KEPUTUSAN SIDANG DEWAN HISBAH

TENTANG

ZAKAT PROFESI DAN KETENTUAN 2,5 % UNTUK ZAKAT TIJARAH

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Dewan Hisbah Persatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

  1. Firman Allah swt. tentang zakat, antara lain:
  2. S Al-Bayyinah: 5

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَة

Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

  1. S. Al-Hasyr:7

…وَمَا آتَاكُمْ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.

…Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.

 

  1. Hadis-hadis Rasulullah saw. tentang zakat, antara lain:

عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ سَمِعَ طَلْحَةَ بْنَ عُبَيْدِاللَّهِ يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ r مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرَ الرَّأْسِ يُسْمَعُ دَوِيُّ صَوْتِهِ وَلَا يُفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ r خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r وَصِيَامُ رَمَضَانَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ r الزَّكَاةَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلَا أَنْقُصُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ – رواه البخاري –

Dari Malik, sesungguhnya ia mendengar Thalhah bin Ubaidillah berkata, “Telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah saw. dari penduduk Najed dengan rambut kusut, terdengar suaranya keras tapi tidak difahami, sehingga ia mendekat. Ternyata dia bertanya tentang Islam, Rasulullah menjawab, ‘Tidak! Kecuali jika engkau hendak mengerjakan yang sunat’. Lalu Rasulullah saw. bersabda, ‘Shaum di bulan Ramadhan.’ Ia bertanya, ‘Apakah atasku ada yang lainnya? Nabi menjawab, ‘Tidak! Kecuali jika engkau hendak mengerjakan yang sunat’. Ia (Thalhah) berkata, ‘Selanjutnya Rasulullah saw. menerangkan tentang zakat kepada orang itu. Ia bertanya, ‘Apakah atasku ada yang lainnya? Nabi menjawab, ‘Tidak! Kecuali jika engkau hendak melaksanakan yang sunat’. Ia (thalhah) berkata, ‘Laki-laki itu terus pergi seraya mengatakan, ‘Demi Allah, aku tidak akan menambah atau mengurangi atas hal ini. Rasulullah saw. bersabda, ‘Berbahagialah ia jika ia benar. (H.R. Al-Bukhari)

 

  1. Hadis-hadis Rasulullah saw. tentang zakat tijarah, antara lain

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ   r كَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِنِ الَّذِي نُعِدُّ لِلْبَيْعِ. رواه أبو داود

Samurah bin Jundab telah berkata, “Rasulullah saw. memerintah kami agar mengeluarkan zakat dari barang yang dipersiapkan untuk diperdagangkan”. (H.R. Abu Daud)

 

  1. Hadis-hadis tentang ujrah atau upah dari pekerjaan atau keahlian (profesi), antara lain

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r أَعْطُوا الْأَجِيْرَ أَجْرَهُ قَبْلَ اَنْ يَجِفَ عُرُقُهُ – رواه ابن ماجة –

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Berilah kepada seorang buruh upahnya sebelum keringatnya mengering”. (H.R. Ibnu Majah)

 

MENDENGAR:

  1. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP. Persis KH. Drs. Shiddiq Amin, MBA.
  2. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH. A Syuhada.
  3. Makalah dan pembahasan yang disampaikan oleh K.H. I. Shadiqin
  4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas

 

MENIMBANG:

  1. Ayat-ayat tentang zakat senantiasa bergandengan dengan shalat tanpa pemisahan hukumnya.
  2. Beberapa hadis tentang zakat yang mensejajarkan kedudukan zakat dengan salat.
  3. Ujrah atau upah dari pekerjaan atau keahlian (profesi) sudah ada pada masa Nabi saw. Kewajiban zakat tijarah sudah ada pada masa Nabi saw. namun tidak ditemukannya ketetapan yang harus dikeluarkan.

 

MENGISTINBAT:

  1. Zakat adalah termasuk ibadah mahdhah
  2. Harta yang tidak terkena kewajiban zakat termasuk hasil profesi, dikenai kewajiban infaq yang besarnya tergantung kebutuhan Islam terhadap harta tersebut.
  3. Pimpinan jam’iyyah dapat menetapkan besarnya infaq.
  4. Zakat tijarah (perdagangan) tidak ada nishab dan haul.
  5. Zakat tijarah diambil 2,5 % dari harga barang yang telah terjual.

 

 

 

Demikian KEPUTUSAN SIDANG DEWAN HISBAH mengenai masalah tersebut dengan  makalah terlampir.

الله يأخذ بأيدينا الى ما فيه خير للإسلام و المسلمين

Bandung, 12 Sya’ban 1423 H/19 Oktober 2002 M

DEWAN HISBAH PERSATUAN ISLAM

 

Ketua,

Ttd

(KH.AKHYAR SYUHADA)

NIAT: 1632

Sekretaris,

Ttd

(DR. HM. ABDURRAHMAN, MA)

NIAT: 7070

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

INFAQ WAJIB

Istilah Infaq wajib mungkin masih sangat asing di telinga masyarakat, karena yang sudah terlanjur membudaya dalam pandangan masyarakat bahwa infaq itu hukumnya sunnah, sementara yang wajib itu adalah zakat. Namun ketika pada masa sekarang, banyak jenis harta baru yang tidak terdapat di zaman Rasulullah, sehingga tidak ada kewajiban zakat padanya. Para ulama kemudian memaksakan diri untuk meng qiyaskan ke dalam kategori zakat, padahal qiyas (analogi) dalam ibadah masih kontroversial. Oleh karenanya, definisi tentang infaq yang sifatnya sunnah mesti dikaji ulang. Penulis di sini sepakat dengan sebagian ulama yang menyatakan bahwa infaq itu hukumnya wajib, dan dikenakan terhadap jenis harta di luar zakat.

Zakat identik (berkaitan erat) dengan muzakki, mustahiq, waktu, dan ukuran tertentu. Zakat merupakan salah satu ibadah maaliyah (harta), supaya harta tersebut mampu berfungsi sebagai rahmatan lil’alamin. Kedudukan shalat dan zakat adalah sejajar (sama wajibnya). Shalat merupakan ibadah badaniyah sedangkan zakat merupakan ibadah maaliyah dan sifatnya ta’abbudi, bukan hasil pemikiran dan bukan pertimbangan perasaan. Selain zakat ada juga kewajiban yang lain dari harta yaitu infaq yang pelaksanaan dan cara-caranya ditentukan oleh aturan berdasarkan konteks sosio-kultural yang berlaku setiap zaman. Oleh karena itu tidak berarti syari’at Islam yang mengatur urusan perzakatan tidak adil, manakala seorang petani wajib mengeluarkan zakat sementara orang lain dengan berbagai profesinya, tidak masuk kedalam kategori yang wajib zakat walaupun memiliki penghasilan jutaan rupiah. Mereka memang tidak wajib zakat namun wajib mengeluarkan infaq yang besarannya bisa jauh lebih besar dari zakat.  Pekerjaan profesional yang menjual jasa di zaman Rasul saw. sudah terjadi, namun sampai saat ini, belum ditemukan dalil Al-Quran dan Hadits Nabi saw. yang mewajibkan zakat lengkap beserta kadarnya. Sehingga kita tidak bisa menambah dan membuat-buat sesuatu ibadah yang tidak dicontohkan dan diperintahkan oleh Rasulullah saw.

 

 

Banyak ulama mewajibkan adanya zakat profesi dengan berlandaskan firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا أَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ  يَوْمٌ لاَ بَيْعٌ فِيْهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُوْنَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Infaqkanlah dari sebagain apa-apa yang kami rizkikan kepada kamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual-beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itu merekalah yang dhalim”. (Q.S. Al-Baqoroh, 2: 254)

Perintah infaq memang wajib. Namun tidak ada keterangan di ayat lain maupun al-hadits yang menjelaskan berapa kadar yang harus dikeluarkan dari hasil profesi tersebut, seperti halnya zakat yang jelas kadar, nishab, dan haulnya.

Walaupun demikian, perbedaan pendapat para ulama mengenai hasil profesi ini, lebih pada perbedaan istilah, yaitu dalam mengistilahkan zakat atau infaq wajib. Apapun istilah yang menyifatinya, penghasilan dari usaha seseorang wajib dikeluarkan bagi kepentingan para mustahiq.

Pada prinsipnya kadar infaq wajib ini ditentukan oleh individu masing-masing sesuai dengan ukuran penghasilan yang diperolehnya. Namun khalifah (pemerintahan) Islam, atau pengganti dari pemerintahan Islam boleh menentukan kadar infaq terhadap para wajib infaq ini. Ruh pendorong zakat dan infaq adalah ketaqwaan, ketaatan, dan kejujuran, sehingga orang yang lemah keimanan, ketaqwaan, serta kejujurannya akan menghindar dari kewajiban ini. Sekalipun zakat sudah ditetapkan aturan-aturannya, orang yang benar benar bertaqwa akan mengeluarkan zakat, termasuk infaq, meskipun ketentuannya diserahkan kepada dirinya, ia akan menghitung berdasarkan kelebihan harta yang dia miliki, bahkan bisa jauh lebih besar dari zakat yang mesti ia keluarkan.

إِنَّ اللهَ لَمْ يُفْرِضِ الزَّكَاةَ إِلاَّ لِيُطِيْرَ مَا بَقِيَ مِنْ أَمْوَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan zakat, melainkan untuk menyehatkan sisa milik harta kamu”. (H.R. Abu Dawud)

وَ يَسْأََلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ قُلِ الْعَفْوَ…

“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan? Katakanlah: yang lebih dari keperluanmu…” (Q.S. Al-Baqoroh, 2: 219)

 

Penghasilan Profesi

Gaji/penghasilan seseorang sesuai profesinya terkena kewajiban infaq. Banyak cara untuk menghitung besaran infaq yang mesti dikeluarkan. Hanya berdasar Q.S. Al-Baqoroh,2 :129 di atas. Infaq adalah sesuatu yang lebih dari keperluan, maka contoh penghitungannya adalah sbb:

Penghasilan per bulan                    :  Rp 2.000.000,-

Kebutuhan primer bulanan           :  Rp 1.000.000,-

Maka infaq yang mesti dikeluarkan, minimal: 2,5 % x Rp 1.000.000,- = Rp.25.000,-

Melihat kondisi di atas, maka 25.000 terasa terlalu kecil, sehingga kerelaan dari munfiqin  (orang yang infaq) untuk menambah dari jumlah infaq jauh lebih baik dan tentu akan bernilai pahala di sisi Allah SWT. Apalagi, infaq yang dikeluarkan selebih dari keperluan merupakan tingkatan yang paling rendah dari infaq.  Maka menambah lebih dari itu, akan bernilai lebih di sisi Allah SWT.

Usaha Jasa

Usaha jasa, tidak dapat disamakan dengan usaha tijaroh (perdagangan). Karena dalam tijaroh, modal yang disediakan adalah untuk dijual, sedangkan dalam usaha jasa, modal tersebut menjadi barang tetap yang tidak dimaksudkan untuk dijual. Hal yang termasuk usaha jasa, diantaranya: Rental mobil, rumah kontrakan, salon/pangkas rambut, dll.

Alternatif perhitungan infaqnya adalah sbb:

Penghasilan                                 : Rp 5.000.000,-

Pengeluaran (gaji, operasional, dll) : Rp 1.000.000,-

Infaq wajib: 2,5% x 4.000.000,-  = Rp 100.000

Seperti di atas, kelebihan infaq yang dikeluarkan dari jumlah ini, adalah lebih baik dan lebih membersihkan harta kita.

Inilah letak fleksibilitas konsep infaq wajib. Selain ketaatan dan ketaqwaan seseorang untuk mengeluarkan harta yang dimilikinya, juga ada latihan kejujuran sehingga seseorang berkeinginan untuk memberi lebih banyak.

 

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

300-101   400-101   300-320   300-070   300-206   200-310   300-135   300-208   810-403   400-050   640-916   642-997   300-209   400-201   200-355   352-001   642-999   350-080   MB2-712   400-051   C2150-606   1Z0-434   1Z0-146   C2090-919   C9560-655   642-64   100-101   CQE   CSSLP   200-125   210-060   210-065   210-260   220-801   220-802   220-901   220-902   2V0-620   2V0-621   2V0-621D   300-075   300-115   AWS-SYSOPS   640-692   640-911   1Z0-144   1z0-434   1Z0-803   1Z0-804   000-089   000-105   70-246   70-270   70-346   70-347   70-410  

1
Assalamualaikum Wr WB
Powered by