Oleh: Haris Muslim, Lc., M.A (Dewan Syariah Pusat Zakat Umat)

Bulan Dzulhijjah identik dengan beberapa ibadah yang secara khusus disyariatkan pada bulan tersebut, seperti Haji, Shaum Arafah, dan Qurban. Baik Qurban ataupun Haji mempunyai akar sejarah yang sama, yaitu perjuangan Nabi Ibrahim a.s. dengan keluarganya dalam menegakkan ajaran tauhid, yang kemudian diabadikan dalam syariat. Sebagai ibadah yang selalu terulang setiap setahun sekali, ibadah di bulan Dzulhijjah perlu mendapatkan perhatian khusus dari kaum muslimin berkenaan dengan hukum Islam seputar syariat tersebut agar menjadi panduan di dalam pelaksanaanya. Tulisan singkat ini akan mencoba memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah Qurban, terutama dari perspektif hukum Islam (fiqih).

Makna Qurban

Secara bahasa, Qurban diambil dari kalimat Qarraba, Yuqarribu, Qurbaanan yang berarti mendekatkan diri, seperti disebutkan dalam firman Allah Swt.,

“ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).”  (QS Al-Maidah [5]: 27) Dalam bahasa fiqih, Qurban sering disebut dengan “Udhiyah” yang berarti sembelihan. Disebut juga “Nahr” sebagaimana firman Allah Swt.:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” (QS Al-Kautsar [108]: 2)  Adapun yang dimaksud dengan Udhiyah atau Qurban secara syariat adalah  hewan yang khusus disembelih pada saat Hari Raya Qurban (‘Idul Al-Adha, 10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyriq (11,12, dan 13 Dzulhijjah) sebagai upaya untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Swt.

Qurban disyariatkan pada tahun kedua Hijriah, di tahun yang sama dengan disyariatkannya zakat dan shalat dua hari raya. Saat itu, Rasulullah keluar menuju masjid untuk melaksanakan shalat ‘Idul Adha dan membaca khutbah `Id. Setelah itu, beliau berqurban dua ekor kambing yang bertanduk dan berbulu putih.

Hukum Qurban

Jumhur ulama berpendapat bahwa hukum qurban adalah Sunnah Muakkadah bagi yang mempunyai kemampuan untuk melaksanakannya. Sebagian ulama memang ada yang berpendapat bahwa berqurban hukumnya wajib, akan tetapi jika melihat kepada landasan dalil yang digunakan, maka pendapat yang mengatakan Sunnah Muakkadah lebih kuat.

Ketetapan hukum ini berlandaskan kepada dalil-dalil dari Al-Qur’an dan sunnah. Adapun dalil dari Al-Qur’an, di antaranya firman Allah Swt.  al-Kautsar seperti disebut di atas dan juga firman Allah Swt.:“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi´ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS Al-Hajj [22]: 36).

 Adapun dalil dari sunnah, di antaranya hadis Nabi Saw.:

Dari Anas Ibnu Malik r.a. “bahwa Nabi Saw. biasanya berkurban dua ekor kambing kibas bertanduk. Beliau menyebut nama Allah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kaki beliau di atas dahi binatang itu. Dalam suatu lafadz: Beliau menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri.” (Muttafaq Alaih).

Dari Ummu Salamah sesungguhnya Nabi Saw. bersabda, “Jika kalian melihat hilal awal bulan Dzulhijjah, dan di antara kalian ada yang hendak menyembelih Qurban, maka hendaklah menahan untuk tidak memotong rambut dan kukunya” (HR Muslim)

Mengaitkan ibadah Qurban dengan kehendak, dalam perkataan “wa araada ahadukum” (dan di antara kalian ada yang berkehendak) ini menunjukan bahwa hukum berqurban bukan wajib, akan tetapi sunnah. Hal tersebut mengingat keutamaan yang terkandung dalam syariat tersebut didukung oleh hadis-hadis lain, seperti peringatan Rasulullah Saw. untuk tidak mendekati mushalla kami, maka sunnahnya Qurban itu termasuk kepada Sunnah Muakkadah.

Adapun larangan memotong rambut dan kuku, tidak ada kaitannya dengan sah dan tidaknya ibadah Qurban. Keterangan tersebut hanya sebatas perintah yang bersifat anjuran dan menunjukan pada sunnahnya perbuatan tersebut.

Ada sebagian yang berpendapat bahwa syariat Qurban itu adalah syariat sekali dalam seumur hidup sehingga seseorang yang pernah melaksanakan qurban satu kali, tidak perlu lagi melaksanakan kembali di tahun-tahun berikutnya. Pemahaman seperti ini tidak tepat, sebab syariat Qurban adalah syariat yang ada setiap tahun bagi mereka yang mampu, berdasarkan sabda Nabi Saw., “Wahai manusia, sesungguhnya diperintahkan kepada setiap keluarga di setiap tahun untuk menyembelih Qurban” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Wallahu A’lam bis Shawab

 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB