­pada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS al-Isra [17] : 9)

Mengingat kedudukan al-Qur’an yang agung dan mulia, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan umat Islam untuk menjaga keaslian dan kemurniannya ialah dengan menghafalkannya. Ini pulalah yang menjadi rahasia dan hikmah mengapa kitab ini dinamakan al-Qur’an. Penamaan ini mengisyaratkan bahwa al-Qur’an itu harus dihafal, harus selalu dibaca, dan ditadaburi isinya oleh kaum muslim. Bahkan, salah satu ciri orang yang berilmu menurut al-Qur’an adalah mereka yang memiliki hafalan al-Qur’an.

Allah Ta’ala berfirman:

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ

Sebenarnya, al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS al-‘Ankabut [29] : 49)

Ibnu Katsir dalam kitab “Tafsiirul Qur’anil ‘Azhiim” (2000 : 520-521) menjelaskan bahwa al-Qur’an ini adalah ayat-ayat yang terang dan jelas yang menunjukkan ke­pada kebenaran. Di dalam­nya terkandung perintah, larang­an, dan berita yang di­jaga oleh para ulama. Allah telah memberikan kemudahan kepada mereka untuk mem­bacanya, menghafalnya, dan menafsirkannya, sebagaimana yang disebutkan oleh firman-Nya:

فَإِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran.” (QS ad-Dukhan [44] : 58)

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآَنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (Al-Qamar [54] : 17)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا وَقَدْ أُعْطِيَ مَا آمَنَ عَلَى مِثْلِهِ الْبَشَرُ وَإِنَّمَا كَانَ الَّذِي أُوتِيتُهُ وَحْيًا أَوْحَاهُ اللَّهُ إليَّ، فَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ تَابِعًا

Tidak ada seorang nabi pun melainkan diberikan ke­padanya sesuatu yang serupa dengan apa yang diimani (dipercayai) oleh manusia (di masanya), dan sesungguhnya yang diberikan kepadaku hanyalah wahyu yang di­turunkan Allah kepadaku, maka aku berharap semoga aku adalah yang paling banyak pengikutnya di antara mereka (para nabi).” (HR Bukhari)

Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa makna firman-Nya:

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ

ialah bahwa sebenarnya pengetahuan yang menyatakan bahwa kamu tidak pernah membaca sebelumnya (al-Qur’an) sesuatu kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang telah dianugerahi ilmu dari kalangan Ahli Kitab. Pendapat ini dinukil oleh Ibnu Jarir dari Qatadah dan Ibnu Juraij, sedangkan riwayat di atas hanya dinukil dari al-Hasan al-Basri. (dalam kitab “Jaami’ul Bayaan ‘an Ta’wilil Qur’an”, Jilid 8, 2005 : 6488)

Firman Allah Ta’ala:

 وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا الظَّالِمُونَ

bahwa tidak ada yang meng­ingkarinya dan tidak ada yang mengurangi haknya, serta yang menolaknya selain orang-orang yang berbuat aniaya. Yakni, orang-orang yang melampaui batas lagi angkuh; mereka yang me­ngetahui kebenaran, tetapi berpaling darinya, sebagai­mana yang disebutkan oleh firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman mes­kipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.” (QS Yunus [10] : 96-97)

Ayat ini menerangkan dua keistimewaan al-Qur’an, yaitu ayat-ayatnya merupakan mukjizat yang berbicara dan ayat-ayatnya dihafalkan bukan hanya ditulis saja. (Hasbi Ashiddieqy dalam “Tafsir al-Bayan”, 2012 : 402)

Tradisi menghafalkan al-Qur’an sudah dimulai sejak permulaan Islam. Setiap kali Rasulullah saw. menerima wahyu, maka beliau segera menggerakkan lisannya untuk meniru bacaan Jibril meski malaikat mulia itu belum menyelesaikan bacaannya. Beliau tak ingin kehilangan satu huruf pun dari kalamullah yang sampai kepadanya. Allah Ta’ala pun menegur beliau agar tidak tergesa-gesa, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah me­ngumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apa­bila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.”  (QS al-Qiyamah [75] : 16-18)

Lalu beliau menyampaikan­nya kepada para sahabat dan memerintahkan mereka untuk menghafal dan me­nulis­kannya. Para sahabat sangat antusias untuk menerima al-Qur’an dari Rasulullah saw. Berbagai cara dilakukan, agar kemuliaan al-Qur’an tertambat ke dalam ingatannya, mulai dari mengulang ayat demi ayat, melantunkannya siang-malam, dan membacanya dalam setiap rakaat shalat. Hal itu karena menghafal al-Qur’an merupakan suatu kehormatan bagi mereka. Anas r.a. mengatakan: “Seseorang di antara kami apabila telah membaca surah al-Baqarah dan ali-Imran, orang itu menjadi besar menurut pandangan kami”. Begitu pula mereka selalu berusaha mengamalkan al-Qur’an dan memahami hukum-hukumnya.

Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman as-Sulami, ia mengatakan: “Mereka yang membacakan al-Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas’ud serta yang lain menceritakan, bahwa mereka apabila belajar dari Nabi saw. sepuluh ayat, mereka tidak melanjutkannya sebelum mengamalkan ilmu dan amal yang ada di dalamnya. Mereka berkata: ‘Kami mempelajari al-Qur’an berikut ilmu dan amalnya sekaligus’”.

Menghafalkan al-Qur’an men­jadi bagian penting dalam Islam. Banyak sekali dalil dan keterangan yang menunjukkan keutamaan dan keistimewaan para penghafal al-Qur’an, di antaranya sebagaimana yang diterima dari Abu Hurairah r.a, bahwasannya Rasulullah saw. bersabda:

يَجِىءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً

Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, ‘Ya Allah, pakaikanlah ke­padanya perhiasan.’ Lalu, ia pun dipakaikan mahkota kemuliaan. al-Quran berkata lagi, ‘Ya Allah, tambahkanlah untuknya.’ Lalu ia pun di­pakai­kan perhiasan kemuliaan. Kemudian al-Qur’an berkata, ‘Ya Allah, ridhailah dirinya.’ Maka Allah-pun meridhainya. Lalu dikatakan kepada orang tersebut, ‘Bacalah dan naiklah’, dan akan ditambahkan satu kebaikan untuknya pada setiap ayat yang dibacanya.” (HR Tirmidzi)

Al-Mubarakafuri menerang­kan, yakni dikatakan kepada ahli Qur’an: “Bacalah al-Qur’an dan naikilah tingkatan-tingkatan yang ada di Surga.”

Dari Jabir r.a. ia berkata, Rasulullah saw. telah ber­sabda:

الْقُرْآنُ مُشْفِعٌ ومَاحِلٌ مُصَدَّقٌ مَنْ جَعَلَهُ إِمَامَهُ قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَ ظَهْرِهِ سَاقَهُ إِلَى النَّارِ

Al-Qur’an akan memberi syafa’at dan ia merupakan lawan berdebat yang jujur. Barangsiapa yang men­jadikannya sebagai pemimpin, niscaya ia akan mengantarkannya ke dalam Surga. Namun, barang siapa menjadikannya berada di belakang punggungnya (meninggalkannya), niscaya ia akan menggiringnya ke dalam Neraka.”  (HR Ibnu Hibban)

Selain keutamaan-keutamaan di atas, para penghafal al-Qur’an juga diberikan berbagai kemuliaan, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Rasulullah saw. sangat menghormati para penghafal al-Qur’an dan menempatkan mereka pada kedudukan tersendiri dan melebihkannya dari pada yang lain. Dalam shalat misalnya, mereka lebih berhak diangkat menjadi imam. Demikian pula dalam perjalanan mereka paling berhak menjadi amir safar. Ketika wafat, maka jenazah mereka lebih dahulu dimasukkan ke liang lahat. Seperti yang terjadi saat perang Uhud, banyak para sahabat yang syahid. Maka, Rasulullah saw. me­merintahkan agar yang lebih dahulu dimasukkan ke liang lahat adalah para penghafal al-Qur’an.

Dijelaskan dalam riwayat Imam Tirmidzi dan Imam Abu Daud bahwa derajat di surga tergantung seberapa banyak hafalannya di dunia. Bahkan, disebutkan pula dalam riwayat Imam Ahmad bahwa para ahli Qur’an mereka adalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.

Sungguh mulia kedudukan para penghafal al-Qur’an. Melalui mereka, al-Qur’an terpelihara dari kesalahan-kesalahan dan terjaga dari usaha orang-orang yang sengaja ingin mengubahnya untuk menyesatkan umat Islam. Maka, peran para penghafal al-Qur’an sejak zaman Rasulullah Saw sampai sekarang bahkan sampai akhir zaman nanti sangat penting dalam me­lestarikan dan menjaga ke­aslian al-Qur’an.

Wallaahu A’lam bish Shawaab

Baca Juga:

Kedudukan Zakat Dalam Islam

Mengubah Paradigma Berzakat

Membangun Peradaban Zakat

 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB