Kh. Aceng Zakaria

 

  1. Apa yang dimaksud dengan I’tikaf dan apa hikmahnya?

 

Para ulama mendefinisikan I’tikaf yaitu:

 

“I’tikaf adalah menahan diri untuk tinggal di masjid dengan niat karena Allah.”

 

“Dan menurut syara’ adalah tinggal di masjid dari orang tertentu dengan cara-cara tertentu untuk taat kepada Allah.”

 

Sedangkan faidah i’tikaf adalah:

 

“Memutuskan hubungan dengan dunia dan segala permasalahannya, menyepi terhadap Rabbnya, menikmati munajat dengan-Nya dan memfokuskan diri, hati dan pikiran untuk mengabdikan diri kepada-Nya.” (Taudhih al-Ahkam, 3: 575)

 

Untuk itulah i’tikaf disyariatkan dan dicontohkan oleh Nabi SAW.

 

  1. Kapan dan dimana i’tikaf itu dilakukan?

 

I’tikaf itu disyari’atkan pada 10 akhir Ramadhan dan dilakukan di masjid yang biasa dilaksanakan shalat berjama’ah padanya.

 

Dari ‘Aisyah ra, “Sesungguhnya Nabi SAW berI’tikaf pada 10 akhir Ramadhan, hingga Allah mewafatkannya, kemudian istri-istrinya i’tikaf setelah Nabi (meninggal).” (H.R. Bukhâri Muslim)

 

  1. Kapan memulai masuk masjid untuk beri’tikaf dan kapan berakhir ?

 

Dalam hadits di bawah ini ditegaskan:

 

Dari ‘Aisyah r.a, ia berkata: “Nabi SAW apabila bermaksud untuk i’tikaf, beliau shalat shubuh kemudian memasuki tempat i’tikafnya.” (H.R. Bukhâri Muslim)

 

Dan I’tikaf berakhir pada saat terbenam terbenam matahari malam hari raya idul fitri.

 

  1. Apa saja ketentuan-ketentuan bagi yang ber’tikaf ?

 

Dalam hadits di bawah ini ditegaskan:

 

Dari ‘Aisyah r.a, sesunggunya ia berkata: “Sunnah bagi yang i’tikaf yaitu tidak menengok yang sakit, tidak menghadiri jenazah, tidak menyentuh istri dan tidak bercampur dengannya, dan tidak keluar kecuali untuk hal-hal yang tidak boleh tidak ia lakukan.” (H.R. Abu Dâwûd)

 

Itulah ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat yang harus dita’ati oleh yang sedang i’tikaf.

 

  1. Bolehkah I’tikaf hanya satu atau dua malam saja ?

 

I’tikaf menurut syar’i adalah 10 hari akhir Ramadhan atau mungkin 9 hari jika Ramadhannya hanya 29 hari. Selama itu harus fokus untuk beribadah, berdo’a atau tadarrus al-Qur’an dan tidak boleh menengok yang sakit atau menghadiri jenazah sebagaimana ketentuan hadits di atas.

 

Dengan demikian berarti tidak termasuk i’tikaf secara syar’i yang hanya satu atau dua hari saja, kecuali untuk sekedar latihan atau percobaan saja.

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB