Dalam hadis-hadis Rasulullah saw. telah menetapkan kriteria hewan yang dapat diqurbankan baik jenis, umur, maupun kondisi fisik hewan qurban.

Macam Hewan Qurban

Hewan qurban menurut keterangan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yaitu: Unta dan sejenisnya, sapi dan sejenisnya, kambing dan sejenisnya.

Kriteria Umur

Hewan yang hendak diqurbankan harus musinnah (cukup umur). Berdasarkan hadis berikut:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَذْبَحُوا اِلاَّ مُسِنَّةً اِلاَّ أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَدْعَةً مِنَ الضَّأْنِ.

Dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Janganlah kamu menyembelih hewan qurban kecuali yang musinnah (cukup umurnya), sekiranya menyusahkan atas kamu maka sembelihlah kambing jad’ah (muda umurnya). (Hr. Abu Dawud)

Hadis ini menunjukkan bahwa Qurban tidak sah bila hewannya tidak cukup umur, kecuali bila sulit didapatkan maka diperbolehkan menyembelih hewan yang mencapai usia jad’ah.

Standar usia musinnah tergantung jenis hewannya. Apabila jenis Unta berarti berumur 5 tahun masuk tahun ke-6. Sapi berumur 2 tahun masuk tahun ke-3. Domba/kambing berumur 1 tahun atau kurang dari satu tahun.[1]

Standar usia jad’ah juga tergantung jenis hewannya. Jenis unta berumur maju ke 5 tahun. Sapi berumur maju ke-2. Domba/kambing berumur 6 bulan.[2]

Kriteria kondisi Hewan Qurban

Selain jenis hewan, disyariatkan pula tentang kondisi hewan qurban harus yang baik, sehat, gemuk, dan tidak ada cacat pada tubuhnya. Berdasarkan hadis-hadis, diilarang berqurban dengan binatang yang:

  1. Tampak jelas buta sebelah,
  2. Tampak jelas menderita penyakit (dalam keadaan sakit),
  3. Tampak jelas pincang jalannya,
  4. Tampak jelas pincangnya,
  5. lemah kakinya serta kurus,
  6. Tidak ada sebagian tanduknya
  7. Tidak ada sebagian kupingnya,
  8. Terdapat cacat pada bagian kupingnya,
  9. Pendek ekornya (cacat),
  10. Terpotong hidungnya,
  11. Rabun matanya,
  12. Tercabut kupingnya.

 

Sebagaimana diterangkan dalam hadis hadis berikut:

عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رضي الله عنه ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ, أَقْرَنَيْنِ, وَيُسَمِّي, وَيُكَبِّرُ, وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا. وَفِي لَفْظٍ: ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه وَفِي لَفْظِ: ( سَمِينَيْنِ ) وَلِأَبِي عَوَانَةَ فِي صَحِيحِهِ : ( ثَمِينَيْنِ ) بِالْمُثَلَّثَةِ بَدَلَ اَلسِّين ِ وَفِي لَفْظٍ لِمُسْلِمٍ, وَيَقُولُ: ( بِسْمِ اَللَّهِ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ )

Dari Anas Ibnu Malik ra. bahwa Nabi saw. biasanya berqurban dua ekor domba kibas bertanduk. Beliau menyebut nama Allah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kaki beliau di atas dahi binatang itu. Dalam suatu lafadz (Muttafaq alaih): Beliau menyembelihnya dengan tangan beliau sendiri. Dalam suatu lafadz: Dua ekor kambing gemuk. Menurut riwayat Abu Awanah dalam kitab Shahihnya: Dua ekor kambing mahal -dengan menggunakan huruf tsa bukan sin– Dalam suatu lafadz riwayat Muslim: Beliau membaca “bismillahi wallaahu akbar”.

وَلَهُ: مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا ( أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ, يَطَأُ فِي سَوَادٍ, وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ, وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ لِيُضَحِّيَ بِهِ, فَقَالَ: اِشْحَذِي اَلْمُدْيَةَ , ثُمَّ أَخَذَهَا, فَأَضْجَعَهُ, ثُمَّ ذَبَحَهُ, وَقَالَ: بِسْمِ اَللَّهِ, اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ, وَمِنْ أُمّةِ مُحَمَّدٍ )

Menurut riwayatnya dari hadis ‘Aisyah ra. bahwa beliau pernah menyuruh dibawakan dua ekor domba kibas bertanduk yang kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Maka dibawakanlah hewai itu kepada beliau. Beliau bersabda kepada ‘Aisyah: “Wahai ‘Aisyah, ambillah pisau.” Kemudian bersabda lagi: “Asahlah dengan batu.” ‘Aisyah melaksanakannya. Setelah itu beliau mengambil pisau dan domba, lalu membaringkannya, dan menyembelihnya seraya berdoa: “Dengan nama Allah. Ya Allah, terimalah (qurban ini) dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya.” Kemudian beliau berqurban dengannya. (HR. Muslim)

وَعَنِ اَلْبَرَاءِ بنِ عَازِبٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: ( أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي اَلضَّحَايَا: اَلْعَوْرَاءُ اَلْبَيِّنُ عَوَرُهَا, وَالْمَرِيضَةُ اَلْبَيِّنُ مَرَضُهَا, وَالْعَرْجَاءُ اَلْبَيِّنُ ظَلْعُهَ وَالْكَسِيرَةُ اَلَّتِي لَا تُنْقِي)  رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ

Al-Bara’ Ibnu ‘Azib ra. berkata: Rasulullah saw. berdiri di tengah-tengah kami dan bersabda: “Empat macam hewan yang tidak boleh dijadikan qurban, yaitu: yang tampak jelas butanya, tampak jelas sakitnya, tampak jelas pincangnya, dan hewan tua yang tidak bersum-sum.” Diriwayatkan oleh Imam yang lima. Dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban

وَعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: ( أَمَرَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ نَسْتَشْرِفَ اَلْعَيْنَ وَالْأُذُنَ, وَلَا نُضَحِّيَ بِعَوْرَاءَ, وَلَا مُقَابَلَةٍ, وَلَا مُدَابَرَةٍ, وَلَا خَرْمَاءَ, وَلَا ثَرْمَاءَ )  أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ, وَالْأَرْبَعَة ُ وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّانَ, وَالْحَاكِم

Ali ra. berkata: Rasulullah saw. memerintahkan kami agar memeriksa mata dan telinga, dan agar kami tidak mengurbankan hewan yang buta, yang terpotong telinga bagian depannya atau belakangnya, yang robek telinganya, dan tidak pula yang ompong gigi depannya. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Imam Empat. Dishahihkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan al-Hakim.

 

Bagaimana hukum berqurban dengan hewan yang dikebiri?

Hewan yang dikebiri tidaklah termasuk cacat. Dalam riwayat Ahmad dan at-Tirmidizi ada diriwayatkan dari Siti Aisyah, bahwasanya Rasulullah saw. pernah berqurban dengan dua kibasy yang gemuk, bertanduk dan telah dikebiri (maujuain)[3].

 

Bagaimana hukum berqurban dengan hewan betina?

Perihal berqurban dengan binatang jenis betina, kita belum mendapatkan keterangan dari Rasulullah yang melarang berqurban dengan betina. Adapun keterangan yang sharih, yang tegas-tegas menerangkan akan bolehnya betina dijadikan qurban ialah dalam aqiqah.

Ummu Karzin pernah bertanya kepada Rasulullah perihal aqiqah, maka Rasulullah bersabda:

نَعَمْ, عَنِ الغُلاَمِ شَاتَانِ وَعَنِ الأُنْثَى وَاحِدَةً, لاَ يَضُرُّكُمْ ذُكْرَنًا كُنَّ أَوْ إِنَاثًا

“Ya, bagi anak laki-laki dua kambing dan bagi anak perempuan satu, dan tidak mengapa kambing jantan atau betina”. (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

Orang tidak biasa menyembelih qurban dengan binatang jenis hewan betina, mungkin mengingat akan kelanjutan keturunan binatang tersebut. Sebab dengan adanya penyembelihan binatang jenis betina yang terlampau banyak dapat mengakibatkan kekurangan ternak, bahkan dapat mengakibatkan musnah atau habisnya keturunan ternak tersebut.

Dewan Hisbah Persatuan Islam. 2019. Masalah Seputar Idul Adha dan Qurban. Bandung-Persispres

[1] Lihat, Aunul Ma’bud, juz VII:352-353

[2] Lihat, Taudhihul Ahkam syarah Bulughul Maram, VII:87

 

[3] Hukum mengebirinya haram. Tetapi berqurban dengan kambing yang dikebiri diperbolehkan.

Bersihkan Harta Dengan Zakat

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB