Hj. Gyan Puspa Lestari, Lc., M.Pd

 

Setiap memasuki bulan Dzulhijjah, kita selalu diingatkan akan potret ideal keluarga Ibrahim a.s. Keluarga Ibrahim a.s. menjadi teladan dalam ketaatan dan kesungguhan menjalankan perintah Allah Swt. Ibrahim sendiri merupakan salah seorang nabi yang termasuk ulul azmi, sebuah gelar khusus bagi golongan rasul pilihan yang mempunyai ketabahan luar biasa.

Ibnu Abbas r.a. pernah berkata, “Tidak ada nabi yang mendapatkan ujian dalam agama kemudian menegakkannya dengan sempurna melebihi Ibrahim a.s.”. Dalam riwayat lain, Ibnu Abbas mengatakan, “Bahwa yang dimaksud dengan kalimat atau tugas yang dilaksanakan dengan sempurna adalah; meninggalkan kaumnya ketika mereka menyembah berhala, menentang ke­yakinan Raja Namrud, bersabar ketika dilemparkan ke dalam api yang sangat panas, hijrah meninggalkan tanah airnya, menjamu tamunya dengan baik, dan bersabar ketika diperintah menyembelih putranya.”

Dalam kisahnya, kita mengenal dua nama istri Nabi Ibrahim, yakni Siti Sarah dan Siti Hajar. Kedua istrinya ini memiliki andil yang sangat besar dalam proses keberhasilan per­juangan dan pengorban­an Nabi Ibrahim a.s.

Diceritakan bahwa setelah Allah menolongnya dari kejahatan kaumnya dan ia merasa putus asa dari keimanan kaumnya, padahal mereka telah menyaksikan mukjizat-mukjizat yang besar, ia diperintahkan untuk berhijrah ke negeri Palestina (Syam). Ketika itu, di Syam terjadi kemarau panjang. Karenanya, Nabi Ibrahim dan keluarganya pindah ke Mesir dan mene­tap di sana untuk sementara waktu.

Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa raja me­merintahkan untuk membawa Sarah ke istana­nya saat mendengar kabar mengenai kecantikan Sarah. Saat utusan raja tiba dan ber­tanya mengenai Sarah, Ibrahim menjawab bahwa dia adalah saudarinya (yang ia maksudkan adalah saudara seagama).  Ibrahim juga ber­pesan kepada Sarah agar mengaku sebagai saudarinya dengan tujuan agar raja ter­sebut tidak membunuh Ibrahim. Ibrahim pun ber­do’a agar raja tidak mampu menyentuh Sarah.

Setelah Sarah dibawa ke istana, raja berusaha menyen­tuh Sarah, tetapi tangan­nya menjadi kaku seketika. Raja memohon agar Sarah berdoa pada Allah untuk menyembuhkannya dan Sarah melakukannya. Setelah tangannya pulih, raja kembali mengulangi per­buatannya, tetapi dia meng­alami kekakuan yang lebih berat dari sebelumnya. Raja kembali meminta Sarah men­doakannya dan berjanji tidak akan mengganggunya lagi.

Raja Mesir akhirnya sadar, Sarah bukan perempuan biasa dan ia tidak akan mungkin memenuhi hajat­nya. Setelahnya, raja memerintahkan agar Sarah dipulangkan kepada Ibrahim dan dia dihadiahi Hajar untuk menjadi pe­layan­nya karena raja menghormatinya.

Nabi Ibrahim a.s. pun pulang bersama istrinya Sarah dari negeri Mesir menuju Syam. Sarah mem­bawa serta Hajar (yang meru­pakan hadiah dari raja Mesir tersebut).

Di usia Nabi Ibrahim a.s. yang sudah renta, Allah Swt. belum juga menganugerahi keturunan baginya. Semen­tara Siti Sarah, yang juga sudah tua, tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Siti Sarah tahu betul keinginan suaminya untuk memperoleh ketu­runan. Maka, ia pun mem­berikan Siti Hajar kepada Nabi Ibrahim (untuk di­nikahi). Tidak lama kemu­dian Siti Hajar pun hamil dan melahirkan putra Nabi Ibrahim a.s, yaitu Ismail.

Kemudian, Allah Swt. memerintahkan Nabi Ibrahim a.s. untuk keluar bersama Siti Hajar dan putranya ke Mekah, kemu­dian meninggalkannya di sana. Tujuannya, agar lembah yang diberkahi ini menjadi makmur dengan keberadaan mereka berdua. Nabi Ibrahim a.s. pun ber­gegas menunaikan perintah Allah ini.

Diriwayatkan oleh Bukhari, dari Abdullah bin Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: “Wanita pertama yang memakai sabuk kain adalah Ibu Ismail. Dia memakainya dan menyembunyikan jejaknya dari Sarah. Sampai kemudian Ibrahim membawanya (ke Mekah) dalam keadaan sedang menyusui Ismail. Ibrahim meninggalkannya di sebuah lembah yang tidak ada tumbuhan dekat baitullah yang mulia. Saat itu Mekah tidak berpenghuni dan tidak ada sumber air. Ibrahim meninggalkannya di sana. Dia juga meninggalkan bekal berupa satu kantung berisi kurma dan air. Setelah itu Ibrahim pergi”.

Ibu Ismail mengikutinya dan bertanya, “Hai Ibrahim, ke mana engkau hendak pergi? Engkau tega meninggalkan kami di lembah yang tidak ada apapun di sini?” Dia terus menanyakan hal itu. Tetapi, Ibrahim sama sekali tidak menengok ke belakang. Sampai kemudian dia ber­tanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu?” Ibrahim menjawab, “Ya.” Ibu Ismail berkata, “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Setelah itu dia kembali. Nabi Ibrahim a.s. pun pergi. Ketika sampai di Tsaniyyah (di tempat mereka tidak bisa melihatnya), beliau menghadap Ka’bah, mengangkat kedua tangannya dan berdo’a:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Tuhan kami, sesungguh­nya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mem­punyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezeki­lah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”  (QS Ibrahim [14] : 37)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa do’a Nabi Ibrahim a.s. ini adalah yang kedua setelah do’a pertama yang diucapkannya ketika me­ninggalkan Hajar dan anaknya sebelum membangun Baitullah. Sedangkan do’a yang kedua ini diucapkan setelah Baitullah itu dibangun sebagai penegasan dan permohonan kepada Allah. Oleh karena itu, ia berkata: “عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ ” Di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. (dalam kitab “Tafsirul Qur’anil ‘Adzim, Jilid VIII, 2000 : 227)

Dalam ayat di atas, Nabi Ibrahim memakai kata “رَبَّنَا” Ya Tuhan kami, padahal saat itu Nabi Ibrahim berdoa sendiri (sehingga seharusnya menggunakan kata Rabbi). Hal ini menunjukkan bahwa Ibrahim melibatkan Hajar dan Ismail dalam doanya.

Lalu, ibu Ismail menyusui Ismail dan minum dari bekal yang ditinggalkan untuk­nya. Sampai ketika bekal itu habis, dia dan anaknya merasa haus. Dia melihat mulut anaknya sampai me­nganga kehausan. Dia pun pergi (mencari air) karena tidak tahan melihatnya.

Kemudian, dia menghadap lembah untuk melihat apa­kah ada orang di sana. Tetapi, dia tidak melihat seorang pun. Dia turun dari Bukit Shafa hingga sampai di dasar lembah. Di sana, dia mengangkat ujung kainnya kemudian berlari-lari kecil hingga menyeberangi lembah dan sampai di Bukit Marwah. Dia berdiri di puncak bukit dan melihat apakah ada orang di sana. Tetapi, dia tidak melihat seorang pun. Dia melakukan itu sebanyak tujuh kali.

Ibnu Abbas mengatakan: Nabi saw. bersabda, “Oleh karena itulah para jamaah haji melakukan Sa’i”.

Di puncak Marwah, dia mendengar suara. Dia ucap­kan kepada dirinya sendiri, “Diamlah!” Tetapi tidak lama berselang, dia kembali mendengar suara itu. Dia katakan, “Engkau telah mem­per­dengarkan suaramu apabila engkau mau me­nolong!” ternyata yang mengeluarkan suara adalah Malaikat yang sedang berdiri di atas sumur Zamzam. Dia mengais-ngais tanah dengan sayapnya sampai muncullah sumber air. Ibu Ismail menciduk air tersebut ke dalam kantung bekalnya. Justru setelah diciduk, air itu semakin mengalir deras.

Ibnu Abbas mengatakan: Nabi saw. bersabda, “Semoga Allah memberikan rahmat kepada Ibu Ismail. Seandainya waktu itu dia tidak menciduk air Zamzam, niscaya air tersebut hanya berbentuk sumber air kecil”.

Dia pun minum dan me­nyusui anaknya. Malaikat tersebut berkata, “Jangan takut akan disia-siakan. Di sini akan ada Rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan bapaknya. Allah sekali-kali tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya”.

Berdasarkan kisah di atas, ada beberapa pelaja­ran dan hikmah yang dapat kita petik dari Siti Hajar. Di antaranya, ia merupakan contoh yang menakjubkan bagi wanita mukmin yang yakin akan janji Allah dan rida akan ketetapan-Nya. Dia juga merupakan teladan yang baik bagi istri yang taat terhadap suaminya dan membantunya dalam menjalankan ketaatan ke­­pada Allah. Dia adalah salah satu wanita yang sangat sabar dalam meng­hadapi ujian dari Allah Swt. Kesabarannya yang begitu tinggi terbukti ketika Nabi Ibrahim a.s. meninggalkannya di tengah gurun pasir bersama sang anak. Dengan penuh kesabaran ia melaksanakan perintah Allah yang diberi­kan kepadanya lewat sang suami. Hal itu terbukti ketika kepergiannya ber­sama suaminya, Ibrahim a.s. dan anaknya Ismail a.s. ke negeri yang mulia dan kembalinya Ibrahim a.s. ke Syam lalu meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di Mekkah yang ketika itu tidak berpenghuni dan tidak ada sumber air.

Maka, Siti Hajar menga­takan kepadanya kalimat yang baik, yang penuh keberkahan: “Wahai Ibrahim, hendak ke mana engkau pergi me­ninggalkan kami, apakah Allah yang me­merintahkanmu?” Ibrahim menjawab, “Ya”. Siti Hajar berkata, “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami”. Dan dalam riwayat lain, Siti Hajar mengatakan, “Cukuplah bagiku (Allah sebagai penolongku)” dan dalam riwayat lain, “Aku rida kepada Allah”. Maka, lihatlah apa yang terjadi? Allah memberikan jalan keluar baginya dan memberinya serta anaknya rezeki. Malaikat Jibril me­manggilnya, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Saya Hajar ibu dari anak Ibrahim?”, Malaikat Jibril berkata, “Kepada siapa kalian berdua bertawakkal?” Hajar menjawab, “Kepada Allah”. Malaikat Jibril mengatakan, “Kalian telah bertawakal kepada Allah yang maha memberi kecukupan”. (Ibnu Hajar Al-‘Asqalaany dalam kitab Fathul Baari, Jilid 6, 1997: 494-495)

Selain itu, Siti Hajar juga merupakan tauladan yang baik sebagai ibu yang lemah lembut dan penyayang. Hal ini tampak nyata manakala Ibrahim a.s. meninggalkannya sedangkan bersamanya ada Ismail, anaknya yang masih menyusui. Ibrahim meninggalkan keduanya di tempat yang tidak ber­penghuni dan tidak ada sumber air. Sedangkan ke­duanya kehabisan air dan ia merasakan haus yang sangat, begitu juga anaknya. Hingga Ismail meronta-ronta karena ke­hausan, kemudian Hajar pergi meninggalkan Ismail dan tidak kuat me­lihat keadaannya. Maka, ia ber­gerak antara Shafa dan Marwah untuk mencari air. Dia melakukan itu se­banyak tujuh kali. Hingga muncullah sumber air lalu ia pun menciduk airnya. Kemudian, ia pun minum dan menyusui anaknya.

Siti Hajar telah berhasil mentransformasikan ke­salehan, kesabaran, kepas­rahan, dan ketakwaannya kepada anak yang amat di­cintainya. Ismail tumbuh menjadi anak yang pe­nyabar. Dalam usianya yang masih sangat muda, ia mempunyai keimanan yang luar biasa. Kisah pe­ngorbanan diri untuk disembelih oleh ayahnya, Ibrahim, menjadi tonggak sejarah dalam perayaan Idul Adha dan ibadah haji dalam Islam. Siti Hajar dikaruniai seorang anak yang saleh berkat ketegaran dan keta­bahannya dalam men­jalani ujian dari Allah Swt.

Wallaahu ‘Alam bish Shawaab

Bersihkan Harta Dengan Zakat

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB