Lebih dari tiga puluh hari sejak keputusan penutupan pasar-pasar al-Quds dalam rencana darurat yang diberlakukan akibat pandemi Corona, dan sejak hari itu kota tua dan pasar-pasarnya kosong dari para pengunjung dan pelanggan, dan suara-suara para penjual meredup.

Dengan pelonggaran pembatasan, kehidupan mulai kembali ke jalan-jalan al-Quds, yang menggeliat untuk bisa pulih mencari pemulihan setelah dibuat capek dan penat oleh penjajah Israel dan virus Corona, serta realitas ekonominya yang mematikan.

Kerugian tanpa kompensasi

Para pedagang di pasar-pasar al-Quds berpencapat bahwa kehidupan mereka sangat terdampak oleh penutupan yang mempengaruhi toko-toko mereka, tanpa adanya kebijakan kompensasi oleh pemerintah pendudukan penjajah Israel, yang bertanggung jawab untuk semua aspek kehidupan, seperti yang diberikan kepada para pedagang Yahudi di semua kota yang diduduki penjajah Israel.

Seorang pedagang Palestina di kota al-Quds mengatakan, “Mereka para pedagang, sekarang ini hanya terbatas pada memulihkan kehidupan ke toko-toko mereka dan memulihkan realitas ekonominya. Terutama dengan akumulasi kewajiban dan hutang yang dikenakan pada mereka serta ketidakmampuan untuk membayarnya karena tidak adanya biaya pengeluaran, terutama adalah kewajiban yang diminta oleh pemerintah pendudukan penjajah Israel.”

Kesulitan dan hambatan

Para pedagang menegaskan bahwa pembukaan pasar saja tidak menyelesaikan masalah, karena banyak kepentingan dan pekerjaan warga yang terhambat dan mandek. Oleh karena itu tidak ada perputaran uang tunai yang mengaktifkan gerakan pembelian dan meningkatkan permintaan masyarakat untuk membeli kebutuhan mereka.

Selain itu, seperti dikatakan oleh salah seorang pedagang dari keluarga Kurdi, tidak ada pengunjung dan pembeli dari luar al-Quds. Padahal pasar-pasar al-Quds sangat bergantung pada kedatangan para pengunjung dan warga dari propinsi-propinsi lain dan dari wilayah Palestina 48, yang diduduki penjajah Israel sejak tahun 1948.

Pasar-pasar al-Quds termasuk satu fitur yang paling menonjol bagi kota al-Quds dan merupakan bagian integral dari identitas kota suci tersebut. Pasar-pasar al-Quds merupakan tulang punggung ekonomi kota tersebut. Sebagian besar dibangun sejak era Romawi (Cardo) dan dengan berjalannya waktu, pasar-pasar utama lokal dan pasar-pasar cabang bermunculan.

Pemerintah pendudukan penjajah Israel dengan sengaja membatasi dan menekan para pedagang di kota al-Quds. Yaitu dengan cara mengenakan pajak yang besar pada mereka. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk memaksa mereka pergi dan meninggalkan kota suci al-Quds.

Selain itu, perkampungan Palestina di kota al-Quds tidak mendapatlan perhatian sama sakali dalam menghadapi virus Corona. Tidak disediakan perawatan dan tes atau pemeriksaan yang memadai. Pemerintah penjajah Israel sangat tidak peduli dengan pencegahan penyebaran virus di di tengah-tengah warga di perkampungan Palestina di kota al-Quds. (was/pip)

Baca lebih lanjut di
https://melayu.palinfo.com/15016
@Copyright Pusat Informasi Palestina,All right reserved

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB