Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu shaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa

(QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Tujuan shaum untuk meraih taqwa, umumnya kaum muslimin sudah mengetahuinya. Tetapi kalau taqwa itu tudak berhasil diwujudkan melalui shaum maka sebetulnya shaum sia-sia, jarang yang sampai menyadari. Entah karena terlalu sering ayat di atas dibacakan dan dijelaskan oleh para muballigh, atau hati yang sudah terlalu keras, sehingga nilai-nilai mulia yang dikandung ayat-ayat di atas nyaris selalu diabaikan. Setiap tahun shaum dilaksanakan umat Islam, tetapi setiap tahun juga budaya disiplin dalam ibadah tidak kunjung terwujud. Setiap tahun shaum tidak pernah terlewatkan dari agenda ibadahnya, tetapi setiap tahun juga ghibah, hasud dan konfrontasi dengan sesame muslim tidak pernah terlewatkan. Setiap tahun shaum ramadhan Rutin dilaksanakan, tetapi setiap tahun juga korupsi dibudayakan di setiap lini kehidupan masyarakat; mulai tingkat RT sampai pemerintah pusat, mulai dari yayasan Islam sampai partai-partai Islam. Jika itu yang selalu terjadi maka berarti shaum Ramadhan yang diamalkan setiap tahun sebetulnya belum terhitung amal ibadah, sebab shaum Ramadhan disyari’atkan untuk meningkatkan ketaqwaan. Jika disetiap tahunnya itu tidak pernah terwujud, apalah arti shaum Ramadhan tersebut.

Pada ayat 184 surat al-Baqarah, Allah swt menegaskan bahwa nilai kebaikan dalam shaum Ramadhan bisa diperoleh jika kita mempunyai ilmunya: “Dan shaum lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Maksud ayat awal tersebut, shaum itu pilihan terbauk dibanding Fidyah. Untuk konteks sekatang, ketika shaum bukan lagi pilihan di samping fidyah sbagaimana awal mula disyari’atkan, maka “shaum tetap yang terbaik” itupun “ jika kamu mengetahui”.

Logika manusia yang tanpa ilmu pasti menilai lebih baik makan jika lapar datang daripada terus menahannya. Demikian halnya ketika haus dan ketika ingin “bertemu” istri. Logika manusia yang tanpa ilmu pasti juga menyatakan bahwa lebih baik makan di waktu pagi sesudah tidur cukup dan ketika mulai lapar, bukan diwaktu dini hari ketika waktunya tidur. Logika yang seperti ini juga pasti menilai lebih baik istirahat di rumah di waktu malam daripada berdiri lama-lama sampai satu jam berdesak-desakan di masjid (tarawih). Logika orang seperti ini pasti menilai aneh terhadap orang yang membaca kitab yang “susah dimengerti” kepalanya daripada menonton TV yang mudah dicerna kepala dan menimbulkan senyum tawa. Semua itu jika tanpa ilmu, tidak mungkin akan mampu dilakukan secara sempurna satu bulan di bulan Ramadhan. Jika tanpa ilmu pasti saja ada malasnya da nada bolosnya. Maka dari itu, agar ibadah Ramadhan berjalan sempurna seperti yang dicontohkan nabi saw kita harus berbekal ilmu dari sekarang dan senantiasa bersemangat men-thalab-nya. Karena ibadah shaum bisa kita amalkan dengan sempurna ketika kita “tahu” bahwa shaum memang lebih baik bagi kita, denan pengetahuan yang sempurna.

 

 

 

Buku Sukses Ibadah Ramadlan (Panduan Bagi Yang Tidak Mau Gagal Ibadah Ramadlan), Nashruddin Syarief, Tsaqifa Publishing Mencerdaskan Umat.

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB