Oleh:
Dr. H. Ahmad Hasan Ridwan, M.Ag
(Direktur Utama Pusat Zakat Umat)
Diskusi tentang insan intelektual cukup menarik dan mengundang perhatian publik, terutama bagi aktivis zakat. Insan intelektual senantiasa dihayati dalam cita rasa yang berbeda dan didiskusikan dengan memakai perspektif yang berbeda. Perbedaan ini selain menyangkut variasi dan aksentuasi, melibatkan pula perbedaan logika, baik yang menyangkut kerangka konseptual maupun yang berkenaan dengan lingkup minat dan kepentingan masing-masing.
Insan intelektual secara eksistensial yang tumbuh di tengah aktivitas pengelolaan ZIS khususnya dan di lembaga sosial kemasyarakatan umumnya memang tidak dapat dilepaskan sama sekali dari warisan sejarah perkembangan ormas dan bangsa Indonesia. Insan intelektual merupakan wujud eksistensial dari proses wajar perkembangan sistem Pendidikan Tingggi Nasional. Secara historis, insan intelektual tidak hanya identik dengan makna ke-Islaman, kebangsaan, dan ke-Indonesiaan. Akan tetapi, insan intelektual juga mengandung makna spiritual yang mendalam.
Insan intelektual yang lahir di Indonesia merupakan usaha yang dilakukan dengan sengaja, terencana, dan sistematis untuk menjadi sosok yang memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi. Secara praktis, dengan kompetensinya insan intelektual mampu memotivasi, membina, membantu, dan mengabdi pada masyarakat. Kompetensi dan integritas menjadi penting dan merupakan buah dari proses pendidikan yang berkualitas.
Di dalam al-Qur’an, istilah insan intelektual disebut orang-orang berakal (al-‘aql). Al-Qur’an menyebut sebanyak 50 ayat dengan variasi bentuknya; satu kali disebut “‘aqaluhu”, “na’qilu”, “ya’qiluha”, 24 ayat dengan kalimat “ta’qilun” dan 22 ayat dengan kalimat “ya’qiluna”. Kategori orang-orang berakal terdiri dari: orang yang melaksanakan perintah Allah Swt.; respons positif terhadap turunnya Al-Qur’an; kosmologi; hari akhirat; dan usia manusia. Proses intelektual adalah proses menuju orang-orang berakal melalui pendidikan. Proses pendidikan dimaknai dengan istilah “at-tarbiyah”, “at-ta’lim”, dan “at-ta’dib”. Kata “at-tarbiyah” sebangun dengan kata “ar-rabb”, “rabbayani”, “nurabi”, “ribbiyun”, dan “rabban”. Kata “ar-rabb” merupakan fonem yang seakar dengan “at-tarbiyah”, yang berarti “at-tanmiyah”, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. “Ar-rabb” bermakna pemilik, Yang Maha Memperbaiki, Yang Maha Pengatur, Yang Maha Penambah, Yang Maha Menunaikan. Secara prinsip, al-Qur’an mendorong setiap muslim untuk memiliki dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini terbukti Ketika wahyu yang pertama kali diturunkan, pada surah al-Alaq (96) ayat 1-5: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu-lah yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Al-Quran justru meletakkan prinsip/landasan berpikir dan bertindak yang amat penting bagi manusia, yaitu ilmu pengetahuan. Membaca adalah langkah awal menuju ditemukannya berbagai ilmu pengetahuan, dan itulah perintah pertama (sebelum perintah yang lain) yang diturunkan Tuhan melalui wahyu yang pertama turun.
Dengan perintah membaca yang diulangi dua kali mengajarkan kita, bahwa sesungguhnya pembacaan secara berulang dan mendalam akan melahirkan inspirasi, tafsir, ide, cara pandang baru dari yang sudah ada. Kemukjizatan al-Qur’an dapat dibuktikan melalui berbagai penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan jika proses membaca dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan.
Secara ontologi, hakikat pendidikan diawali melalui proses pembacaan, yang merupakan kebutuhan dasar dan hak asasi yang paling fundamental. Pendidikan berakar pada kebutuhan manusia terhadap proses pelatihan kemandirian berpikir, mandiri mengambil keputusan, mandiri dalam bekerja untuk mempertahankan kehidupannya, mandiri dalam mengamankan kehormatan dan harga dirinya, serta manusia yang mengerti tujuan hidup hari ini dan yang akan datang. Proses implementasi wahyu di atas secara historis telah dilakukan secara baik oleh insan intelektual.
Oleh karena itu, kehadiran insan intelektual di Indonesia sangat penting dalam memenuhi kebutuhan dasar umat. Insan intelektual memiliki peran ganda (double track) : Pertama, peran akademik. Keberadaan insan intelektual menjadi penting dan signifikan, terutama terlibat dalam proses intelektualisasi dalam kehidupan akademis dan empiris. Proses intelektualisasi mendorong eksistensi insan intelektual untuk memiliki kekuatan transformasi dalam usaha mulia “character building” keumatan yang luar biasa. Insan intelektual pun akan mampu menumbuhkan etos inetelektual yang baik sehingga memiliki nilai positif bagi institusi dan umat.
Insan intelektual harus benar-benar mengenal dan memiliki kapasitas dan otoritas penguasaan aspek normatif keilmuan maupun teknis. Al-Qur’an menyebutkan dalam QS al-Kahfi ayat 110, yaitu “Katakanlah: sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya Tuhan kalian itu adalah Tuhan Yang Esa’. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.
Menanamkan kebiasaan akademik (habit) positif melalui kegiatan keilmuan dan melalui penelitian (research) sangat bermanfaat bagi pengembangan keilmuan. Pengayaan data terkait dengan pengembangan kelembagaan ZIS dan pemberdayaan umat pun tak kalah pentingnya. Data itu penting untuk merencanakan merancang program-program strategis untuk pemberdayaan umat.
Kedua, peran sosial. Eksistensi insan intelektual memerankan dirinya sebagai agent of social change berkontribusi bagi pembangunan manusia seutuhnya melalui kegiatan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah. Insan intelektual pada umumnya terus menyelenggarakan kegiatan dengan misi: menanamkan akidah dan pembinaan tauhid; mengajarkan nilai-nilai sosial; memberikan keteladanan; dan menanamkan nilai akhlak karimah secara intensif.
Insan intelektual dapat berperan secara luas, baik di lingkungan akademik maupun di lingkungan sosial masyarakat, terutama pada program unggulan Umat Pintar di PZU yang bersifat respons positif dari sebuah proyek pencerdasan umat. Dalam kaitan ini, ada indikasi ketidakmerataan akses pendidikan yang diterima umat muslim sehingga diperlukan langkah strategis, di antaranya: Pertama, mengidentifikasi kebutuhan umat terhadap akses pendidikan. Kedua, membuat peta generasi muda dan dipromosikan untuk mendapatkan program umat pintar. Ketiga, kebutuhan akan adanya sebuah program pencerdasan yang jelas di tengah-tengah tantangan dan hambatan. Keempat, pentingnya program umat pintar yang inovatif dan bukan semata pada sisi teoritiknya, melainkan juga terletak pada kepentingan praktis untuk secara nyata mewujudkan umat yang cerdas, berakhlak mulia sebagai gerakan pemuliaan, dan juga pentakwaan.
Salah satu kepentingan program Umat Pintar adalah memecahkan problem pendangkalan akidah dan pembodohan ilmu pengetahuan muslim, terutama untuk penduduk di wilayah luar Jawa. Kelima, kepentingan program Umat Pintar yang bersifat praktis (‘amaliyah fi’liyah), yaitu secara nyata diwujudkan dalam realitas melalui program beasiswa bagi santri-santri yang ditempatkan di pesantren. Keenam, model linkage dengan bidgar yang terkait atau lembaga lain yang mendukung.
Demikian eksistensi insan intelektual yang menjadi pelopor signifikan dan terlibat dalam program Umat Pintar di PZU. Insan intelektual menjadi media implementasi ayat-ayat al-Qur’an yang menghendaki adanya akses pendidikan Islam bagi setiap muslim secara merata, sesuai dengan prinsip keadilan.
Wallahu A’lam bis Shawab

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB