Login

Register

Login

Register

Sejarah menunjukkan, kegemilangan peradaban Islam di dunia tidak terlepas dari peranan zakat. Secara kasat mata, Khalifah Umar bin Abdul Aziz membuktikan, kemiskinan di negerinya yang pada awal pemerintahannya mencapai angka 63% dari jumlah penduduknya, dalam tiga tahun pemerintahannya langsung berubah drastis menjadi 0%. Sampai akhirnya, para amil zakat kebingungan ke mana hendak menyalurkan dana zakat yang terkumpul di Baitulmaal.

Perkembangan perzakatan di Indonesia pun sudah menunjukkan kemajuan yang cukup menggembirakan, walaupun masih jauh dari memuaskan. Semantara kalau melihat potensi penghimpunan zakat di Indonesia akan didapatkan angka yang cukup mencengangkan. Banyak pakar dan lembaga yang melakukan pengkajian sehingga muncul angka-angka potensi penghimpunan zakat jika umat Islam kaya di Indonesia semuanya membayar zakat. Said Agil al-Munawar (mantan Menteri Agama RI) pernah menghitung potensi zakat kita mencapai Rp. 7 trilyun per tahun. Sedangkan lembaga PIRAC menghitung potensi hingga Rp. 9 trilyun per tahun. PBB UIN menegaskan per tahun zakat bisa terhimpun di angka Rp. 19 trilyun. Sedangkan Eri Sudewo menghitung potensi zakat ideal hingga mencapai angka Rp. 32,4 trilyun per tahun. Sebuah angka yang cukup fantastis jika melihat kondisi perzakatan yang selama bertahun-tahun mengalami pembusukan dan pengabaian oleh berbagai pihak.

Namun, potensi itu terkadang membuai indah bak mimpi di siang bolong. Kenyataan ternyata menunjukkan lain, Forum Zakat (FOZ) mencatat, semua Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan Badan Amil Zakat (BAZ) di Indonesia tahun 2005 hanya mampu mengumpulkan dana sebesar Rp. 250 milyar. Lebih tragis lagi, jumlah tersebut ternyata termasuk infak dan wakaf. Jika kita telisik lebih jauh lagi, ternyata separuh dari jumlah di atas terhimpun pada bulan Ramadan. Sungguh sebuah realitas yang cukup memprihatinkan.

Angka 250 milyar per tahun itu adalah dana yang dihimpun oleh lembaga zakat. Jia yang tidak terhimpun itu langsung disalurkan kepada mustahik, tentu sangat luar biasa. Namun jika tidak, kemana larinya dana zakat tersebut? Apakah umat Islam kaya di Indonesia benar-benar merupakan kumpulan orang-orang kikir? Karena jika semua orang Islam taat, patuh, dan konsisten membayar zakat secara rutin, maka kita tidak akan melihat orang-orang Islam yang miskin menadahkan tangan di pinggir jalan.

Eri Sudewo mencoba melakukan komparasi dengan LSM yang bernama Save the Children (sebuah NGO asing yang terjun ke Aceh). Mereka membawa dana 150 juta dollar As untuk 5 tahun. Per tahun, mereka harus mengalokasikan 30 juta dollar As atau senilai Rp. 270 milyar (kurs rupiah tehadap dollar AS saat itu adalah Rp. 9.000/1 dollar AS). Angka tersebut masih lebih baik dibandingkan perolehan dana zakat se-Indonesia tahun 2005.

Realitas tersebut tidak lantas membuat kita menjadi pesimis dan menyerah kalah pada keadaan. Karena di sisi lain, kita bisa melihat sebuah trend yang cukup bagus untuk membangun sebuah peradaban zakat yang akan berpengaruh dan sangat menentukan bagi bangkitnya kembali peradaban Islam di Indonesia ini khususnya, dan di dunia umumnya.

Ada sebuah penelitian sederhana yang dilakukan oleh Didin Hafidudin saat menjadi ketua BAZNAS. Pada Mei-Juni 2006 lalu di wilayah Jabodetabek, terungkap bahwa sebanyak 86% muzakki/munfik memiliki keyakinan dana ZIS akan mempu mengentaskan kemiskinan. Untuk emncapai hal tersebut, mereka berpendapat bahwa dana ZIS ini harus dikelola melalui lembaga yang amanah dan profesional. Ini merupakan sinyalemen yang cukup menggembirakandi tengah keprihatinan yang sedang dijalani. Kita pun melihat lembaga-lembaga zakat, baik LAZ maupun BAZ, yang saat ini menjamur di mana-mana, memiliki peran yang signifikan dalam penanganan daerah-daerah bencana maupun melakukan advokasi solutif bagi kaum tertindas. Kinerja mereka cukup optimal sehingga kehadirannya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat tanpa melalui rantai birokrasi yang panjang dan berbelit.

Sebagai contoh, penanganan korban mencana Tsunami di Aceh tahun 2004. Lembaga-lembaga zakat yang mempunyai dana sedikit karena karena hanya mengandalkan partisipasi masyarakat, bisa langsung membangun sekolah, madrasah, bahkan rumah penduduk di Aceh yang sangat berfungsi bagi pembangunan kembali mental masyarakat Aceh yang luka terseret gelombang Tsunami. Kinerja lembaga zakat jauh lebih cepat dan efektif dibandingkan dengan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh yang memiliki dana bertumpuk namun pendayagunaannya sanbat lambat. Kelemahan lembaga-lembaga zakat tersebut hanya satu, yaitu jumlah dana yang dimiliki masih sangat minim dan terbatas, apalagi jika dibandingkan dengan NGO asing.

Kehadiran lembaga-lembaga zakat tersebut memberikan sebuah harapan danak munculnya peradaban zakat di Indonesia. Batapa tidak, mereka hadir dengan kemandirian merealisasikan relasi antara aghniya (The Have) dan dhuafa (The Have Not). Mereka tidak bergantung kepada pemerintah dalam mencari dana dan melakukan pemberdayaan masyarakat. Pembangunan civil society pun dapat terealisasi secara nyata walaupun dalam komunitas yang terbatas. Dengan dedikasi, loyalitas, dan profesionalitas dengan dilandasi nilai-nilai tauhid, mereka tampil menjadi komunitas profesi baru yang sampai saat ini masih tergolong bersih, amanah, dan transparan. Sebuah kondisi yang saat ini sulut ditemukan di lembaga-lembaga pemerintah yang penuh dengan kebocoran maupun LSM yang menggantungkan kehidupannya dari “memeras” pejabat atau menunggu bantuan luar negeri.

Eksistensi lembaga zakat ini sudah selayaknya mendapat perhatian dari berbagai pihak. Masyarakat bisa memberikan perhatiannya dengan cara memberi kepercayaan kepada lembaga-lembaga zakat untuk mengelola zakatnyasambil terus memberikan pengawasan dan kritik konstruktif agar keberadaannya tetap bersih. Pemerintah pun, jika ingin aman dalam menyalurkan dana sosialnya, bisa menjadikan lembaga-lembaga zakat ini sebagai mitra. Hanya saja, jangan berharap memberikan kuitansi kosong untuk ditandatangani sebagaimana lazimnya bantuan pemerintah selama ini. Sampai saat ini, para amil zakat masih tergolong bersih karena profesi mereka dilandasi oleh nilai tauhid, bahkan langsung mendapat SK dari Allah Swt.

Tanpa banyak basa basi, para amil zakat profesional ini langsung terjun ke masyarakat, berbicara dengan bahasa mereka, melalui hati nurani yang bersih, tanpa manipulasi, dan tanpa kepentingan politis tertentu. Sehingga layak jika kemudian masyarakat lemah kini mulai menggantungkan harapan kepada lembaga-lembaga zakat. Namun, sekali lagi disayangkan, harapan itu belum sepenuhnya bisa diwujudkan karena harta zakat yang menjadi hak kaum dhuafa masih banyak tertahan di “kocek” aghniya (para orang kaya) yang masih belum puas mereguk kekayaan dunia.

 

Pondasi Peradaban Zakat

Sekelompok amil yang memiiki memiliki dedikasi, loyalitas, dan profesional tersebut bisa menjadi sebuah pondasi utama bagi terbangunnya kegemilangan peradaban Islam yang dimulai dari peradaban zakat. Selain itu, kalangan aghniya yang dengan kesadaran tinggi dan kecerdasan iman bersedia menyisihkan sebagian hartanya bukan hanya pada bulan Ramadan, juga menjadi pondasi selanjutnya. Terakhir, kalangan masyarakat lemah (dhuafa) yang terdidik, terbina, dan tercerdaskan oleh kerja keras para amil sehingga mampu mandiri, juga merupakan poin penting bagi terwujudnya peradaban zakat di negeri ini.

Zakat bukanlah semata-mata charity atau kedermawanan sosial. Zakat bukan pula sekedar upaya menggugurkan kewajiban agama semata. Zakat adalah sebuah investasi yang bersifat ukhrawi dan duniawi sekaligus. Bersifat ukhrawi karena zakat selain akan menambah kulaitas keimanan dan ketakwaan, juga menambah harta kekayaan sang muzakki. Selain itu, secara duniawi, zakat dapat mendorong pembukaan lapangan pekerjaan baru sehingga akan meningkatkan pendapatan dan daya beli kaum dhuafa. Peningkatan tersebut pada akhirnya akan mendorong tumbuhnya perekkonomian masyarakat.

Pendapat ini bukanlah tanpa argumentasi yang sahih. Rasulullah saw. dalah sebuah hadits sahih riwayat Imam al-Asbahani telah bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt. telah mewajibkan atas orang-orang kaya muslim suatu kewajiban zakat yang dapat menanggulangi kemiskinan. Tidaklah mungkin seorang fakir menderita kelaparan atau kekurangan pakaian, kecuali oleh sebab kebakhilan yang ada pada orang kaya muslim. Ingatlah, Allah Swt. akan melakukan perhitungan yang teliti dan meminta pertanggungjawaban mereka dan selanjutnya akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih”.

Lebih jelas lagi, Allah Swt. berfirman dalam surah ar-Ruum ayat 39, yakni “Dan sesuatu riba (bunga, renten) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk emncapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan”.

Sinyaleman Allah tersebut benar-benar terbukti pada kehidupan saat ini. Konsep ekonomi makro yang bersandar pada bunga melalui bank-bank konvensional hanya menguntungkan kalangan kaya dan pemodal besar saja. Buktinya, walaupun secara hitung-hitungan pemerintah, ekonoomi makro Indonesia terus mengalami peningkatan, namun secara riil, kondisi ekonomi masyarakat bawah masih sangat memprihatinkan. Kami yakin, lambat laun, konsep ekonomi ribawi kapitalistik tersebut akan semakin membuat bangsa ini terpuruk ke dalam jurang kemiskinan yang semakin parah.

Pada titik inilah, sesungguhnya zakat bisa memainkan peran signifikan bagi pembentukan karakter bangsa yang mandiri, bersih, dan mampu membangun ekonomi kerakyatan yang sejati, bukan sebatas konsep di atas kertas dan bukan pula sekedar lips service para pengusaha kaya yang “tebar pesona” untuk mempertahankan esistensinya. Jika sekarang eksistensi perzakatan masih dipertanyakan berbagai kalangan karena sebesar 2,5%, dan juga kesadaran pemerintah dan masyarakat untuk mengoptimalkan penghimpunan zakat bagi pemberdayaan social society masih sangat rendah, itulah yang harus diperbaiki ke depan.

Sistem zakat nasional harus terus diperkuat. Pembentukan kementerian zakat bisa menjadi opsi politik penting yang akan memihak rakyat kecil. Selain itu, regulasi tentang perzakatan juga layak menjadi perhatian serius, terutama mengenai pembayaran zakat yang akan mengurangi beban pajak, juga sanksi bagi orang Islam kaya yang tidak mau bayar zakat. Melalui hal tersebut, diharapkan kerja keras para amil yang selama ini cukup kreatif dan inovatif akan mendapatkan suplemen yang sangat membantu secara signifikan sehingga masyarakat lemah yang selama ini menggantungkan harapan tinggi kepada lembaga-lembaga amil tersebut tidak akan kecewa hanya karena dana yang ada di lembaga tersebut sangat terbatas.

Dalam konteks global, kerjasama negara-negara muslim dalam optimalisasi potensi pemberdayaan zakat harus terus dibangun. Pembentukan Dewan Zakat Asia Tenggara beberapa tahun ke belakang harus terus diperkuat dan bahkan diperluas cakupannya sehingga diharapkan menjadi subsidi silang dari negara yang surplus zakat kepada negara yang minus zakat, baik dari segi penghimpunan maupun pemberdayaan.

Karya kecil ini merupakan sebuah langkah kecil. Namun, diharapkan langkah kecil ini mampu memberikan inspirasi bagi banyak pihak untuk segera tersadar dan kemudian melakukan langkah-langkah besar demi terwujudnya peradaban zakat di muka bumi ini. Penyusun meyakini, janji Allah yang akan melipatgandakan keuntungan bagi orang-orang Islam dengan syarat mereka pun menjalankan perintah agama secara serius, penuh dedikasi, dan menunjukkan profesionalitas yang tinggi. Peradaban zakat yang gemilang di dunia Islam, bisa dimulai dari hal terkecil, “Lebih senang memberi daripada menerima, apalagi meminta-minta”.

Panduan Zakat Praktis, Pusat Zakat Umat, 2006. Ahmad Faisal

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB