Oleh:
Mumu Mujahidin
(Peracik Kopi)

Trend minum kopi saat ini semakin berkembang dan merebak hingga ke semua kalangan. Tidak hanya menjadi “Mood Booster”, minum kopi pun menjadi gaya hidup generasi milenial hingga dewasa. Terkhusus di Indonesia, selain untuk menikmati kopi, dengan bermunculannya Coffee Shop atau kedai kopi menjadi salah satu “wadah” untuk berkumpul mulai dari aktivitas santai, ngobrol, mengerjakan tugas, berdiskusi, hingga main bareng game online.
Jauh sebelum tenar seperti saat ini, minum kopi sebenarnya sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia atau Nusantara pada saat itu. Terdapat bukti arkeologis David Tapperi (1667 – 1682) yang berpendapat bahwa Wiji Kawih dalam inkripsi Jawa Kawi tahun 856 M merujuk pada biji kopi dalam daftar minuman di Jawa.
Masa berikutnya adalah pada abad ke-11 hingga ke-13 yang terdapat cerita rakyat Pangeran Darpo kerajaan Daha (Kediri) yang mengadakan sayembara “Kopi Racik” yang dapat menghangatkan dan menyegarkan tubuh. Sayembara tersebut dimenangkan oleh seorang janda dari desa Balowerti. Dengan menambahkan jahe, kencur, kapulaga, jintan, dan keningar (kayu manis) ke dalam kopi. Racikan ini kemudian dikenal hingga saat ini dengan nama “Kopi Racik Rondo Kuning”. Cerita rakyat ini mengindikasikan bahwa minuman kopi tidak terbatas hanya untuk di kalangan istana saja, melainkan seluruh rakyat pada masa itu bisa menikmatinya.
Bagi Masyarakat Aceh, kebiasaan minum kopi lebih dahulu dikenalkan oleh pedagang-pedagang Muslim Arab. Selanjutnya, minum kopi dipengaruhi juga oleh pemerintahan Turki Utsmani yang pada saat itu intens berhubungan terkait permohonan bantuan Sultan Aceh untuk menghadapi Portugis di Malaka.
Pada 1596, Cornelis De Houtman dan rombongannya disajikan kopi dan manisan pada saat berkunjung ke kesultanan Banten untuk membicarakan kontrak dagang Belanda. Selanjutnya, pada tahun 1597 baru ditanda tangani kontrak baru untuk penanaman kopi di wilayah Banten.
Pada masa penjajahan Belanda dan pemberlakuan proyek tanam paksa (Cultuurstelsel), kopi menjadi barang mewah untuk diekspor ke pasar dunia dan yang hanya disajikan kepada tamu-tamu kehormatan, kalangan menak, dan pembesar Belanda saja. Adapun masyarakat saat itu, khususnya Jawa tidak diperbolehkan untuk meminum kopi dari hasil jerih payahnya dan harus rela meminum kopi dari biji jagung yang sudah dibakar terlebih dahulu.
Kegiatan minum kopi sebenarnya sudah menjadi kebiasaan masyarakat Asia Tenggara yang diperkenalkan oleh bangsa Arab. Namun, baru populer pada abad ke-18 setelah tanam paksa di Jawa oleh Belanda pada tahun 1690-an.
Sebelum menjadi trend seperti saat ini dan menyebar ke seluruh dunia khususnya Indonesia, sejarah awal minuman kopi digunakan sebagai obat. Abu Bakar Muhammad ibnu Zakariya Al Razi (852 – 932 M) dalam kitabnya Al Hawi menuliskan sifat dan efek tanaman seperti kopi yang dinamakan “Bunn” dan minumannya disebut “Bunchum” dapat mengobati penyakit perut. Kemudian, Abu Ali Husain Ibnu Abdullah Ibnu Sina (980 – 1037 M) menuliskan dalam kitabnya Al Qanun fii at Thibb pada bagian kelima dan terakhir dari bukunya tentang meracik dan menyiapkan obat-obatan dan mendaftar lebih dari 760 obat, termasuk di dalamnya Bunchum.
Terjemahan salah satu tulisan bangsa arab yang diterjemahkan di Oxford oleh Henry Hall tahun 1659 diyakini sebagai awal kata yang mengungkapkan kopi. Diawali dengan:
“…Bun, adalah tanaman yang tumbuh di Yaman, berbunga putih berbuah beri, dikupas seperti kacang berbelah menjadi dua. Ini yang dikenal sebagai Kohwah. Ketika dikeringkan dan direbus dapat menyembuhkan banyak penyakit…”
Istilah kopi diadopsi dari ‘Qahwah’ (Kuat) bahasa Arab klasik dan bukan menunjukkan tanaman melainkan salah satu minuman anggur “wine” dalam Bahasa Arab. Pada abad ke-14, istilah qahwah berubah maknanya menjadi minuman yang terbuat dari biji kopi.
Setelah dijadikan salah satu obat, kopi berkembang menjadi minuman para sufi. Tujuannya untuk menghilangkan kantuk dan memberikan kekuatan pada saat berdzikir di malam hari.
Manuskrip yang paling otentik dan masih terpelihara tentang asal kopi, penggunaan, dan penyebaran minuman kopi pertama adalah kitab Umdat Al Shofwa fi hil Al Qahwa yang ditulis oleh Abdul Qadir Ibnu Muhammad al Anshari al Jaziri al Hanbali pada tahun 1587 M.
Dalam kitab Umdat, ditulis bahwa minuman asal Yaman ini pertama kali dikonsumsi secara massal di Mesir pada abad ke-16 sebagai minuman malam kaum sufi. Kopi pertama kali dibawa oleh Jamal al Din Ibnu Abdullah Muhammad Ibnu Said al Dabhani (w. 1470 M) Mufti Aden Yaman pada abad ke-15. Kedua, Ali Ibnu Umar al Syadzili (w. 1418 M) pengikut tarikat sufi Syadziliyah pelindung dan pendiri Mocha Yaman mempopulerkan kopi dari Ousab ke Mocha Yaman. Ketiga, Abu Bakar Ibnu Abdullah al Aydrus (w. 1508 M) pengelana dan pengikut tarikat sufi Syadziliyah.
Penikmat kopi pada abad ke-16 datang dari kalangan ahli hukum, mahasiswa, seniman, pengelana, dan yang bekerja di malam hari untuk menghindari terik matahari di siang hari. Untuk memperkuat stamina, biasanya mereka mengkonsumsi daun Qat yang terlebih dahulu populer sebelum kopi.
Kopi diperkenalkan ke kota Makkah pada tahun 1414 M. Namun, pada awalnya buah kopi dikonsumsi sebagai kudapan. Budaya minum kopi mulai terbentuk ketika banyak masyarakat mulai meminum kopi di dalam masjid, terutama untuk acara-acara zikir dan Maulid Nabi. Tidak lama, minuman ini pun lekat dengan urusan duniawi ketika kedai-kedai kopi pertama kali dibuka. Di tempat ini urusan bisnis dan sosial menjadi kegiatan sehari-hari setiap lapisan masyarakat. Sambal menikmati kopi, pengunjung dapat bermain catur, dan manqala (backgammon), kadang-kadang dengan taruhan uang, selain bernyanyi, bermain musik, dan menari.
Di Kairo, Madinah, Damaskus, dan Konstatinopel juga mulai mengenal kedai-kedai kopi. Salah satu faktor yang mempercepat perkembangan minum kopi di wilayah ini adalah interaksi sufi mahasiswa Al Azhar Kairo asal Yaman dengan rekan-rekan mereka asal Makkah dan Madinah dalam kegiatan zikir. Selain itu, Makkah dan Madinah pun menjadi mediator persebaran budaya kopi ke Syiria, Persia, dan Turki.
Melalui para penziarah, pedagang, pelajar, dan pelancong, kopi menyebar ke seluruh dunia Islam. Al Azhar menjadi pusat awal minum kopi dan sejumlah upacara mulai dilaksanakan. Seorang penulis abad ke-16 menggambarkan pertemuan sufi di Kairo:
“Mereka minum kopi setiap Senin dan Jumat malam, menaruhnya di kapal besar yang terbuat dari tanah liat merah. Pemimpin mereka menyendoknya dengan gayung kecil dan memberikannya kepada mereka untuk diminum, meneruskannya ke kanan, sementara mereka membacakan salah satu formula biasa mereka, kebanyakan “La illaha il’Allah …”.
Ritual ibadah sufi Yaman awal lainnya melibatkan minum kopi. Pelaksanaan ritual disertai dengan pembacaan ratib, doa 116 kali dari nama Ilahi Ya Qawi.
Bersambung…

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB