Kh. Aceng Zakaria

 

  1. Dimana disyariatkan shalat ‘ied al-Fitri; di masjid atau di lapang?

 

Dalam pelaksanaan shalat ‘ied al-Fithri Nabi SAw memberikan contoh di lapang tidak di masjid.

 

Sebagaimana hadits di bawah ini:

 

Dan darinya (Abi Sa’id), ia berkata: “Adalah Rasul lullah SAW suka keluar pada hari ied al-Fithri dan led al-Adhha ke lapang, yang pertama ia lakukan adalah shalat, kemudian berpaling dan berdiri menghadap orang-orang, sedangkan orang-orang berada di shaf-shaf mereka, lalu Nabi memberikan nasihat serta menyampaikan perintah ke pada mereka.” (H.R. Bukhari dan Muslim; Subul al-Salam, 2:67)

 

Dari Ummi ‘Athiyyah r.a, ia berkata: “Kami kaum Ibu diperintahkan untuk mengeluarkan gadis-gadis dan perempuan menyaksikan kebaikan dan dakwah orang muslimin, sedang yang haid hendaklah menjauhkan diri di waktu shalat.” (H.R. Bukhari dan Muslim: Subul al-Salâm, 2: 65)

 

Karena pernyataan sayyidina ‘Ali: “Telah diriwayakin, bahwa ia keluar ke lapang untuk shalat led, ia mengatakan: “Andaikata hal itu (shalat led di lapang) bukan sunnah, tentu akan dilaksanakan di masjid.” (‘Aun al-Ma’bûd, 4 :24)

 

Asy-Syafi’i mengatakan: “Telah sampai kepada kami (hadits) bahwa Rasulullah SAW keluar untuk melakukan ‘ledaian ke lapangan di Madinah, demikian pula orang-orang (shahabat) setelah Nabi, umumnya penduduk negeri, kecuali penduduk Makkah, sungguh tidak sampai (berita) kepada kami bahwa ada salah seorang salaf (generasi terdahulu) melaksanakan shalat ied kecuali di masjid mereka (Masjidil Haram).” (al-Umm, 1: 207)

 

 Asy-Syafi’i berkata: “Kalau seandainya ada ‘udzur karena hujan atau yang lainnya, niscaya aku akan perintahkan untuk sholat ied di masjid dan tidak usah shalat di lapang.” (al-Umm, 1: 207)

 

Pendapat imam Malik: “Bahwa keluar ke lapang lebih utama sekalipun di masjid luas untuk menampung orang-orang. Adapun alasan mereka adalah kebiasaan Nabi melakukan hal itu/shalat ledakan di lapang dan tidak pernah Nabi shalat led di masjid kecuali karena alasan hujan dan tentu saja Nabi tidak melakukan serta membiasakan sesuatu kecuali karena hal itu yang lebih utama.”

 

Keterangan-keterangan tersebut di atas menunjukkan bahwa:

 

  1. Nabi SAW senantiasa melaksanakan shalat ‘led al-Fitri dan ‘led al-Adhha di mushalla yaitu lapang di sebelah timur Masjid Nabawi.

 

  1. Gadis-gadis dan perempuan yang haid pun dianjurkan untuk menghadiri pelaksanaan shalat ;Ied di lapang hanya saja yang haid tidak ikut melaksanakan shalat.

 

  1. Sayyidina ‘Ali mengatakan: “Andai shalat ied ini bukan sunnah di lapang tentu aku lakukan di masjid.”

 

  1. Imam Syafi’i sendiri mengakui bahwa Nabi dan para sahabat setelahnya melakukan shalat ied di lapang. Beliau sendiri menganjurkan untuk melaksanakan shalat ‘ied di lapang kecuali jika terjadi hujan.

 

  1. Imam Malik menyatakan bahwa shalat ‘ied itu lebih utama di lapang karena itulah yang di biasakan oleh Nabi dan tentunya Nabi tidak akan melaksanakan kecuali yang afdhal.

 

  1. Bagaimana kalau terjadi hujan apakah boleh Shalat ‘ied di mesjid ?

 

Hadits yang menyatakan bahwa Nabi shalat ‘ied di mesjid karena hujan, haditsnya dhaif. Karenanya ada yang berpendapat bahwa shalat ‘ied di mesjid itu bid’ah. Penulis berpendapat bahwa jika hujan lakukanlah shalat ‘ied di mesjid. Sekedar contoh, Nabi senantiasa melaksanakan shalat jum’at di mesjid, tidak di lapang. Nah bagaimana kalau tidak ada mesjid yang dekat, apakah boleh shalat jum’at di kantor atau di bangsal sekolah atau di halaman ? Atau tidak usah jum’at karena tidak ada mesjid ? Kemudian Nabi pernah memerintahkan agar shalat jum’at di tempatnya masing-masing karena hujan, Nabi tidak suka melaksanakan jum’at dalam keadaan kotor atau becek (karena mesjid Nabawi waktu itu belum pakai atap).

 

Nah kalau kondisi sekarang di kita, apakah boleh juga shalat jum’at masing-masing di rumah karena hujan? Tentu saja tidak karena kondisi mesjidnya sekarang berbeda dengan mesjid di zaman Nabi.

 

  1. Shahihkah takbir Shalat led dengan 7 +5 takbir ?

 

Hadits takbir dalam Shalat led dengan 7 kali takbir di raka’at pertama dan lima kali takbir di raka’at kedua adalah sebagai berikut:

 

“Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami ayahku (imam Ahmad), telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman ath-Thâifi, ia mendengar dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya (Syu’aib) dari kakeknya, bahwa Nabi bertakbir dalam (shalat) hari raya 12 (dua belas) kali takbir, 7 (tujuh) di raka’at pertama dan 5 (lima) di raka’at kedua. Nabi tidak shalat sebelumnya dan sesudahnya. Menurut ayahku (imam Ahmad) aku berpegang dengan hadits ini.” (H.R. Ahmad; al-Musnad, 1: 141)

 

“Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir, ia berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Abdurrahman ath-Thâifi menceritakan dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari ‘Abdullah bin Amr al-Ash, ia berkata bahwa Nabi telah bersabda bahwa takbir dalam shalat ‘ied al-Fithri adalah tujuh kali di raka’at pertama dan lima kali di raka’at akhir, sesudah itu beliau membaca al-Fatihah pada kedua raka’at tersebut.” (H.R. Abu Dawûd, 1: 262)

 

Kedudukan haditsnya:

 

menurut Ahmad Muhammad Syakir: “Sanad hadits itu shahih.” (al-Musnad, 10:216)

 

Menurut ayahku (imam Ahmad): “Aku berpegang kepada hadits ini.” (al-Musnad, 10:216)

 

Menurut al-‘Iraqi: “Sanadnya shahih.” (Nail al Authar, 3: 338)

 

Kemudian Mushannif mengatakan: “Walhasil, hadits ‘Abdullah bin ‘Amr itu Hasan, dapat dijadikan hujjah serta didukung oleh hadits-hadits yang telah disyaratkan oleh Tirmidzi dan hadits-hadits yang telah kami terangkan.” (Tuhfah al-Ahwadzi, 3:85)

 

” Hadits itu juga telah dikeluarkan oleh Ahmad, Ali al-Madini dan keduanya telah menshahihkan hadits tersebut.” (Subul al-Salâm, 2:68)

 

Menurut al-Hafizh Ibnu ‘Abdi al-Bar: “Bahwasanya telah diriwayatkan dari Nabi melalui beberapa jalan/periwayatan yang hasan, bahwa Nabi ber takbir dalam shalat ‘ledain 7 kali di raka’at pertama, dan 5 kali di raka’at kedua… dan tidak di riwayatkan baik melalui jalan dhaif maupun shahih selain ini. Dan inilah yang paling utama untuk diamalkan.” (Fiqh al-Sunnah, 2: 263)

 

Menurut Bukhari: “Aku melihat Ahmad bin Hanbal “Ali bin al-Madani, Ishaq bin Rahawaih, Abu Ubaidah serta umumnya sahabat kami, menjadikan hujjah atas hadits Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, tidak ada seorang muslim pun meninggalkannya. Menurut Bukhari; siapa lagi selain mereka?” (Alfiyah al-Suyuthi, hal: 247)

 

“Kemudian Bukhari memutuskan sah hadits riwayat ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya.” (Alfiyah al-Suyûthi)

 

Dengan keterangan tersebut di atas jelaslah bahwa hadits takbir 7 dan 5 dalam shalat ‘ledain adalah hadits shahih. (Untuk lebih jelasnya silahkan baca buku al-Hidayah jilid 3)

 

  1. Apakah hitungan Takbir 7 kali di rakaat pertama termasuk takbiratul ihram atau tidak ?

 

Dalam hadits tersebut dinyatakan Nabi bertakbir 7 kali di raka’at pertama dan 5 kali di rakaat akhir. Ini berarti, 7 kali takbir itu sudah termasuk takbiratul ihram karena kalau tidak termasuk takbiratul ihram berarti hitungannya jadi 8 kali.

 

Memang imam syafi’i berpendapat bahwa takbir itu tidak termasuk takbiratul ihram. Demikian juga, apakah hitungan takbir 5 kali di raka’at kedua sudah termasuk takbir intiqal atau tidak?

 

Dalam hal ini juga ada perbedaan pendapat dalam menghitung 5 kali di raka’at kedua. Ada yang berpendapat termasuk takbir intiqal ada juga yang berpendapat tidak termasuk takbir intiqal. Karena takbir intiqal sudah dilakukan sejak bangkit dari sujud ditambah pula takbir intiqal itu tidak dengan mengangkat tangan sedangkan takbir ‘ied dengan mengangkat tangan.

 

  1. Bagaimana jika lupa takbir 7 di raka’at pertama?

 

Para ulama telah sepakat jika lupa takbir 7 kali di raka’at pertama tidak usah sujud sahwi. Demikian juga jika lupa takbir yang 5 kali di raka’at kedua, karena tidak ada dalil yang mengharuskan sujud sahwi dan shalatnya tetap dianggap sah.

 

  1. Mestikah mengangkat tangan dalam setiap kali takbir ?

 

Dalam hal ini ada keterangan sebagaimana di bawah ini:

 

“Adalah Ibnu Umar -yang demikian kuat perhatiannya untuk mencontoh Nabi- ia mengangkat kedua tangannya dalam setiap kali takbir.” (Subul al-Salâm, 2:69) 

 

KETERANGAN:

Berdasarkan keterangan di atas, yaitu amal Ibnu ‘Umar dan tidak ada sahabat lain yang menegurnya. Maka pelaksanaan takbir yang tujuh dan yang lima itu semua dengan mengangkat kedua tangan. Adapun mereka yang berpendapat tidak mengangkat tangan, kecuali yang pertama saja, itu tidak mempunyai dasar yang kuat, baik dari Nabi maupun amal shahabat.

 

  1. Apa yang dibaca antara takbir dengan takbir ?

 

Ada yang berpendapat bahwa diantara takbir dengan takbir itu dianjurkan dengan membaca hamdalah dan shalawat kepada Nabi sebagaimana keterangan di bawah ini:

 

“Bahkan (tetapi) al-Khalal telah menceritakan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia mengatakan agar memuji Allah dan menyanjung-Nya, juga membaca shalawat kepada Nabi (di antara takbir dengan takbir).”

 

Imam Ahmad dan asy-Syafi’i telah menganjurkan, bahwa pemisahan antara takbir dengan takbir ialah berdzikir kepada Allah, seperti membaca; SUBHÂNA ALLAHU WA AL-HAMDU LI ALLAHI WA LÂ ILÂHA ILLA ALLAHU WA ALLAHU AKBARU.” (Fiqh al-Sunnah, 2: 264)

 

JAWABAN:

 

Menurut Ibnu Qayyim: “Tidak diriwayatkan dari Nabi ada/terdapat bacaan yang khusus di antara takbir dan takbir.” (Hadyu al-Rasûl, hal: 84)

 

Menurut Abu Hanifah dan Malik: “Hendaklah bertakbir dengan berturut-turut tanpa terpisahkan antara takbir dan takbir dengan bacaan apapun.” (Figh al-Sunnah, 2: 264)

 

  1. Kapan membaca doa iftitah; apakah setelah takbir pertama atau takbir ke-7 ?

 

Dalam satu hadits dinyatakan bahwa saat membaca do’a iftitah itu adalah antara takbir dan membaca al-Fatihah. Dengan demikian, maka membaca do’a iftitah dalam shalat ‘led adalah setelah takbir ke-7 tetapi kadang-kadang imamnya juga lupa untuk membaca do’a iftitah.

 

  1. Bolehkah yang haid ikut menyemarakan ‘led ?

 

Dari Ummi ‘Athiyyah r.a, ia berkata: “Kami kaum ibu diperintahkan untuk mengeluarkan gadis-gadis dan perempuan haid untuk shalat ‘ledain; untuk menyaksikan kebaikan dan dakwah orang muslimmin, sedang yang haid hendaklah menjauhkan diri di waktu shalat.” (H.R. Bukhâri dan Muslim: Subul al-Salâm, 2:65)

 

Hadits ini menunjukkan bahwa perempuan yang haid pun dianjurkan untuk ikut hadir di lapang menyaksikan pelaksanaan led, ikut bertakbir dan dakwah umat Islam. Hanya saja yang haid tidak ikut melaksanakan shalatnya.

 

  1. Bagaimana pelaksanaan khutbah idain. Apakah satu kali atau dua kali khutbah ?

 

Ada yang berpendapat bahwa khutbah ‘led itu dua kali. Hal ini berdasarkan keterangan di bawah ini:

 

Dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, ia berkata: “Menurut sunnah, hendaklah imam itu berkhutbah dalam shalat ledain dengan dua kali khutbah yang dipisah dengan duduk.” (H.R. al Syafi’i; al-Umm, 1:211)

 

KETERANGAN (PENJELASAN):

 

“Adapun Hadits ‘Ubaidillah, maka itu diriwayatkan oleh asy-Syafi’i dalam al-Umm dengan sanad yang dhaif, dan atas dasar kedhaifan itulah tidak dapat dijadikan dalil (adanya dua kali khutbah) menurut pendapat yang shahih, karena Ubaidillah itu adalah seorang Tabi’in.” (al-Majmû Syarah al Muhadzdzab, 5:22)

 

“Ubaidillah bin Abdillah itu adalah seorang tabi’in, sebagaimana engkau ketahui, oleh karenanya ucapan seorang tabi’in termasuk sunnah’ tidak dapat menjadi dalil, bahwasanya hal itu benar-benar (sederajat) sunnah Nabi sebagaimana yang telah ditetapkan dalam rumusan Ushul Fiqh.” (Nail al-Authâr, 3: 346)

 

“Setiap hadits yang menyatakan bahwa khutbah led itu dua kali dan khendaklah imam memisahnya dengan duduk, maka haditsnya itu dhaif”

 

Menurut Nawawi: “Tidak ada hadits yang shahih mengenai pengulangan khutbah sedikitpun.” (Figh al-Sunnah)

 

Dari Zabir, ia berkata: “Rasul pernah keluar pada hari raya ‘led al-Fitri dan eid al-Adha, beliau berkhutbah dengan berdiri, kemudian duduk satu kali lalu berdiri lagi (untuk khutbah kedua).” (H.R. Ibnu Majah, 1:409)

 

KETERANGAN (PENJELASAN):

 

pada hadits tersebut terdapat seorang yang bernama Sa’id bin Muslim. Para ulama sepakat menilai dhaif padanya, ditambah pula Abu Bahr itu dhaif” (H.R. Ibnu Mâjah, 1: 401)

 

Sedangkan berdasarkan hadits shahih khutbah ‘led itu hanya satu kali berdasarkan:

 

Dari Abi Sa’id, ia berkata: “Adalah Nabi keluar pada hari raya ‘led al-Fitri dan ‘eid al-Adha ke lapang, dan yang pertama ia lakukan adalah shalat, lalu Nabi berpaling dan berdiri menghadap orang-orang, sedangkan orang-orang tetap berada pada shafnya, kemudian Nabi menasehati, mewasiati dan memerintahnya. Dan apabila Nabi hendak mengirimkan pasukan atau memerintah sesuatu, ia langsung memerintah mereka, lalu berpaling.” (H.R. Bukhari dan Muslim; Nail al Authâr, 3: 344)

 

“Dalam hadits tersebut, ternyata tidak ada ketetangan yang menunjukan bahwa Nabi berkhutbah dua kali dan dipisah dengan duduk, lain halnya dengan khutbah jum’at.”

 

KESIMPULAN:

 

Dari keterangan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa;

 

  1. Khutbah ‘led, baik ied al-Fithri atau ‘eid al-Adha hanya satu kali khutbah.

 

  1. Hadits yang menyatakan 2 kali khutbah, hadits nya dhaif.

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB