Login

Register

Login

Register

KH Rahmat Najieb

 

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS Albaqarah [2] : 184-185)

Allah ‘Azza wa Jalla menetapkan ketentuan shiyam Ramadlan kepada lima golongan;

  1. Setiap mu’min yang sehat, mampu melaksanakannya, dan hadir di tempat tinggalnya (tidak sedang safar) baginya wajib shiyam. Meninggalkannya walaupun sehari adalah dosa besar dan tidak dapat diganti walaupun melakukan shiyam seumur hidup.

2. Bagi yang sakit diizinkan untuk ifthar, setelah sembuh ia wajib untuk mengqadlanya di luar Ramadlan.

3. Bagi musafir diizinkan untuk ifthar, setelah kembali dan berada di tempat tinggalnya, ia harus mengqadla shiyam yang ditinggalkannya pada bulan yang lain. Firman Allah

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ

Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain… (QS Albaqarah [2] : 184)

Sakit apa dan safar bagaimana yang membolehkan ifthar? Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat;

a. setiap sakit dan setiap safar yang diharuskan padanya qashar shalat, boleh ifthar. Melihat keumuman lafazh, karena di sana tidak dicantumkan syarat sakit dan safar.

b. sakit yang mengakibatkan penyakitnya bertambah parah bila melaksanakan shiyam. Selain itu tidak dibenarkan ifthar, malahan ada beberapa macam penyakit yang dapat disembuhkan dengan melaksanakan shiyam. Dan safar yang dibolehkan ifthar ialah yang melelahkan sehingga memerlukan makan dan minum.

c. Hukum ifthar bagi yang sakit dan musafir itu tergantung alasannya. Bagi orang yang sakit dan harus minum obat pada waktu siang hari, baginya ifthar itu suatu keharusan, demikian juga orang yang safar, bila ia tidak kuat meneruskan perjalanan karena lapar dan dahaga, maka lebih baik ifthar atau mungkin ifthar itu menjadi wajib. Sebab setiap orang wajib mempertahankan hidup, haram hukumnya berbuat sesuatu yang menyebabkan ia madlarat atau mati.

Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Assyafi’I berpendapat bahwa shiyam itu lebih utama bagi yang kuat dan tidak memadlaratkan. Sedangkan Imam Ahmad dan Imam Al-auza’iy menyatakan bahwa berbuka atau ifthar itu lebih utama, karena melaksanakan rukhshoh dari Allah. Karena itu kita dapat mengukur kemampuan diri, masih kuatkah melaksanakan shiyam tanpa madlarat? Kapan harus ifthar? Sebab pada ayat selanjutnya Allah berfirman,

يُرِيْدُ الّٰلُ بكُمُ اْليُسْرَ وََلا يُرِيْدُ بكُمُ اْلعُسْرَۖ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan Allah tidak menghendaki kesusahan.

Selama sakit dan safar itu tidak payah dan tidak menimbulkan kesusahan, maka tidak boleh ia ifthar. Para shahabat pernah melakukan safar bersama Rasulullah Saw pada bulan Ramadlan. Di antara mereka ada yang shiyam ada yang ifthar, satu sama lain tidak saling menyalahkan dan tidak saling merendahkan. Imam Ahmad dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abi Said, “Kami melakukan perjalanan menuju Makkah pada bulan Ramadlan, kami semua shiyam. Kemudian singgah di suatu tempat untuk istirahat, Sabda Rasulullah Saw, ‘Sesungguhnya kamu telah dekat kepada musuhmu, maka ifthar itu lebih baik bagimu.’ Shiyam saat itu menjadi rukhsah (keringanan), sebab itu di antara kami ada yang shiyam ada yang ifthar. Kemudian kami meneruskan perjalanan, lalu singgah lagi. Beliau bersabda, ‘Besok pagi kalian menghadapi musuh, maka ifthar lebih kuat bagimu.’ Kami semua ifthar, saat itu ifthar merupakan keharusan.”

Aisyah meriwayatkan bahwa Hamzah Alaslamiy bertanya kepada Rasulullah Saw, “Apakah aku harus shiyam saat bersafar?”Aisyah menerangkan, ia adalah orang yang sering melakukan shiyam. Jawab Rasulullah Saw, “Terserah kamu, mau shiyam atau tidak!” Pada riwayat Imam Muslim beliau menjawab, “Ifthar adalah rukhshah dari Allah, siapa yang mau mengambilnya, itu baik. Siapa yang mau shiyam maka tidak berdosa.”

4. Bagi muthiq diizinkan untuk ifthar dan menggantinya dengan fidyah. Firman Allah

وَعَلَى الذَِّيْنَ يطِيْقُوْنَهٗ فِدَْيةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ

Dan bagi orang-orang yang mampu melakukan shiyam tetapi payah, mereka wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin…”

Yuthḭqūnahu (muthiq) artinya orang-orang yang mampu melakukan sesuatu tetapi dibarengi dengan payah dan kelelahan yang sangat. Selanjutnya disebut muthiq.

Fidyah artinya tebusan dengan membayarkan harta atau yang lainnya karena tidak melakukan kewajiban, atau kurang sempurna. Fidyah shiyam adalah memberi makanan kepada seorang miskin seukuran yang biasa dimakan oleh orang yang wajib mengeluarkannya.

Imam Mushthafa Almaraghi menafsirkan: “Mereka adalah orang tua renta yang lemah, orang yang mempunyai penyakit kronis yang tidak ada harapan sembuh, para pekerja yang ditakdirkan Allah mengandalkan tenaga secara terus menerus dan tidak punya pilihan lain, seperti pekerja yang mencari batu bara, penambangan logam dan minyak bumi. Para Narapidana yang dihukum dengan bekerja keras, orang yang hamil dan menyusui yang menurut pemeriksaan bahwa mereka dianjurkan berbuka karena dikhawatirkan akan mengganggu keselamatan bayinya. Setiap kali mereka meninggalkan shiyam, mereka wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan kepada seorang miskin dengan makanan yang biasa mereka berikan kepada keluarganya. Tetapi bila lebih dari ketentuan, maka hal itu akan lebih baik selama tidak berlebihan dan tidak menimbulkan kemadlaratan. Firman Allah

فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لهَّٗ

Maka siapa yang menambah kebaikan, maka kebaikan itu lebih baik baginya…

Dalil ini berlaku untuk semua ibadah maliyah (dengan harta) seperti zakat, infaq, dan shadaqah, tetapi tidak berlaku untuk ibadah badaniyah seperti menambah rakaat dalam shalat dan ifthar shiyam melebihi waktu maghrib padahal ia mempunyai makanan dan kesempatan untuk berbuka. Bentuk tathawwu’ di sini maksudnya, memberi makan lebih dari seorang miskin setiap hari ia berbuka, atau mengistimewakan makanan yang diberikan. Demikian juga dalam mengeluarkan zakat dan infaq. Misalnya Zakatul Fitri seseorang melebihi dari kewajiban satu sha’ makanan.

Ayat ini pun memberi isyarat bahwa bershadaqah di bulan Ramadlan pahalanya akan berlipat ganda, terutama memberi kepada orang-orang yang shiyamnya baik. Sebab ia akan mendapat pahala sama dengan orang yang diberinya.

Orang-orang yang sakit, para musafir, dan orang-orang yang muthiq jika mampu melakukan shiyam, maka shiyam itu lebih baik bagi kamu, sebab shiyam mempunyai pengaruh positif terhadap seluruh aspek kehidupan manusia. Shiyam dapat melatih jiwa, kedisiplinan waktu, sabar, rasa malu, menahan amarah, berhemat, meningkatkan kualitas ibadah, dan murāqabah, yaitu merasa diperhatikan oleh Allah, yang semua itu akan melahirkan ketaqwaan. Firman Allah,

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Shiyam kamu itu lebih baik buatmu jika kamu mengetahui.

5. Bagi perempuan yang haidl dan nifas haram baginya shiyam, ia wajib mengqadlanya di luar Ramadlan saat ia memenuhi syarat untuk melaksanakannya. Sabda Rasulullah Saw saat menegur,

Bukanlah perempuan itu apabila haidl tidak wajib shalat dan tidak wajib shiyam?. (HR Albukhari)

Sahabat Mu’adzah berkata,

سَأَْلتُ عَاِئشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فَقُلْتُ: مَا بَالُ الْحاَِئضِتَقْضِي الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِي الصَّلاةََ قَاَلتْ: كَانَ يُصِيْبُنَا ذَِلكَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَنُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّوُمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بقَضَاءِ الصَّلاةَِ. –رواه الجماعة-

Aku bertanya kepada ’Aisyah ra, “Apa sebabnya yang haidl itu mengqadla shaum tapi tidak mengqadla shalat? ‘Aisyah menjawab: kami pernah mengalami hal itu ketika beserta Rasulullah Saw, maka kami diperintah supaya mengqadla shaum dan tidak diperintah untuk mengqadla shalat”. (HR Aljama’ah)

Nifas sama dengan haidl, bagi perempuan yang melahirkan dengan jalan operasi cecar misalnya dan darah haidlnya dapat disedot sehingga habis, ia wajib shalat.

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB