Dr. Haris Muslim

 

Keimanan dan keislaman adalah komitmen yang harus dipertanggung jawabkan. Dalam implementasinya harus dijalankan dengan konsisten. Berkomitmen sendiri mungkin tidak terlalu sulit, tapi konsisten dengan komitmen tersebut yang tidak mudah.

Karenanya, hal yang paling penting setelah keimanan dan keislaman adalah istiqamah dalam menjalankannya. Seorang sahabat yang bernama Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi pernah mengajukan pertanyaan yang cukup general kepada Nabi SAW, dan dijawab oleh Nabi dengan singkat padat, tapi kalau kita renungi itulah hakekat keimanan kita.

عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِىِّ قَالَ، قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِى فِى الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ قَالَ « قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ ». رواه مسلم 62 – (38)

Dari Abi Amr Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi ial berkata, aku bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang tidak (mungkin) aku tanyakan kepada seseorang selain engkau ?” Rasul menjawab, “Katakanlah olehmu, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamah lah” (H.r. Muslim)

Hadis ini menguatkan makna yang terkandung dalam firman Allah SWT :

{ إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنزلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ نزلا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ } [فصلت: 30 -32] .

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Fusshilat : 30-32)

Istiqamah secara bahasa berarti lurus, ajeg, teguh dan kukuh, tidak mudah goyah. Istiqamah dalam menjalankan keimanan digambarkan oleh Ibnu Rajab al-Hanbali : adalah menempuh “shirathal mustaqim”, ia itu merupakan agama yang lurus, tidak melenceng ke kanan atau ke kiri. Dan hal itu mencakup pelaksanaan semua keta’atan yang nampak dan tersembunyi, juga meninggalkan semua larangan. (Jami al-‘Ulum wa al-Hukm, I : 510)

Bukan hal yang mudah untuk tetap istiqamah di jalan Allah SWT, karenanya yang dibutuhkan oleh kita adalah senantiasa berusaha untuk selalu membenahi, mendekatkan diri pada kebenaran, mendawamkan (kontinu) amal. Sebagaimana pesan Nabi SAW :

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ » رواه البخاري : 6464

Dari Aisyah sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Benarkanlah, dekatkanlah, dan ketahuilah sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga karena amalnya, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah itu adalah yang dawam (kontinyu) meskipun sedikit” (H.r. Bukhari No. 6464)

Banyak orang yang tersadarkan oleh bulan Ramadhan, kembali mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Ini adalah momentum yang sangat baik. tugas selanjutnya adalah istiqamah ; menjaga konsistensi amal di bulan-bulan setelahnya.

Semoga kita diberi kekuatan.

Wassalam,
Akhukum
~ HM ~

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB