oleh: dr. Harry Rayadi,MARS,Av

Tulisan ini  terinspirasi karena banyaknya pertanyaan tentang ; apakah seseorang ketika tertimpa suatu penyakit, kemudian berobat bukan dengan Hijamah atau bekam. Apakah dia telah meninggalkkan sunnah Rasulullah saw ?  .

Keharmonisan akan dirasakan oleh setiap insan yang sedang menikmati kehidupan di Alam Dunia ini  tatkala setiap amal, tindakan, dan perbuatannya memberikan efek manfaat baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Setiap perbuatan akan menghasilkan manfaat yang hakiki apabila sejalan dengan yang menciptakan kehidupan itu sendiri, yakni Allah Azza Wa Jalla.

Pada awal penciptaan manusia, sebagaimana yang diuraikan dalam al Qur`an surah Al Baqarah 30-32; Allah Azza Wa Jalla telah mengisyaratkan bahwa manusia akan bersifat  Yufsiduuna fiel Ardl dan Yasfikuuna dimaa (membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah) ,seperti yang telah diungkapkan oleh para Malaikat pada saat itu.  Dengan tabiat seperti itu maka tentu saja potensi perusak dan pembunuh apabila dibiarkan begitu saja tanpa ada kendali, tentu akan menimbulkan kekacauan di Bumi ini. Tetapi Allah Maha Tahu terhadap penciptaan-Nya dan telah memiliki perencanaan yang sempurna dengan menurunkan ILMU kepada Adam `alaihi salam.

Tetapi ternyata ilmu saja tidak cukup menjadi bekal untuk mengelola Bumi ini, terbukti Adam alaihi salam terpeleset oleh bujuk rayu sang Iblis, disebabkan tidak mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Inilah awal pentas kehidupan yang memperlihatkan pentingnya keterpaduan antara Ilmu dengan ketaataan terhadap perintah dan larangan Allah Azza wa Jalla.

Sehingga Allah menciptakan perangkat kendali manusia dalam mengarungi kehidupannya berupa Dien, yang mengandung undang-undang kehidupan yang sangat sempurna. Ad-Dien tersebut memiliki landasan pokok keilmuan yang kuat dan jelas yakni Al Qur`an dan As Sunnah Nabawiyah. Dan Allah Ta`ala menamai Dien tersebut  Dienul Islam.  Dengan perangkat inilah manusia dapat seluas-luasnya meng-eksplorasi bumi dengan segala kandungannya serta tentu umat manusia sebagai penghuninya, dengan tanpa mengakibatkan kerusakan di dalamnya.

Selama meng-eksplorasi bumi tersebut setiap manusia pasti mengalami sakit  baik ringan maupun yang berat. Adanya akal yang dimilikinya, maka manusia berikhtiar untuk mengobati penyakit yang dideritanya. Sehingga berkembanglah berbagai Ilmu Pengobatan, dari yang sederhana sampai dengan kompleks; dan dari yang lurus sampai dengan yang menyimpang.

DIENUL ISLAM

Al Ustadz Sayid Sabiq berpendapat  :

الإسلام هو دين الله الذي أوحاه إلي محمّد صلوت الله وسلامه عليه, وهو إيمان وعمل

”  Islam adalah Dien Allah yang diwahyukan kepada Muhammad shalawat Allah dan salam selalu tercurah baginya, adalah Iman dan `Amal.

Jalan yang ditempuh Al Islam itu haruslah mengikuti Qudwah Muhammad Rasulullah saw, tanpa cara tersebut adalah bathil dan sesat.

من يطع الرّسول فقد أطاع الله , ومن تولي فما أرسلناك عليهم حفيظاَ

“Barangsiapa mena`ati Rasul itu, maka sesungguhnya ia telah mena`ati Allah; tetapi barangsiapa berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau untuk mengawal mereka ”    ( An- Nisa, ayat 80 )

Iman adalah Aqidah atau landasan pokok yang kepadanya tumbuh syari`at Islam beserta cabang-cabangnya, sedangkan `Amal adalah syari`at  dimana cabang-cabangnya tegak diatas Aqidah. Sehingga dapat dibaratkan sebuah pohon Iman merupakan akarnya, sedangkan Amal merupakan buahnya, dimana semuanya saling terikat dengan kokoh dan harmonis.

Sebagaimana Allah berfirman dalam surah AlBaqarah 25  :

وبشّر الذين أمنوا وعملوا الصّالحات أنّ لهم جنّات تجري من تحتها الأنهار

Oleh sebab itu pohon yang baik adalah yang akarnya kuat dan berbuah lebat; begitu juga seorang yang baik adalah yang memiliki keimanan yang kokoh dan lurus serta beramal shalih yang banyak.

Sedangkan penghubung antara akar dan buah adalah batang, itulah Al Arkan atau pilar-pilar Islam yang terbentuk dari Syahadat; Shalat; Zakat; Shaum, dan Hajji.

Para ulama telah meringkaskan bahwa maksud atau tujuan Agama / syara` itu ada lima perkara  :

  1. memelihara agama mereka
  2. memelihara jiwa mereka
  3. memelihara akal-fikiran mereka
  4. memelihara keturunan mereka
  5. memelihara harta benda mereka

Dan untuk memudahkan dalam mengaplikasikan tujuan syara` dalam kehidupan manusia sehari-sehari , para ulama telah membagi aktivitas menjadi dua bagian besar :  Dinniyyah  dan  Dunyawiyyah  :

قال رسول الله ص م  :  إذا كان شئ من أمر دنياكم فأنتم أعلم به. فإذا كان من أمر دينكم فإليّ

“Rasululah saw pernah bersabda :  “Apabila ada sesuatu dari urusan dunia kamu, maka kamu lebih mengerti akan dia;  apabila ada sesuatu dari urusan agama kamu, maka hendaklah kamu mengikutiku  ”  ( Riwayat Ahmad )

Di dalam perkara Dinniyyah fikiran manusia digunakan untuk menggali hukum-hukum yang terdapat dalam Al Qur`an dan As Sunnah, tidak untuk membuat syari`at baru . `Umar bin Al-Khaththab ra pernah berkata  :

أتّقوا الرّأيَ في دينكم

” Takutlah kamu akan fikiran di dalam urusan agamamu “

 Oleh karena itu terdapat qa`idah ushul fiqih dalam urusan Dinniyah  ini  :

الأصل في العبادة البطلان حتيّ يقوم دليل علي الأمر

” Asal hukum tentang `ibadat itu kebatalan ( tidak boleh dikerjakan), sehingga datang dalil yang memerintahkan “

Berbeda dengan perkara Dinniyyah maka dalam perkara Duniawiyyah/ Mua`malah ; manusia dituntut melakukan inovasi, improvisasi, dan kreativitas yang setinggi-tingginya untuk mencapai maqashid ad Dien atau tujuan syara yang lima itu.

Sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah dalam sebuah Hadisnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

” Barang siapa yang mengadakan dalam Islam suatu cara yang baik, lalu dikerjakan orang sesudahnya, ditulislah baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya, dan tidak kurang dari pahala mereka itu sedikitpun dan barangsiapa yang mengadakan satu cara yang jelek dalam Islam, lalu dikerjakan orang sesudahnya, ditulislah baginya seperti dosa orang yang mengerjakannya, dan tidak kurang dari dosa-dosa mereka itu sedikit pun”

 Sehingga para ulama ahli ushul memberi batasan qa`idah :

الأصل في العقود و المعاملة الصّحّة حتيّ يقوم دليل علي البطلان والتحريم

” Ashal hukum tentang urusan Aqad dan mua`malat itu shah (boleh dikerjakan), sehingga datang dalil yang membatalkannya dan mengharamkan. “

ILMU PENGOBATAN    ( الطب)

Dr. Muhammad bin Muhammad Muhtar bin Ahmad Mazid jakni Asy-Syinkiti mengungkapkan sedikitnya ada tiga definisi  tentang Ilmu Pengobatan ( الطب  ) :

Pertama : adalah ilmu untuk mengetahui segala sesuatu yang menimpa  tubuh manusia baik kebaikan maupun keburukan   ( Ibnu Rusyd Al Hufaid )

 Kedua   : adalah ilmu yang berhubungan dengan pemeliharaan kesehatan tubuh manusia, dan mengembalikan penyimpangan-penyimpangannya( Jalinus )

Ketiga  :  adalah ilmu untuk mengetahui kesehatan badan manusia, beserta pemeliharaannya, dan mengembalikan penyimpangannya. ( Ibnu Sina )

Ibnu Hajar al Asqalani dalam Fathul Barri  menyatakan pada Kitabu Atthib ; bahwa ; Ath-Thib itu terbagi menjad dua bagian , yaitu Thibbu Qulubi dan Thibbu jasadi.  Thibbu Qulub metoda pengobatannya hanya berasal dari Rasulullah saw saja, sedangkan Thibbu jasadi  bisa dari Rasulullah saw maupun dari yang lainnya ( bukan berasal dari Rasulullah saw)

Sedangkan pengertian ilmu secara umum , ditinjau dari segi bahasa ilmu adalah lawan dari kebodohan (جهل ). Adapun secara definisi atau istilah ilmu adalah  :

إدراك الشيء علي ما هو عليه إدركًا جازماٌ

” mengetahui sesuatu yang diketahuinya dengan detail dan pasti”   

Dengan perkataan lain pengobatan yang diberikan haruslah dilandasi ilmu yang baik dan benar, dan mengetahui tentang ilmu pengobatan ( kedokteran ) secara detil dan  skill yang memadai.  Rasulullah saw pernah bersabda dalam sebuah Hadis yang diterima dari   `Amru bin Syu`aib  dari bapaknya, dari kakeknya :

من تطبّب ولم يُعلم منه طِبّ ,فهو ضامن

” Barangsiapa bertindak sebagaiTabib, sedang ia sebelumya belum pernah mengkaji ilmu ath-thibb (kedokteran), maka ia harus mengganti kerugian ”  (Hr. Abu Daud )

Imam Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, bahwa pada masa Rasulullah saw; ada seorang laki-laki mendapat luka dan dalam tubuhnya bercucuran darah, dia memanggil dua orang laki-laki dari Bani Amar , kedua orang itu datang mengobatinya. Maka keduanya berkata, bahwa Rasulullah saw bertanya kepada mereka : ” Siapakah diantara kamu berdua yang lebih ahli dalam ilmu kedokteran? ” . Kedua orang itu menjawab. ” Apakah ada baiknya ilmu kedokteran itu ya Rasulullah ? “, Maka Zaid berkata, bahwa Rasuullah saw bersabda : ” Yang menurunkan obat, Dialah yang menurunkan penyakit “. ( Tanwirul Hawalik, syarah a`la Muwatha` juz III , halm 121, cetakan Abdul Hamid Ahmad Hanafi, di Mesir , 1353 H. Bulan Muharam )

pada Hadis Rasulullah saw yang lain :

” Amar bin Dinar meriwayatkan dari Hilal bin Yasaf bahea Rasulullah saw mengunjungi orang sakit , lalu bersabda : ” ارسلوا إلي طبيبِ  (bawalah ke dokter)”, maka berkatalah seorang dari yang hadir: ” Engkau berkata demikian ya Rasulullah ? ” , Jawab beliau : ” Benar, karena Allah `Azza wa Jalla tidak menurunkan suatu penyakit, melainkan menurunkan pula penyembuhnya”.  (Ibid).

Pada hakikatnya semua ilmu itu berasal dari Allah A`zza wa Jalla , tentu termasuk ilmu ath-thibb (kedokteran); sebagaimana sabda Rasulullah saw, yang diterima dari Abi Sa`id , dan diriwayatkan oleh Imam Ahmad & Ibnu Hiban  :

إنّ الله عزّ وجلّ لم يُنزل داءً إلا أنزل له شفاءً , عَِلمَهُ مَن عَلِمهُ , وجَهِلَهُ مَن جَهِلَهُ

” Allah A`zza wa Jalla tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya,barangsiapa yang mengetahuinya ( obat ), akan tahu,; dan barang siapa tidak memperdulikannya (obat ), dia tidak akan mengetahuinya  “

 Ilmu Pengobatan hanya merupakan ikhtiar manusia untuk mengobati penyakitnya, hal tersebut merupakan wasilah, karena kesembuhan itu mutlak berasal dari Sang Khaliq  :

لكل داءٍ دواءٌ فإذا أُصيبَ دواءُ الداءِ برأ بإذنِ الله عزّوجلّ

” Setiap penyakit itu ada obatnya, apabila obat tersebut sesuai/cocok denganpenyakitnya, maka sembuhlah dengan idzin Allah A`zza wa Jalla ”   ( Hr . Ahmad )

Hadis tersebut mengisyaratkan bahwa , seorang dokter harus berupaya dengan sungguh mengerahkan segala kemampuannya untuk menemukan zat dan cara untuk mengobati penyakit yang diderita oleh manusia.  Rasulullah saw memberikan pedoman pokok , sebagai landasan untuk melakukan pengobatan ;

Imam Abu Daud pernah meriwayatkan sebuah Hadis Rasulullah saw yang diterima dari Abu Darda` :

إنّ الله انزل الدّاءَ والدّواءَ وجعل لكل داءٍِ دواءً فتدوَو ولا تتدووا بحرامٍ

” Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obat, dan daiadakan-Nya bagi tiap-tiap penyakit obatnya, maka berobatlah kamu , tetapi janganlah berobat dengan yang haram “

Dengan jelas dan tegas bahwa pengobatan tidak boleh dengan cara dan zat yang  telah diharamkan Allah A`zza wa Jalla.

Pada Hadis yang lain Rasulullah saw memberikan pedoman bahwa pada dasarnya pengobatan itu ada dua cara meminum obat dan tindakan medis, yang pada Hadis tersebut Rasulullah memberikan contoh minum obat dengan cara minum madu, sedangkan tindakan medis  dengan Hijamah  (cupping ) dan Kayy

الشفا ء في ثلاث :  شربة عسلِ, وشرطةِ محجمِ , وكيةِ نارِ , وأنهي أمتي عن الكيّ

” obat itu ada tiga cara; minum madu ;hijamah dan kayy, dan aku melarang ummatku ber-kayy dengan api ”   (HR. Al Bukhari )

Karena Ilmu Kedokteran itu termasuk perkara  Mua`amallah, maka manusia diberikan kebebasan untuk berimprovisasi, berinovasi, dan berkreasi dalam mengembangkan metoda pengobatan tersebut untuk mencapai Maqashid Dien. Selama metoda tersebut sejalan dan atau tidak melanggar ketentuan ketentuan yang telah disyari`atkan  Aqidah dan Aqidah Islamiyah .

Disamping itu karena kesembuhan itu berasal dari Allah `Azza wa Jalla, maka sudah sepantasnya manusia memohonkan do`a kepada-Nya. Seperti yang telah dicontohkan Rasulullah ketika mengunjungi salah seorang  keluarga beliau yang sedang terkena musibah sakit, maka beliau mengusap sisakit dengan tangan kanannya seraya berdo`a  :

اللهمّ ربّ النّاس أذهب البأسَ إشف انت الشافي لا شفا ءَ الاّ شِفاءك شفاءً لا يغا درُ سقماً

”  Ya, Allah, Tuhan manusia, lenyapkanlah penyakitnya, sembuhkanlah dia, Engkaulah Yang Maha Menyembuhkan, tiada kesembuhan hanyalah kesembuhan Engkau, kesembuhan yang menghabiskan penyakit ”   (Hr. Bukhari dan Muslim )

Wallahua`lam bishawwab

 

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB