KH. Rahmat Najieb

 

Rasulullah saw. diperintah Allah Swt. untuk membacakan cerita yang sebenarnya tentang dua putra Adam a.s. yang berkurban; Kurban seorang dari mereka diterima sedangkan yang lainnya ditolak. Mengapa demikian? Mengapa amal yang dicontohkan itu kurban? Penulis mencoba mengungkap alasan mengapa amal itu ditolak, apa syarat agar amal ibadah diterima, bagaimana kurban yang memenuhi syarat, dan apa do’a agar amal ibadah kita diterima?

Sebab Qurban Tidak Diterima

  1. Tidak Beriman

Iman kepada Allah dan kepada rukun iman lainnya adalah syarat utama diterimanya suatu amal. Sebab, sebaik apapun amal seseorang jika tidak beriman akan ditolak. Adalah kaum Quraisy yang merasa bangga dengan amalnya, karena mereka memakmurkan Masjid Haram, memeliharanya, dan  selalu melayani orang yang berhaji ke Baitullah, sampai menyediakan minum dan keperluan lainnya. Tetapi, beriman kepada Allah dan hari akhir serta jihad fii Sabilillah lebih utama daripada memelihara Masjid Haram. Kemudian Allah menurunkan ayat:

Apakah (orang-orang) yang memberi minum jamaah yang mengerjakan haji dan mengurus Masjid Haram kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS at-Taubah [9] : 19)

Tidak disebut amal shaleh jika tidak beriman kepada Allah dan hari akhir dan amal-amal mereka akan sia-sia. Allah Swt. selalu mensyaratkan bahwa amal saleh itu didasari dengan beriman.

Amal orang kafir tidak bermanfaat sedikit pun bagi mereka nanti di akhirat, Firman Allah:

Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu ia tidak mendapatinya sesuatu apa pun dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS an-Nur [24] : 39)

Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. (QS Ibrahim [14] : 18)

Orang-orang kafir beramal tidak didasarkan atas iman. Karena itu tidaklah mendapatkan balasan dari Tuhan di akhirat walaupun di dunia mereka mengira akan mendapatkan balasan atas amalan mereka itu.

Di akhirat nanti, amal-amal orang yang tidak beriman benar-benar hancur tak berarti apa-apa, sekalipun amalnya dinilai manusia mengungguli orang-orang yang beriman.

  1. Bukan Muslim

Muslim artinya orang ber­serah diri kepada Allah. Ia menyerahkan segala urusan kepada Allah, rela diatur dengan syariat Islam, tidak mengharapkan agama lain, tidak membuat undang-undang yang bertentangan dengan syariat. Siapa yang tidak menjadikan syariat Islam sebagai undang-undang, amalnya tidak akan diterima. Firman Allah, “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidak­lah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (QS Ali Imran [3] : 85)

  1. Riya, Tidak karena Allah

Ikhlas artinya murni tanpa campuran. Orang yang ikhlas disebut mukhlish, yaitu orang yang beribadah hanya mengharapkan keridaan Allah, ada makhluk lain atau tidak ia tetap beribadah. Dicaci, dimaki, atau pun disiksa ia tetap taat menjalankan perintah Allah Swt. Maksudnya, kalau beribadah harus murni kepada Allah jangan ada campuran pengaruh dari makhluk sedikit pun.

Kebalikan ikhlas adalah riya. Orangnya disebut muraaiy. Riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridaan Allah. Akan tetapi, perbuatan itu untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat. Muraaiy tidak akan mendapat manfaat di dunia dari ibadah dan usahanya serta ia pun tidak akan mendapat pahala di akhirat.

Riya termasuk syirik kecil karena selain ibadahnya karena Allah, ia pun ingin mendapat pujian dan penilaian positif dari makhluk. Terlepas apakah makhluk itu memujinya atau bahkan mencelanya, ia tetap disebut muraaiy.  Ikhlas dan riya adalah amal hati, dan tidak ada yang mengetahui hati seseorang selain Allah yang Mahatahu. Orang yang terlihat sedang melaksanakan salat belum tentu salatnya menjadi amal saleh yang diterima Allah, sekalipun bacaannya benar dan gerakannya sesuai sunnah jika dalam hatinya ada riya (tidak ikhlas). Firman Allah Swt,  “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dalam salatnya, orang-orang yang berbuat riya.” (QS al-Ma’un [107] : 4-6)

Amal ibadah muraaiy tidak akan diterima Allah. Allah tidak akan membalasnya dengan pahala karena pahalanya sudah ia dapatkan di dunia dari orang-orang yang ia harapkan berupa pujian dan kesenangan dunia. Firman Allah, “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sem­purna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS Hud [11] : 15-16)

Beramal menghidari riya bukan berarti kita harus sembunyi, menjauhkan diri dari orang lain. Ada beberapa ibadah yang harus diketahui orang lain sebagai syiar Islam, seperti mengeraskan kalimat azan, takbir, dan kalimat amin dalam salat. Atau, ibadah nafsiyah, seperti salat berjamaah. Kurban dan haji termasuk ibadah syi’ar Islam yang harus disaksikan oleh orang banyak dan menjadi daya tarik dakwah bagi orang lain, namun tetap harus dijaga keikhlasannya. Firman Allah:

Supaya mereka menyaksi­kan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan ke­pada mereka berupa binatang ternak. Karena itu, makanlah sebagian dari padanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS al-Hajj [22] : 28)

Hari yang ditentukan adalah pada musim haji tanggal 10-13 Dzulhijjah. Binatang ternak yang dimaksud adalah unta, sapi, biri-biri, dan sejenisnya yang dikurbankan pada tanggal-tanggal di atas.

Pada QS al-Kautsar [108] ada dua ibadah yang disyariatkan: salat dan berkurban. Firman Allah Swt.:

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ ~ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ ~ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Karena itu dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu ialah yang terputus.”

Kata “lirabbika” (karena Tuhanmu) terletak setelah “fashalli” (karena itu salatlah) didahulukan sebelum kata “wanhar” (dan berkurbanlah). Taqdim dan ta’khir (meng­akhirkan) menunjukkan bahwa sebelum kurban harus benar-benar ikhlas karena Allah. Jika salat seseorang batal dan harus  diulangi lagi, hal itu mudah sekali. Tetapi jika kurbannya batal, untuk mengulanginya memerlukan pengorbanan harta yang tidak sedikit dan waktunya pun terbatas. Maka rugilah ia.

  1. Bertentangan dengan Syariat

Kurban dengan menyembelih hewan atau menyajikan makanan bagi tuhan yang disembah ada pada tiap agama dan kepercayaan. Di zaman modern pun, ke­yakinan harus berkurban bagi makhluk ter­tentu masih ada. Kita mengenal kata parepeh atau tumbal, bahkan darah bela sungkawa, misal­nya ketika hendak menyunat anak secara bersamaan menyembelih ayam supaya berkurang rasa sakitnya.

Walaupun pada saat menyem­belihnya menyebut nama Allah atau membaca Bismillah, tetapi tujuannya untuk dipersembahkan ke­pada berhala atau sembahan. Biasanya, kepala hewan itu dikubur bersama batu pondasi atau diceburkan ke laut sedang dagingnya dimakan dalam acara pesta. Perbuatan itu termasuk syirik dan dagingnya haram.

  1. Tidak Sesuai dengan Sunnah Rasul saw.

Allah Swt. telah menjadikan Nabi Muhammad saw. sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik) bagi ummat Islam. Bahkan, mengikuti Rasulullah saw. dijadikan syarat mutlak sebagai tanda mencintai Allah Swt. Orang yang taat kepada Rasulullah saw, artinya mengikuti sunnahnya, amalnya akan diterima dan ia berhak untuk masuk surga. Sebaliknya, orang yang beribadah dengan tidak mencontoh beliau berarti ia menolak masuk surga.

Berniat baik saja belum cukup jika tidak mengikuti sunah Rasul saw.. Rasulullah saw. mengemukakan kriteia hewan yang layak dikurbankan. Jenis hewan yang dikurbankan adalah kambing, sapi, unta, atau yang di-qiyas-kan kepada ternak tersebut. Hewan-hewan kurban itu harus mulus, sehat, banyak dagingnya bukan sekedar mengalirkan darah.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ r أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِى سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِى سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِى سَوَادٍ فَأُتِىَ بِهِ لِيُضَحِّىَ بِهِ فَقَالَ لَهَا «يَا عَائِشَةُ هَلُمِّى الْمُدْيَةَ»

Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw., menyuruh dibawakan kambing yang putih, di atas kukunya hitam, lututnya hitam, sekitar matanya hitam. Kemudian, dibawakannya untuk dikurbankan. Lalu kata beliau, “Ya Aisyah, kemarikan pisau.”. (HR Muslim)

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللّٰهِ r يُضَحِّى بِكَبْشٍ أَقْرَنَ فَحِيلٍ يَنْظُرُ فِى سَوَادٍ وَيَأْكُلُ فِى سَوَادٍ وَيَمْشِى فِى سَوَادٍ.

Dari Abi Said r.a. katanya, “Adalah Rasulullah saw. berkurban dengan kambing bertanduk (jantan) yang indah dipandang, sekitar matanya hitam, sekitar mulutnya hitam, dan sekitar kukunya hitam”. (HR Abu Daud)

Menurut pandangan orang Arab, bahwa kambing putih itu lebih disukai daripada warna lain dan dikatakan elok bila sekitar mata, lutut, mulut, dan kukunya berwarna hitam. Tetapi hal ini tidak menjadi syarat. Hadits di atas menunjukkan bahwa berkurban itu harus dengan harta yang disukai.

Rasulullah saw. mengemuka­kan syarat ternak yang akan dikurbankan, yaitu:

وَعَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ : {أَمَرَنَا رَسُولُ اللّٰهِ r أَنْ نَسْتَشْرِفَ الْعَيْنَ وَالْأُذُنَ، وَلَا نُضَحِّيَ بِعَوْرَاءَ، وَلَا مُقَابَلَةٍ وَلَا مُدَابَرَةٍ، وَلَا خَرْقَاءَ، وَلَا ثَرْمَاءَ} أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ

Dari Ali r.aز katanya, “Rasulullah saw. menyuruh kami agar memperhatikan mata dan telinga udlhiyah; agar kita tidak menyembelih yang buta, yang digunting telinga bagian ujungnya dan dibiarkan terkulai, juga yang digunting bagian belakang telinganya, yang terbelah telinganya atau berlubang daun dan yang ompong gigi depannya.” (HR Ahmad imam yang empat. Kata at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan al-Hakim, hadits ini sahih)

Biasanya, orang Arab memberi tanda ternak miliknya dengan meng­gunting atau melubangi telinga­nya supaya tidak ter­tukar dengan milik orang  lain waktu menggembalanya di padang rumput milik umum. Sedangkan yang tidak diberi tanda adalah yang ditempatkan di kandang atau yang diurus secara khusus.

وَعَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ : {قَامَ فِينَا رَسُولُ اللّٰهِ r فَقَالَ : أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الضَّحَايَا : الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا ، وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ضَلْعُهَا، وَالْكَبِيرَةُ الَّتِي لَا تُنْقِي} رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ، وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ .

Dari al-Barra bin ‘Azib r.a. katanya, Rasulullah saw. berdiri di tengah-tengah kami seraya bersabda, “Empat ciri yang tidak boleh ada pada dlahaya (hewan kurban); buta yang jelas butanya, sakit yang terlihat sakitnya, pincang yang tampak saat berjalannya, dan binatang tua yang tidak bersumsum”. (HR al-Khamsah, Imam Attirmidzi, dan Ibnu Hibban menyatakan sahih)

وَعَنْ جَابِرٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ r : {لَا تَذْبَحُوا إلَّا مُسِنَّةً، إلَّا إنْ تَعَسَّرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنْ الضَّأْنِ} (رَوَاهُ مُسْلِمٌ وأبو داود)

Dari Jabir r.a., katanya, Rasulullah saw. bersabda, “Kamu jangan menyembelih kecuali yang musinnah. Kecuali jika susah mendapatkannya, sembelihlah yang jadza’ah dari kambing”. (HR Muslim dan Abu Daud)

Kata Ibnu al-Malik, al-Musinnah ialah yang sudah cukup umur; jika pada unta yang berusia lima tahun masuk enam tahun, kalau sapi yang berumur dua tahun menjelang masuk tahun ketiga, sedangkan pada kambing yang sudah berumur satu tahun. (Aunul Ma’bud)

Dalam mengartikan jadza’ah, para ulama pun berbeda pendapat. Tetapi, pada umumnya mereka berpendapat bahwa jadza’ah itu usia ternak sebelum masuk musinnah, misalnya kambing yang berusia enam bulan sebelum masuk satu tahun.

Pada zaman Rasulullah saw. pernah terjadi kurban seseorang tidak memenuhi syarat:

صَلَّى النَّبِيُّ  r  يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ خَطَبَ ثُمَّ ذَبَحَ فَقَالَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ أُخْرَى مَكَانَهَا ، وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللّٰهِ.

Nabi Saw salat pada hari Nahar (Idul Adha) kemudian beliau berkhutbah  lalu beliau menyembelih, sabdanya, “Siapa yang menyembelih sebelum salat, hendaklah ia menyembelih lagi kambing penggantinya. Siapa yang belum menyem­belih hendaklah ia menyem­belih dengan Nama Allah”.  (HR al-Bukhari dari al-Aswad bin Jundab)

  1. Tidak Bertakwa

Firman Allah, ”Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, kemudian diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS al-Maidah [5] : 27)

Pada ayat di atas, Allah Swt. mengungkapkan kata “bilhaq”, artinya dengan sesungguhnya, karena banyak tersebar tentang cerita dua putra Adam ini yang tidak sesuai dengan kenyataan, terutama dari kalangan Bani Israil. Sebab itu, pada asalnya cerita ini ditujukan kepada mereka. Qabil dan Habil mengurbankan jenis yang sama (kambing), sama besarnya, sama kualitasnya dan dengan cara yang sama pula. Tetapi mengapa Allah tidak menerima pengurbanan Qabil.

Selanjutnya, terjadilah pembunuhan pertama dalam sejarah manusia yang dilakukan oleh Qabil karena ia tidak senang kurbannya tidak diterima. Ia menuduh bahwa ayahnya, Adam berlaku tidak adil terhadap dirinya dan sengaja lebih berpihak kepada adiknya. Ia mengancam hendak membunuh Habil. Habil menjelaskan bahwa diterima tidaknya kurban seseorang itu tergantung niat dan keikhlasannya. Tidak diukur dengan jumlah harganya, besar badannya, berat timbangannya, dan mulus tidaknya. Allah hanya memandang ketakwaan yang mendorong amal. “Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.”

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Hajj [22] : 37)

Kedua ayat di atas memberi pengajaran bahwa yang dinilai Allah dalam setiap amal adalah ikhlasnya di samping pemenuhan syarat yang lain. Biasanya, ada sebagian umat Islam yang merasa bangga karena kambingnya mulus atau sapinya gemuk. Ia berkurban ingin dipuji orang atau disebut kaya dan dermawan. Orang semacam itu shada­qahnya batal serta pahalanya hanya sekedar pujian dan sanjungan, itu bila ada orang yang menanggapinya. Selebihnya, di sisi Allah ia tidak mendapat apa-apa.

  1. Tidak Berdo’a

Rasulullah saw, ketika akan menyembelih kurban, beliau berdo’a,

« بِاسْمِ اللّٰهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ »

Dengan nama Allah, Ya Allah, terimalah dari Muhammad, dan keluarga Muhammad, dan ummat Muhammad” (HR Muslim)

Wallahu A’lam bis Shawab

Bersihkan Harta Dengan Zakat

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB