dr. Harry Rayadi, MARS

 

Coronavirus Diseases 2019 yang biasa dikenal dengan COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh keluarga besar virus corona jenis baru yang diberinama SARS-CoV-2. Virus ini menyerang per­napasan dan dapat menye­bab­kan gangguan sistem pernapasan, pneumonia akut, bahkan sampai kemati­an. COVID-19 adalah penyakit jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia.

Penyebaran virus ini sangat cepat, yaitu ditularkan dari manusia ke manusia dan telah menyebar dengan luas pada lebih 190 negara. Jumlah kematian di seluruh dunia hingga tanggal 30 Juni 2020, terdapat 504 ribu kasus dari 10,3 juta kasus terkonfirmasi pada 213 negara.

Angka kejadian di Indonesia sampai 30 Juni 2020, ditetap­kan 55.092 kasus positif, 2.805 meninggal, dan 23.800 orang dinyatakan sembuh. Badan Kesehatan Sedunia, WHO (World Health Organization) mendeklarasikan status pandemi.

Hari Raya Ied`l Fitri telah berlalu dengan terganggunya pelaksanaan salat Ied-nya. Sementara sebentar lagi, kita akan menghadapi Hari Raya Iedul Adha sedangkan pandemi diprediksi belum berakhir. Tentang prosesi salat Ied, tentunya tidak akan berbeda jauh pelaksaannya dengan salat Ied`l Fitri.  Namun, hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah yang ada kaitannya dengan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban karena biasanya mengundang kerurumunan banyak orang dan kaitannya dengan daging hewan kurban itu sendiri.

Oleh sebab itu, terdapat beberapa hal yang harus menjadi perhatian pada prosesi penyembelihan hewan kurban untuk menjaga kualitas dan keamanan daging kurban dari kontaminasi virus atau yang lainnya. Sebetulnya, prosesi penyembelihan hewan kurban pada saat pandemi ini adalah menyerahkan proses penyembelihan pada tempat pemotongan hewan kurban. Sedangkan panitia tinggal mengemas dan mendistibusikannya. Atau, proses kurban memer­cayakan seluruh prosesinya kepada lembaga yang sudah biasa menanganinya, misalnya Pusat Zakat Umat. Sedangkan panitia tinggal membagikan bagian untuk para pekurban dan sebagian untuk didistribusikan ke­pada yang berhak. Kalau pun seandainya prosesi penyembelihan akan dikelola mandiri, maka harus diper­hatikan agar tidak terjadi penularan virus antara orang-orang yang terlibat dalam prosesi tersebut dan pengunjungnya. Sebagaimana sudah kita ketahui, penualaran (transmisi) virus dapat melalui:

Transmisi droplet (tetesan pernapasan besar orang yang bersin, batuk,  atau tetesan lainnya)

Transmisi aerosol (ketika sesorang batuk atau bersin di dalam ruangan)

Transmisi kontak (menyentuh permukaan yang terkontaminasi kemudian menyentuh mulut, hidung, atau mata)

Transmisi langsung (ciuman, berjabat tangan, dll)

Maka, langkah yang harus dilakukan adalah:

Yang sedang batuk pilek sebaiknya tidak terlibat dalam prosesi.

Memeriksa suhu tubuh semua orang yang terlibat dalam prosesi.

Pemeriksaan Rapid Test kepada semua panitia yang terlibat.

Penggunaan masker dan sarung tangan bagi semua panitia.

Pengunaan masker bagi pengunjung.

Mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir selama 20 detik (minimal) sebelum dan sesudah prosesi penyembelihan.

Adapun tentang daging hewan kurban atau al-Udlhiyah itu sendiri agar aman dan lebih bermanfaat saat pandemic, maka pastikan kondisi hewan kurban dalam kondisi sehat, sebagaimana sabda Rasululullah saw.:

Tidak boleh berkurban dengan kambing pincang dan jelas kepincangannya, atau kambing yang buta sebelah dan jelas kebutaannya, atau kambing yang sakit dan jelas sakitnya, atau kurus yang tidak bersumsum (berdaging).” (HR at-Tirmidzi)

Pada hadis lain, beliau menyatakan:

Hitunglah enam perkara yang akan timbul menjelang hari kiamat. Kematianku, dibebaskannya Baitul Maqdis, kematian yang menyerang kalian bagaikan penyakit yang menyerang kambing (كقعاصالغنم)  sehingga mati seketika.” (HR al-Bukhari)

Dalam Lisan  Arab, قعاصالغنم  ditujukan kepada penyakit infeksi pada kambing yang berakhir dengan kemati­an. Sekarang, di dunia ke­dokteran termasuk salah satu penyakit Transmissible Spongiform Encephalopathy (T.S.E) yang berakibat fatal karena menyerang susunan syaraf pusat yang apabila mengenai manusia, apalagi pada saat pandemic seperti sekarang ini akan menambah keparahan infeksi COVID-19.

Para ahli nutrisi menyatakan terdapat zat-zat yang bermanfaat untuk kesehatan manusia yang terkandung dalam daging, di antaranya;

Asam amino, yang sangat penting untuk pembentukan enzim dan hormon.

Niacin (B3), sangat berguna untuk kesehatan kulit, persyarafan, sistem pencernaan makanan, dan fungsi otak,

VitaminB6, sangat diperlukan untuk menjaga fungsi persyarafan, dan untuk pembentukan anti body, sel darah putih dalam melawan infeksi.

Vitamin B12, sangat diperlukan untuk kerja sel tubuh dan produksi sel darah merah.

Zinc dan Selenium berperan dalam pertumbuhan badan, proses penyembuhan luka, kesehatan fungsiotak, sistem persyarafan, kesehatan sistem reproduksi, kesehatan otot, membantu fungsi penglihatan,

Zat besi, salah satu komponen dari sel darah merah, sangat diperlukan dalam proses pembentukan energi dan memelihara kekebalan tubuh.

Zat tersebut sangat ber­manfaat untuk membantu meningkatkan imunitas tubuh, apalagi saat pandemi. Akan tetapi, manfaat tersebut akan berkurang bahkan bisa hilang apabila salah dalam mengkonsumsinya, misalnya; digoreng; dicampur dengan tepung terigu; yang dimakan adalah`jeroannya, lemaknya, otaknya, apalagi dikonsumsi oleh orang yang mengalami sindrom ametabolik,  yaitu terjadi kumpulan faktor risiko metabolic yang berkaitan dengan risiko kejadian penyakit kardiovaskuler ateroslerotik, resistensi insulin dan diabetes mellitus, serta komplikasi neurovascular. Sehingga, kondisi ini membuat imunitas tubuh sesorang akan lebih rentan terhadap infeksi virus.

Dan yang terakhir, daging akan meningkatkan manfaat­nya apabila dikonsumsi bersamaan dengan acar mentimun, nenas, bawang putih, minyak zaitun, juga buah-buahan, terutama jeruk lemon.

Wallahu A’lam bis Shawab

Bersihkan Harta Dengan Zakat

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB