Oleh:
KH. M. Abdurrahman

www.pzu.or.id, Bandung-Rabu (25/09/2019) Problem rusaknya lingkungan hidup, bukan hanya problem lokal atau regional, tetapi merupakan problem global yang setiap negara dan berbagai lapisan masyarakat wajib menyelamatkannya dengan membuat dan menjalankan peraturan perundang-undangan. Kewajiban ini dilandasi, bukan hanya dari aspek filosofis rasional, tetapi sudah menyentuh aspek teologis bahwa orang yang menafikan kemurahan dan kerahmanan Allah Swt., malahan sudah kufur nikmat yang akan mendapat azab-Nya.

Problem lingkungan saat ini sungguh sudah melebihi batas, padahal kewajiban manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi ini untuk memelihara, mempertahankan, membangun secara berkelanjutan sendi-sendi kehidupan dan faktor-faktor pendukungnya. Namun, kenyataaan Indonesia, negara harapan paru-paru dunia, justru sedang dilanda kaumm “Teroris Lingkungan” yang dilakukan para “korporasi” karena menginginkan lahan-lahan, termasuk hutan-hutan juga yang dikuasainya, menguntungkan perusahannya. Berdasarkan kesaksian para pejabat, termasuk kepolisian, ternyata lahan yang dikuasainya “dibakar” agar segera dapat ditanami dengan tanaman lain dengan harga yang murah. Implikasinya, sebagaimana dapat disaksian melalui media, sungguh hutan banyak rusak dan masyarakat sekitar menderita penyakit ISPA akibat asap yang terus sampai saat ini melanda masyarakat, khususnya di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Sementara itu, Undang-undang mengenai lingkungan sudah amat jelas, yakni dalam UU No. 41 tahun 1999, No. 18 tahun 2004, dan No. 32 tahun 2009. Sayang sekali, hukuman yang dijatuhkan pada mereka amat lambat. Oleh karena itu, sekarang ramai di media tentang Kejahatan Lingkungan Eko-Terorisme.

Dalam kehidupan yang serba kompleks dan paradoks, landasan pemikiran serta nilai-nilai yang menyertainya diperlukan sehingga manusia dalam hidup ini bukan hanya tanggung jawab terhadap kehidupan sekarang yang amat duniawi, tetapi juga nilai ukhrawi, berupa ibadah kepada Allah Swt. sebagai Pencipta alam semesta. Karena itu, mengembalikan segala kehidupan pada Allah, sebagai ibadah dan bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya suatu kewajiban pula, sebagai khalifah Allah di muka bumi. Menurunnya kewenangan manusia dalam memaknai dirinya sebagai khalifah yang selama ini kita baca dan kumandangkan seringkali dimaknai tidak kontekstual, sempit, dan tidak konseptual sehingga manusia tidak mampu lagi memelihara alam dan melestarikannya yang menjadi tugas kekhalifahannya. Untuk itu, maka membangun kesadaran baru dalam memelihara dan menyelamatkan lingkungan dan ekosistemnya ini mutlak diperlukan dengan cara memaknai kembali nilai-nilai ajaran Islam ini dengan tepat dan benar sesuai dengan kebutuhan kekinian. Maka, mengungkap ayat-ayat atau hadis-hadis yang berkaitan dengan lingkungan, bahkan fatwa-fatwa ulama amat diperlukan.

Pada dasarnya, ajaran Islam memiliki landasan yang amat jelas terhadap terpujinya orang yang memelihara lingkungan hidup dan segala hal yang berkaitan dengannya, bahkan dapat sampai kepada kewajiban dan yang merusaknya suatu dosa. Dalam al-Qur’an banyak dibicarakan tentang air, gunung, sungai, kebun, buah-buahan, langit, bumi, tanah, daratan, angin, awan, laut, hasil laut, ikan, binatang-binatang, bintang, bulan, matahari, hujan, dan lain-lain  sehingga menurut Dr. Fath Allah al-Ziyadi (2004:195) dalam karya nya, al-Islam wa al-Bai’ah, ditenggarai ada sekitar 199 ayat yang terekam dalam Al-Qur’an yang membicarakan lingkungan hidup dan ekosistem ini. Belum terhitung hadis-hadis dan fatwa-fatwa ulama, baik klasik maupun kontemporer.

Bicara lingkungan hidup, tentu berbicara ekosistemnya. Dikatakan ekosistem di sini karena seluruh kehidupan ini tidak ada yang mandiri, tetapi selalu berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya; kelangkaan udara bersih dan kelangkaan air, misalnya akan merusak sendi-sendi kehidupan lainnya. Demikian pula adanya air merupakan bukti adanya pendukungnya, pepohonan, hutan, gunung, bahkan hujan, dan lain-lain. Maka, bagaimana mungkin kebutuhan kehidupan terpenuhi bila malahan hutan dan perkebunan dibakar, seperti terlihat saat ini. Namun, pada intinya sebagaimana dikemukakan oleh al-Ziyadi, masalah lingkungan hidup dengan segala aspek dan korelasinya berkisar pada alam, kehidupan, dan manusia sebagai khalifah. Untuk itu,  dimungkinkan  dimensinya menjadi bumi, langit, dan isinya secara keseluruhan.

Kerusakan lingkungan saat amat kasat mata, baik lokal, nasional, regional, dan internasional. Ini terjadi karena manusia sudah merusaknya, seperti tercantum pada surat ar-Rum: 41, as-Syu’ara: 128-130. Kasus-kasus yang baru terjadi kalimanatn dan Sumatra yang sudah hampir sepekan adalah bukti nyata keteredoran manusia dalam menjaga lingkungan dan pengrusakan yang identik teroris yang membunuh manusia. Teroris lingkungan akan lebih parah karena membunuh makhluk “cicing” (diam), makhluk “nyaring” (hidup), makhluk “eling” (manusia-berakal).  Masalahnya adalah bagaimana manusia memiliki kesadaran baru bagi masyarakat luas dalam menyikapi kerusakan lingkungan saat ini, sekaligus peran lembaga-lembaga pendidikan, pendidik, para ulama dan da’i ketika peraturan birokrasi, legislasi, dan yurisdiksi “gagal” dalam menyelesaikan lingkungan hidup. Dengan demikian, pendekatan agama perlu dilakukan yang tampak bahwa merusak lingkungan termasuk perbuatan “dosa” dan haram hukumnya, seperti Fatwa Majlis Ulama Indonesia.

NKRI, suatu negara yang amat kaya dengan alamnya dengan pepohonan, tanahnya yang amat subur dibandingkan negara lain, maka wajar bila Indonesia disebut paru-paru dunia. Ke mana paru-paru dunia saat ini? Siapa yang memiliki kebijakan atau malahan berbagai persoalan saat ini? Dengan demikian, dalam menyelesaikan lingkungan ini tidak lepas dari gaya hidup yang yang melanda negara dan bangsa. Al-Qur’an mengingatkan pada manusia agar memperhatiakan tiga persoalan penting, yaitu tidak boleh berlebihan (Israf), dilarang berkemubadziran, dan dilarang berkemewahan (itraf). Dengan kerusakan lingkungan seperti sekarang ini, maka terjadilah kekurangan air, bahan makanan dari hasil pertanan, dan juga peternakan. Bukti kita tidak mampu memanage NKRI, maka kerusakan yang saat ini terjadi. Implikasi dari kerusakan alam ini, maka pertanian di Indonesia amat lemah dan juga peternakan.  Semua diakibatkan oleh kebijakan oknum “pejabat negara dan penduduk negeri ini”  tidak peduli lagi pada lingkungan, malahan yang para perusak linglungan Eko-Terorsis sudah membunuh banyak manusia, termasuk anak-anak kecil dan baby yang kena asap hutan yang dibakar. Diperkirakan 10.000 anak-anak saat ini menderita akibat KARHUTLA, demikian UNICEF katakan. Berhenti wahai para teroris! Mana orang-orang yang saat ini mengejar para teroris? Mengapa Teroris Lingkungan dengan kejahatan yang luar biasa, Extra Ordinary Crime,  inilah teroris yang melanda NKRI dibiarkan berkeliaran menguasai negeri ini?  Inna Lillah wa Inna ilaihi Rajiun.

Lihat juga:

UDARA SEHAT UNTUK SAUDARAKU

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB