Oleh:
Dr. Tiar Anwar Bachtiar, M.Hum
Dalam ajaran Islam, tidak ditemukan satupun dalil yang mengharuskan umatnya hidup miskin dan tidak perlu mencari rezeki dengan alasan apapun. Bila ada anggapan demikian dengan alasan bahwa Rasulullah Saw. dan para sahabatnya tidak meninggalkan apa-apa untuk keluarganya yang berarti selama hidup mereka hidup miskin adalah salah besar. Ada banyak alasan yang membantah kesimpulan tersebut.
Pertama, hadis di atas secara jelas dan sangat gamblang Rasulullah mengisyaratkan bahwa setiap Muslim tidak diperkenankan membiarkan tangannya tidak bekerja. Tangan seorang muslim yang diguakan untuk bekerja mencari rezeki adalah tangan yang paling baik; disusul kemudian oleh mereka yang berdagang sesuatu yang halal dan dilakukan dengan cara-cara yang baik. Mereka oleh Rasulullah Saw. dipuji sebagai orang-orang yang baik.
Kedua, banyak sakali ibadah dalam Islam yang harus dilakukan dengan mengeluarkan sejumlah biaya tertentu. Pada bulan Dzulhijjah, misalnya, umat Islam diperintahkan untuk menunaikan ibadah haji dan menyembelih hewan kurban. Sudah sangat maklum di antara kita bahwa beribadah haji, apalagi dari negeri-negeri di luar Mekah, termasuk Indonesia, berangkat haji memerlukan biaya yang tidak sedikit. Pada masyarakat Indonesia, siapa yang bisa menunaikan haji dengan biaya sendiri pasti orang itu tergolong berpunya (the have).
Menyembelih hewan qurban hanya bisa kita kerjakan kalau kita memiliki sejumlah uang untuk membeli hewannya atau kita sudah memiliki hewan itu. Belum lagi syari‘at zakat, infak, sedekah, menuntut ilmu, dan sebagainya. Semuanya mengisyaratkan bahwa umat Islam harus memiliki sejumlah harta tertentu agar bisa mengerjakan banyak jenis ibadah.
Ketiga, sejarah mencatat bahwa Rasulullah dan para sahabat bukanlah para pengangguran yang hidup miskin. Sekalipun kelihatannya tidak punya apa-apa, bahkan saat meninggal tidak meninggalkan apapun, sebenarnya mereka adalah orang-orang kaya. Mereka tidak punya apa-apa bukan karena miskin dan pengangguran, melainkan harta mereka digunakan untuk membiayai segala ibadah yang diperintahkan Allah Swt. pada mereka.
Kita perhatikan bagaimana keseharian Rasulullah Saw. Bagi Rasulullah, menerima harta, zakat, infak, dan sedekah adalah haram. Rasulullah hanya diperkenankan menerima hadiah. Itupun dalam jumlah terbatas. Namun, tidak ada seorang pun yang meminta sesuatu pada beliau yang tidak diberi. Itu artinya Rasulullah selalu memiliki sesuatu (harta) untuk diberikan pada orang lain? Dari mana Rasulullah memilikinya kalau dia tidak bekerja dengan tangannya sendiri untuk mencari nafkah. Istri Rasulullah tercatat paling tidak ada sembilan orang. Allah mewajibkan pada setiap suami untuk membelanjai istrinya. Dari mana beliau bisa menghidupkan begitu banyak istri dan anak-anak mereka bila beliau tidak memiliki sejumlah harta. Melihat ke sana, jelas Rasulullah bukan seorang pengangguran yang miskin.
Berdasarkan bukti-bukti di atas, jelas bahwa umat Islam diharuskan berpikir dan bertindak kreatif untuk menghasilkan sumber-sumber rezeki bagi kehidupannya. Umat Islam tidak diperbolehkan hanya tinggal diam. Sekalipun dalam perkiraan statistik ekonomi kesempatan kerja sangat sempit, perkiraan itu tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak bekerja atau membiarkan diri menganggur. Jadi, secara normatif, sama sekali tidak dibenarkan ada satu pun orang yang mengaku “muslim” sampai menganggur tanpa udzur. Seorang Muslim harus mengaktifkan kedua tangannya melakukan apa saja.
Selain itu, banyak sekali isyarat-isyarat dalam al-Quran dan hadis yang mengharuskan setiap mukmin bekerja, tidak berpangku tangan menganggur, dan juga malas. Perhatikan ayat-ayat dan hadis berikut.

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

Dan Kami jadikan siang hari sebagai (waktu) mencari penghidupan”. (QS an-Naba’ [78]: 11)

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي اْلأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلاً مَاتَشْكُرُونَ

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur”. (QS al-A‘râf [7]:10)

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS al-Jumuah [62]:10)

ِلأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبَلَهُ فَيَخْتَطِبُ عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنَ يَأْتِيَ رَجُلاً أَعْطَاهُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ فَيَسْأَلُهُ أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ

Lebih baik bagi salah seorang di antara kalian untuk mengambil tali miliknya lalu mencari kayu bakar (dipundak) di atas punggungnya, daripada mendatangi seseorang yang diberi rezeki oleh Allah, lalu ia meminta-minta padanya, diberi ataupun tidak”. (Muttafaq Alaih)
Berdasarkan dalil-dalil di atas, lebih jelas lagi tentang bagaimana sikap Islam terhadap para pengangguran yang hanya hidup meminta-minta, berpangku tangan tanpa bekerja. Namun, harus digarisbawahi bahwa dalam Islam “bekerja” bukan hanya “menjadi pegawai” di suatu perusahaan atau istitusi. Dalam Islam konsep bekerja adalah entrepreneurship (kewirausahaan). Kewirausahaan bukan hanya sekedar berbisnis dalam arti berjualan (marketing). Namun, melakukan kretivitas apa saja dari mulai hulu produksi sampai penjualan yang dapat menjadi wasilah (perantara) datangnya rezeki dari Allah Swt.
Dalam hal ini, Islam mendorong umatnya untuk secara kreatif menggali sumber daya yang ada dalam diri orang tersebut dan dari lingkungan alam yang ada di sekitaranya hingga dapat diolah menjadi sumber-sumber ekonomi. Urusan bentuk usaha dan besar-kecilnya volume usaha yang dilakukan bukan ketentuan baku yang ditentukan secara rigid dalam syari‘at. Itu berarti bahwa seberapa pun hasil yang kita dapat, kalau itu hasil jerih payah sendiri tetap lebih baik daripada hasil meminta-minta. Bila disertai dengan sikap kita yang selalu bersyukur atas hasil yang kita dapat, maka pasti Allah akan melipatgandakan berkahnya. Artinya, bila disyukuri besar akan bermanfaat, kecil tetap akan dapat mencukupi segala kebutuhan kita.
Dengan konsep seperti ini, tidak ada ceritanya bahwa seorang Muslim memilih untuk diam di rumah karena lamaran pekerjaannya belum ada yang diterima atau belum menjadi PNS. Belum diterima bekerja bukan alasan untuk mendiamkan kedua tangan tanpa kerja. Masih banyak sumber daya di dunia ini yang bisa digali. Rezeki Allah pintunya disiapkan berjuta-juta tanpa batas. Jadi, kalau kita terpaku pada satu pintu saja, sama saja kita tidak percaya bahwa Allah Mahakaya. Oleh sebab itu, Islam sangat tidak menyukai orang yang diam berpangku tangan dan peminta-minta. Kalau kita sungguh-sungguh mau melepaskan tangan untuk bekerja, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, Insyaallah, Allah akan mengalirkan rezeki-Nya dari jalan yang seringkali kita tidak tahu.
Wallâhu A’lam bis Shawwâb

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB