Kh. Siddiq Amien

 

Bismillahirrahmanirrahiem

Dalam beberapa ayat dan hadits, Allah Swt. dan Rasulullah Saw. menggunakan kata “shadaqah” dalam pengertian zakat, misalnya:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS at-Taubah, 9: 103)

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS at-Taubah, 9: 60)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

Dari Ibnu Abbas r.a., bahwa Nabi saw. mengutus Muadz ke Yaman dan bersabda: “Ajakklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan aku utusan-Nya. Jika mereka menaatinya, ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat yang lima sehari semalam. Jika mereka menaatinya, maka ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka zakat dari harta mereka, yang diambil dari orang kaya di antara mereka, dan diserahkan kepada yang fakir di antara mereka”. (HR Ahmad, Bukhari, dan Muslim)

Ini bisa dipahami bahwa pada dasarnya zakat juga termasuk sedekah, yaitu sedekah yang hukumnya wajib. Kata “shadaqah” berasald ari kata “shadaqa” atau “ash-shidqu” yang artinya jujur atau benar. Seseorang yang menunaikan zakat, infak, dan sedekah berarti ia telah menunjukkan atau membuktikan kejujuran atau kebenaran imannya. Iman adanya dalam hati, seperti diisyaratkan Allah dalam firman-Nya:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS al-Hujarat, 49: 14)

Untuk membuktikan ada tidaknya iman, atau kuat lemahnya iman seseorang, bisa dilihat dari amalnya. Terkait dengan sedekah, Nabi saw. bersabda:

اَلصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ

“Shadaqah itu adalah pennjelas atau bukti” (HR Muslim)

Allah Swt. memasukkan orang yang tidak menunaikan kewajiban zakat sebagai orang yang musyrik. Sementara Nabi saw. memasukkan orang yang meninggalkan shalat dalam kategori orang kafir. Hal tersebut karena keduanya tidak membuktikan imannya dalam wujud alam-amal tersebut. Allah Swt. berfirman:

وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ لَا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

“Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS Fusshilat, 41: 6-7)

Nabi saw. bersabda:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

“Antara seseorang dengan syirik dan kafir, meninggalkan shalat” (HR Muslim)

Potensi zakat, infak, dan sedekah umat bisa dipastikan sangat besar jika bisa digali dan dikelola dengan baik dan benar. Potensi tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengatasi dan memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh Islam dan muslimin. Terutama, problematika kemiskinan yang masih menyelimuti bagian besar dari negeri ini. Kita menyaksikan, bahkan merasakan bahwa emiskinan membawa akibat rendahnya taraf pendidikan umat. Kondisi seperti ini akan membawa dampak lanjutan,, seperti rendahnya apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai agama. Hal tersebut dikarenakan waktu, tenaga, dan perhatian mereka habis terkuras untuk memenuhi hajat hidup. Kondisi ini juga bisa menumbuhkan kerawanan-kerawanan sosial dengan merajalelanya penyakit masyarakat (pekat), seperti prostitisi, perjudian, narkoba, dan sebagainya. Selain tentu saja, menjadi rawan akan gerakan pemurtadan.

Di kalangan kaum muslimin, tingkat kesadaran untuk menunaikan zakat, infak, sedekah, dan juga wakaf masih relatif rendah. Hal ini terjadi bisa disebabkan oleh beberapa kemungkinan, antara lain:

Pertama, kecintaan manusia akan harta benda yang sangat kuat sering membuat orang menjadi bakhil (kikir) dan lupa. Lupa untuk menunaikan ibadah, termasuk ibadah maaliah (harta) berupa zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Ia lupa bahwa dalam harta itu adalah hak fakir miskin dan ashnaf (pihak yang berhak menerima zakat) lainnya. Padahal, Allah Swt. sudah mengingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS al-Munafikun, 63: 9)

Banyak orang yang melupakan janji kepada diri, atau janji kepada allah. Ketika masih miskin, ia berjanji jika jadi orang kaya akan banyak berbuat kebajikan. Tetapi setelah kekayaan diberikan Allah kepadanya, mereka melupakan janji-janji itu. Allah juga mengingatkan:

وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ

Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (QS at-Taubah, 9: 75-76)

Kalaupun ada memenuhi janji dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah, itupun dipilih mana yang kira-kira dirinya sendiri sudah tidak menyukainya. Tidak jarang kalaupun memberi, hanya sedikit sekali, bahkan kadang-kadang yang jelek pula. Dalam kaitan dengan sikap tersebut, Allah berfirman:

وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ مَا يَكْرَهُونَ

Dan mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka sendiri membencinya.” (QS an-Nahl, 16: 62)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS al-Baqarah, 2: 267)

Banyak orang karena kecintaan yang sangat akan harta benda, mereka lupa bahwa kelak mereka akan dihisab terkait harta tersebut. Dari mana harta itu didapat? Dengan cara halal atau haram?apakah hak orang lain yang ada di dalam harta itu ditunaikan atau tidak? Dan seterusnya. Nabi saw. Mengingatkan:

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Dari Abu Barzah al-Aslamy, ia berkata, sabda Rasulullah saw., “Tidak akan bis amelangkah kaki manusia pada hari kiamat hingga ditanya tentang umurnya dipakai apa sampai habis, tentang pengamalan dari ilmunya, tentang hartanya, dari mana didapatkan dan di mana dihabiskan, dan tentang jasadnyadipakai apa hingga rusak”. (HR Tirmidzi)

Allah bahkan mengultimatum akan menjadikan harta yang dibakhilkan, harta yang tidak ditunaikan apa yang menjadi hak orang lain dalam harta itu, sebagai azab bagi yang bersangkutan.

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.” (QS Ali Imran, 3: 180)

Kedua, kalaupun sudah paham akan hukum dan hikmah zakat, infak, dan sedekah, sebagiannya tidak paham bagaimana cara menghitungnya. Karena mungkin selama ini para da’i atau mubaligh baru menjelaskan secara substantif tentang hukum dan hikmah zakat, infak, serta sedekah san belum sampai ke tahapan cara perhitungan dan operasional lainnya.

Ketiga, tingkat kredibilitas dan akuntabilitas amilin atau para pengelola zakat, infak, dan sedekah, baik yang sifatnya perorangan atau lembaga. Hal tersebut membuat sebagian orang menjadi ragu. Masyarakat sering menuntut transparansi dalam pengelolaan dana umat tersebut.

Pusat Zakat Umat, sebagai lembaga amil zakat, infak, dan sedekah mencoba memberi jawaban atas berbagai problema dan tantangan di atas, antara lain dengan menerbitkan “Petunjuk Zakat Praktis” ini. Mudah-mudahan bermanfaat adanya.

Allahu Ya’khudzu biaydiinaa  ilaa maa fiihi khairun lil Islaami walmuslimin.

Bandung, 6 Rajab 1427 H / 1 Agustus 2006 M

 

KH Shiddiq Amien

Panduan Zakat Praktis, Pusat Zakat Umat, 2006. Ahmad Faisal

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB