Kh. Aceng Zakaria

 

  1. Dimana disyariatkan shalat ‘ied al-Fitri; di masjid atau di lapang?

 

Dalam pelaksanaan shalat ‘ied al-Fithri Nabi SAw memberikan contoh di lapang tidak di masjid.

 

Sebagaimana hadits di bawah ini:

 

Dan darinya (Abi Sa’id), ia berkata: “Adalah Rasul lullah SAW suka keluar pada hari ied al-Fithri dan led al-Adhha ke lapang, yang pertama ia lakukan adalah shalat, kemudian berpaling dan berdiri menghadap orang-orang, sedangkan orang-orang berada di shaf-shaf mereka, lalu Nabi memberikan nasihat serta menyampaikan perintah ke pada mereka.” (H.R. Bukhari dan Muslim; Subul al-Salam, 2:67)

 

Dari Ummi ‘Athiyyah r.a, ia berkata: “Kami kaum Ibu diperintahkan untuk mengeluarkan gadis-gadis dan perempuan menyaksikan kebaikan dan dakwah orang muslimin, sedang yang haid hendaklah menjauhkan diri di waktu shalat.” (H.R. Bukhari dan Muslim: Subul al-Salâm, 2: 65)

 

Karena pernyataan sayyidina ‘Ali: “Telah diriwayakin, bahwa ia keluar ke lapang untuk shalat led, ia mengatakan: “Andaikata hal itu (shalat led di lapang) bukan sunnah, tentu akan dilaksanakan di masjid.” (‘Aun al-Ma’bûd, 4 :24)

 

Asy-Syafi’i mengatakan: “Telah sampai kepada kami (hadits) bahwa Rasulullah SAW keluar untuk melakukan ‘ledaian ke lapangan di Madinah, demikian pula orang-orang (shahabat) setelah Nabi, umumnya penduduk negeri, kecuali penduduk Makkah, sungguh tidak sampai (berita) kepada kami bahwa ada salah seorang salaf (generasi terdahulu) melaksanakan shalat ied kecuali di masjid mereka (Masjidil Haram).” (al-Umm, 1: 207)

 

 Asy-Syafi’i berkata: “Kalau seandainya ada ‘udzur karena hujan atau yang lainnya, niscaya aku akan perintahkan untuk sholat ied di masjid dan tidak usah shalat di lapang.” (al-Umm, 1: 207)

 

Pendapat imam Malik: “Bahwa keluar ke lapang lebih utama sekalipun di masjid luas untuk menampung orang-orang. Adapun alasan mereka adalah kebiasaan Nabi melakukan hal itu/shalat ledakan di lapang dan tidak pernah Nabi shalat led di masjid kecuali karena alasan hujan dan tentu saja Nabi tidak melakukan serta membiasakan sesuatu kecuali karena hal itu yang lebih utama.”

 

Keterangan-keterangan tersebut di atas menunjukkan bahwa:

 

  1. Nabi SAW senantiasa melaksanakan shalat ‘led al-Fitri dan ‘led al-Adhha di mushalla yaitu lapang di sebelah timur Masjid Nabawi.

 

  1. Gadis-gadis dan perempuan yang haid pun dianjurkan untuk menghadiri pelaksanaan shalat ;Ied di lapang hanya saja yang haid tidak ikut melaksanakan shalat.

 

  1. Sayyidina ‘Ali mengatakan: “Andai shalat ied ini bukan sunnah di lapang tentu aku lakukan di masjid.”

 

  1. Imam Syafi’i sendiri mengakui bahwa Nabi dan para sahabat setelahnya melakukan shalat ied di lapang. Beliau sendiri menganjurkan untuk melaksanakan shalat ‘ied di lapang kecuali jika terjadi hujan.

 

  1. Imam Malik menyatakan bahwa shalat ‘ied itu lebih utama di lapang karena itulah yang di biasakan oleh Nabi dan tentunya Nabi tidak akan melaksanakan kecuali yang afdhal.

 

  1. Bagaimana kalau terjadi hujan apakah boleh Shalat ‘ied di mesjid ?

 

Hadits yang menyatakan bahwa Nabi shalat ‘ied di mesjid karena hujan, haditsnya dhaif. Karenanya ada yang berpendapat bahwa shalat ‘ied di mesjid itu bid’ah. Penulis berpendapat bahwa jika hujan lakukanlah shalat ‘ied di mesjid. Sekedar contoh, Nabi senantiasa melaksanakan shalat jum’at di mesjid, tidak di lapang. Nah bagaimana kalau tidak ada mesjid yang dekat, apakah boleh shalat jum’at di kantor atau di bangsal sekolah atau di halaman ? Atau tidak usah jum’at karena tidak ada mesjid ? Kemudian Nabi pernah memerintahkan agar shalat jum’at di tempatnya masing-masing karena hujan, Nabi tidak suka melaksanakan jum’at dalam keadaan kotor atau becek (karena mesjid Nabawi waktu itu belum pakai atap).

 

Nah kalau kondisi sekarang di kita, apakah boleh juga shalat jum’at masing-masing di rumah karena hujan? Tentu saja tidak karena kondisi mesjidnya sekarang berbeda dengan mesjid di zaman Nabi.

 

  1. Shahihkah takbir Shalat led dengan 7 +5 takbir ?

 

Hadits takbir dalam Shalat led dengan 7 kali takbir

 

di raka’at pertama dan lima kali takbir di raka’at kedua adalah sebagai berikut:

 

“Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami ayahku (imam Ahmad), telah menceritakan kepada kami Waki’ telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman ath-Thâifi, ia mendengar dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya (Syu’aib) dari kakeknya, bahwa Nabi bertakbir dalam (shalat) hari raya 12 (dua belas) kali takbir, 7 (tujuh) di raka’at pertama dan 5 (lima) di raka’at kedua. Nabi tidak shalat sebelumnya dan sesudahnya. Menurut ayahku (imam Ahmad) aku berpegang dengan hadits ini.” (H.R. Ahmad; al-Musnad, 1: 141)

 

“Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir, ia berkata: “Aku mendengar Abdullah bin Abdurrahman ath-Thâifi menceritakan dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari ‘Abdullah bin Amr al-Ash, ia berkata bahwa Nabi telah bersabda bahwa takbir dalam shalat ‘ied al-Fithri adalah tujuh kali di raka’at pertama dan lima kali di raka’at akhir, sesudah itu beliau membaca al-Fatihah pada kedua raka’at tersebut.” (H.R. Abu Dawûd, 1: 262)

 

Kedudukan haditsnya:

 

menurut Ahmad Muhammad Syakir: “Sanad hadits itu shahih.” (al-Musnad, 10:216)

 

Menurut ayahku (imam Ahmad): “Aku berpegang kepada hadits ini.” (al-Musnad, 10:216)

 

Menurut al-‘Iraqi: “Sanadnya shahih.” (Nail al Authar, 3: 338)

 

Kemudian Mushannif mengatakan: “Walhasil, hadits ‘Abdullah bin ‘Amr itu Hasan, dapat dijadikan hujjah serta didukung oleh hadits-hadits yang telah disyaratkan oleh Tirmidzi dan hadits-hadits yang telah kami terangkan.” (Tuhfah al-Ahwadzi, 3:85)

 

” Hadits itu juga telah dikeluarkan oleh Ahmad, Ali al-Madini dan keduanya telah menshahihkan hadits tersebut.” (Subul al-Salâm, 2:68)

 

Menurut al-Hafizh Ibnu ‘Abdi al-Bar: “Bahwasanya telah diriwayatkan dari Nabi melalui beberapa jalan/periwayatan yang hasan, bahwa Nabi ber takbir dalam shalat ‘ledain 7 kali di raka’at pertama, dan 5 kali di raka’at kedua… dan tidak di riwayatkan baik melalui jalan dhaif maupun shahih selain ini. Dan inilah yang paling utama untuk diamalkan.” (Fiqh al-Sunnah, 2: 263)

 

Menurut Bukhari: “Aku melihat Ahmad bin Hanbal “Ali bin al-Madani, Ishaq bin Rahawaih, Abu Ubaidah serta umumnya sahabat kami, menjadikan hujjah atas hadits Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, tidak ada seorang muslim pun meninggalkannya. Menurut Bukhari; siapa lagi selain mereka?” (Alfiyah al-Suyuthi, hal: 247)

 

“Kemudian Bukhari memutuskan sah hadits riwayat ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya.” (Alfiyah al-Suyûthi)

 

Dengan keterangan tersebut di atas jelaslah bahwa hadits takbir 7 dan 5 dalam shalat ‘ledain adalah hadits shahih. (Untuk lebih jelasnya silahkan baca buku al-Hidayah jilid 3)

 

  1. Apakah hitungan Takbir 7 kali di rakaat pertama termasuk takbiratul ihram atau tidak ?

 

Dalam hadits tersebut dinyatakan Nabi bertakbir 7 kali di raka’at pertama dan 5 kali di rakaat akhir. Ini berarti, 7 kali takbir itu sudah termasuk takbiratul ihram karena kalau tidak termasuk takbiratul ihram berarti hitungannya jadi 8 kali.

 

Memang imam syafi’i berpendapat bahwa takbir itu tidak termasuk takbiratul ihram. Demikian juga, apakah hitungan takbir 5 kali di raka’at kedua sudah termasuk takbir intiqal atau tidak?

 

Dalam hal ini juga ada perbedaan pendapat dalam menghitung 5 kali di raka’at kedua. Ada yang berpendapat termasuk takbir intiqal ada juga yang berpendapat tidak termasuk takbir intiqal. Karena takbir intiqal sudah dilakukan sejak bangkit dari sujud ditambah pula takbir intiqal itu tidak dengan mengangkat tangan sedangkan takbir ‘ied dengan mengangkat tangan.

 

  1. Bagaimana jika lupa takbir 7 di raka’at pertama?

 

Para ulama telah sepakat jika lupa takbir 7 kali di raka’at pertama tidak usah sujud sahwi. Demikian juga jika lupa takbir yang 5 kali di raka’at kedua, karena tidak ada dalil yang mengharuskan sujud sahwi dan shalatnya tetap dianggap sah.

 

  1. Mestikah mengangkat tangan dalam setiap kali takbir ?

 

Dalam hal ini ada keterangan sebagaimana di bawah ini:

 

“Adalah Ibnu Umar -yang demikian kuat perhatiannya untuk mencontoh Nabi- ia mengangkat kedua tangannya dalam setiap kali takbir.” (Subul al-Salâm, 2:69) 

 

KETERANGAN:

Berdasarkan keterangan di atas, yaitu amal Ibnu ‘Umar dan tidak ada sahabat lain yang menegurnya. Maka pelaksanaan takbir yang tujuh dan yang lima itu semua dengan mengangkat kedua tangan. Adapun mereka yang berpendapat tidak mengangkat tangan, kecuali yang pertama saja, itu tidak mempunyai dasar yang kuat, baik dari Nabi maupun amal shahabat.

 

  1. Apa yang dibaca antara takbir dengan takbir ?

 

Ada yang berpendapat bahwa diantara takbir dengan takbir itu dianjurkan dengan membaca hamdalah dan shalawat kepada Nabi sebagaimana keterangan di bawah ini:

 

“Bahkan (tetapi) al-Khalal telah menceritakan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia mengatakan agar memuji Allah dan menyanjung-Nya, juga membaca shalawat kepada Nabi (di antara takbir dengan takbir).”

 

Imam Ahmad dan asy-Syafi’i telah menganjurkan, bahwa pemisahan antara takbir dengan takbir ialah berdzikir kepada Allah, seperti membaca; SUBHÂNA ALLAHU WA AL-HAMDU LI ALLAHI WA LÂ ILÂHA ILLA ALLAHU WA ALLAHU AKBARU.” (Fiqh al-Sunnah, 2: 264)

 

JAWABAN:

 

Menurut Ibnu Qayyim: “Tidak diriwayatkan dari Nabi ada/terdapat bacaan yang khusus di antara takbir dan takbir.” (Hadyu al-Rasûl, hal: 84)

 

Menurut Abu Hanifah dan Malik: “Hendaklah bertakbir dengan berturut-turut tanpa terpisahkan antara takbir dan takbir dengan bacaan apapun.” (Figh al-Sunnah, 2: 264)

 

  1. Kapan membaca doa iftitah; apakah setelah takbir pertama atau takbir ke-7 ?

 

Dalam satu hadits dinyatakan bahwa saat membaca do’a iftitah itu adalah antara takbir dan membaca al-Fatihah. Dengan demikian, maka membaca do’a iftitah dalam shalat ‘led adalah setelah takbir ke-7 tetapi kadang-kadang imamnya juga lupa untuk membaca do’a iftitah.

 

  1. Bolehkah yang haid ikut menyemarakan ‘led ?

 

Dari Ummi ‘Athiyyah r.a, ia berkata: “Kami kaum ibu diperintahkan untuk mengeluarkan gadis-gadis dan perempuan haid untuk shalat ‘ledain; untuk menyaksikan kebaikan dan dakwah orang muslimmin, sedang yang haid hendaklah menjauhkan diri di waktu shalat.” (H.R. Bukhâri dan Muslim: Subul al-Salâm, 2:65)

 

Hadits ini menunjukkan bahwa perempuan yang haid pun dianjurkan untuk ikut hadir di lapang menyaksikan pelaksanaan led, ikut bertakbir dan dakwah umat Islam. Hanya saja yang haid tidak ikut melaksanakan shalatnya.

 

  1. Bagaimana pelaksanaan khutbah idain. Apakah satu kali atau dua kali khutbah ?

 

Ada yang berpendapat bahwa khutbah ‘led itu dua kali. Hal ini berdasarkan keterangan di bawah ini:

 

Dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, ia berkata: “Menurut sunnah, hendaklah imam itu berkhutbah dalam shalat ledain dengan dua kali khutbah yang dipisah dengan duduk.” (H.R. al Syafi’i; al-Umm, 1:211)

 

KETERANGAN (PENJELASAN):

 

“Adapun Hadits ‘Ubaidillah, maka itu diriwayatkan oleh asy-Syafi’i dalam al-Umm dengan sanad yang dhaif, dan atas dasar kedhaifan itulah tidak dapat dijadikan dalil (adanya dua kali khutbah) menurut pendapat yang shahih, karena Ubaidillah itu adalah seorang Tabi’in.” (al-Majmû Syarah al Muhadzdzab, 5:22)

 

“Ubaidillah bin Abdillah itu adalah seorang tabi’in, sebagaimana engkau ketahui, oleh karenanya ucapan seorang tabi’in termasuk sunnah’ tidak dapat menjadi dalil, bahwasanya hal itu benar-benar (sederajat) sunnah Nabi sebagaimana yang telah ditetapkan dalam rumusan Ushul Fiqh.” (Nail al-Authâr, 3: 346)

 

“Setiap hadits yang menyatakan bahwa khutbah led itu dua kali dan khendaklah imam memisahnya dengan duduk, maka haditsnya itu dhaif”

 

Menurut Nawawi: “Tidak ada hadits yang shahih mengenai pengulangan khutbah sedikitpun.” (Figh al-Sunnah)

 

Dari Zabir, ia berkata: “Rasul pernah keluar pada hari raya ‘led al-Fitri dan eid al-Adha, beliau berkhutbah dengan berdiri, kemudian duduk satu kali lalu berdiri lagi (untuk khutbah kedua).” (H.R. Ibnu Majah, 1:409)

 

KETERANGAN (PENJELASAN):

 

pada hadits tersebut terdapat seorang yang bernama Sa’id bin Muslim. Para ulama sepakat menilai dhaif padanya, ditambah pula Abu Bahr itu dhaif” (H.R. Ibnu Mâjah, 1: 401)

 

Sedangkan berdasarkan hadits shahih khutbah ‘led itu hanya satu kali berdasarkan:

 

Dari Abi Sa’id, ia berkata: “Adalah Nabi keluar pada hari raya ‘led al-Fitri dan ‘eid al-Adha ke lapang, dan yang pertama ia lakukan adalah shalat, lalu Nabi berpaling dan berdiri menghadap orang-orang, sedangkan orang-orang tetap berada pada shafnya, kemudian Nabi menasehati, mewasiati dan memerintahnya. Dan apabila Nabi hendak mengirimkan pasukan atau memerintah sesuatu, ia langsung memerintah mereka, lalu berpaling.” (H.R. Bukhari dan Muslim; Nail al Authâr, 3: 344)

 

“Dalam hadits tersebut, ternyata tidak ada ketetangan yang menunjukan bahwa Nabi berkhutbah dua kali dan dipisah dengan duduk, lain halnya dengan khutbah jum’at.”

 

KESIMPULAN:

 

Dari keterangan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa;

 

  1. Khutbah ‘led, baik ied al-Fithri atau ‘eid al-Adha hanya satu kali khutbah.

 

  1. Hadits yang menyatakan 2 kali khutbah, hadits nya dhaif..

 

  1. Mestikah memulai khutbah ‘led dengan takbir ?

 

Memang ada yang berpendapat bahwa memulai khutbah ‘ledain itu harus dengan takbir. Khutbah pertama dimulai dengan 9 kali takbir, khutbah ke dua dengan 7 kali takbir. Hal ini berdasarkan hadits di bawah ini:

 

Dari ‘Ubaidllah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah, ia berkata: “Menurut sunnah, takbir pada hari raya led al-Fitri dan ‘eid al-Adha itu, di atas mimbar sebelum khutbah, dimana imam memulai (takbir) sebelum berkhutbah, sedangkan ia berdiri di atas mimbar, dengan 9 kali takbir berturut-turut tanpa dipisah di antara keduanya oleh kata-kata (apa pun), lalu berkhutbah, kemudian duduk satu kali, lalu berdiri untuk khutbah kedua dan memulainya dengan 7 kali takbir bertutrut-turut tanpa dipisah oleh kata-kata atau apapun, kemudian berkhutbah.” (al-Umm, 1:211)

 

Dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah: “Sunnahnya, seyogianya khutbah itu dimulai 9 kali takbir dengan berturut-turut dan khutbah kedua 7 kali takbir dengan berturut-turut.” (H.R. Baihaqi: Nail al-Authar, 3: 246)

 

“Ubaidillah tersebut adalah salah seorang ahli fiqh di kalangan tabi’in, sedangkan ucapan seorang tabi’in “termasuk sunnah” belum pasti benar-benar termasuk sunnah Nabi” (Nail al-Authar, 3:246)

 

Menurut Ibnu Qayyim: “Adapun ucapan kebanyakan ahli fiqih bahwa khutbah istisqa hendaklah di mulai dengan istighfar, dan khutbah idain dengan takbir, itu tidak berdasarkan sunnah dari Nabi.

 

Sama sekali, justru sunnahnya itu adalah sebaliknya, yaitu memulai semua khutbah dengan hamdalah.” (Nail al-Authar, 3:347; zad al-Ma’ad)

 

  1. Mestikah dalam Khutbah ‘led membacakan takbir di sela-sela khutbah ?

 

Dalam pelaksanaan khutbah ‘led dianjurkan dengan bertakbir di sela-sela khutbah. Hal ini berdasarkan keterangan di bawah ini: 

 

Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Ammar, telah menceritakan kepada kami ‘Abdur rahman bin Sa’ad bin ‘Ammar al-Muadzdzin, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata: “Adalah Nabi SAW suka bertakbir di antara sela-sela khutbah, beliau memperbanyak takbir dalam khutbah ledain.” (H.R. Ibnu Mâjah, 1:459)

 

MASALAH:

 

“Pada hadits termaksud ada orang yang bernama Abdurrahman bin Sa’ad bin ‘Ammar, sedangkan ‘Abdurrahman itu dhaif.” (Nail al-Authâr, 3: 346)

 

JAWABAN (ANALISIS):

 

“Ya! la telah dinyatakan dhaif oleh seseorang, tetapi ia (yang mendhaifkan) tidak menjelaskan kedhaifannya, sementara yang lain menyatakan tsiqat kepadanya.”

 

“Abdurrahman bin Sa’ad, ia (rawi Ibnu Majah) bin Ammar bin sa’ad al-Quradhi tidak apa-apa. Ibnu ‘Adi telah meriwayatkan hadits dari ayahnya. (Mizan al- I’tidal, 2 : 566)

 

“Dalam Sunan Ibnu Majah tidak terdapat orang yang mendhaifkannya.”

 

Menurut Ibnu Qayyim: “Adalah Nabi memulai seluruh khutbahnya dengan hamdalah, dan tidak diriwayatkan dari Nabi satu pun hadits yang menyatakan bahwa Nabi memulai khutbah led dengan takbir, ada juga Ibnu Majah meriwayatkan dalam sunnannya (hadits) dari Sa’id muadzdzin Nabi SAW, bahwa Nabi suka bertakbir di antara sela-sela khutbah dan memperbanyak takbir dalam khutbah ‘ledain.” (Fiqh al-Sunnah, 1: 322)

 

  1. Bagaimana ucapan tahniah led al-Fithri?

 

Dalam mengucapkan tahniah ‘led al-Fitri disyariat kan dengan ucapan:

 

Atau;

 

تقبل ال له ما ومنك.

 

Atau

 

تقبل الله منا ومنكم.

 

Hal ini didasarkan hadits di bawah ini: 

 

Dari Zubair bin Nufair, ia berkata: “Adalah shaha bat Rasulullah SAW apabila mereka bertemu pada hari raya, mereka suka mengucapkan; “Semoga Allah menerima ibadah kami dan kalian.” (Fathu al-Bâri, 2: 446; al-Sunan al-Kubrâ, 3: 319)

 

Kemudian jawabannya pun sama saja, yaitu dengan ucapan:

 

تقبل الله منا ومنكم

 

Ucapan tahniah tersebut dapat disampaikan tidak hanya pada hari raya saja tetapi bisa saja di hari-hari berikutnya yang masih dalam suasana led al-Fitri. Adapun ucapan:

 

من العائدين والفائزين

 

Wallahu A’lam darimana asalnya dan siapa yang pertama menganjurkannya ?

 

  1. Bolehkah bersalam-salaman (Mushafahah) antara laki-laki dengan perempuan lain?

 

Di masyarakat kita di Indonesia pada umumnya masih membudaya bersalam-salaman antara laki laki dengan perempuan lain yang bukan mahram.

 

Padahal Nabi dan shahabatnya tidak pernah bermushafahah dengan perempuan lain yang bukan mahramnya. Perhatikan hadits-hadits di bawah ini:

 

Dari Umaimah binti Raqiqah, ia berkata: “Aku datang kepada Nabi beserta istri-istri orang Anshar, kami hendak berbai’at kepada Nabi, kami berkata: “Allah dan Rasulnya lebih menyayangi kami. Ya Rasulullah! -marilah- kami akan berbai’at kepadamu (menyodorkan tangan untuk berjabat). Maka Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya aku tidak bersalaman dengan perempuan, sebenarnya ucapanku kepada seratus perempuan sama saja seperti ucapanku terhadap seorang perempuan.” (H.R. al-Nasa’i, 7:134)

 

Ibnu Syihab telah berkata: “Telah menceritakan kepadaku Urwah bin Zubair, bahwa Aisyah istri Nabi berkata: “Adalah Rasulullah SAW apabila mereka (perempuan) telah iqrar (mengucapkan bai’at), Nabi bersabda kepada mereka: “Pergilah! Sungguh kami telah membai’at kamu. Demi Allah! Tidaklah tangan Rasul Allah pernah menyentuh tangan seorang perempuan, hanya saja Nabi membai’at mereka dengan ucapan. Aisyah berkata: “Demi Allah! Rasul Allah tidak mengambil/ mengangkat (bai’at) kepada perempuan kecuali dengan apa yang telah diperintahkan Allah, dan tidaklah tangan Nabi pernah menyentuh telapak tangan perempuan (yang tidak halal). Adalah Nabi jika mengambil/mengangkat bai’at atas mereka, cukup dengan mengatakan: “Aku telah membai’at kamu dengan ucapan.” (H.R. Muslim, 2: 142)

 

Nabi telah bersabda: “Sungguh jika ditusuk kepala kamu dengan jarum dari besi, itu lebih baik dari pada menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya.” (H.R. al-Thabrani)

 

Rasulullah SAW telah bersabda: “Sungguh jika seorang laki-laki berdesakkan dengan seekor babi yang penuh dengan tanah dan lumpur, itu lebih baik baginya daripada berdesakkan pundaknya dengan pundak seorang perempuan yang tidak halal.” (H.R. al-Thabrani)

 

  1. Bagaimana jika kebetulan ‘led jatuh pada hari jum’at ?

 

Dalam hal ini ada dua pendapat, yaitu:

 

  1. Pihak yang berpendapat ada rukhshah jum’at

 

  1. Pihak yang berpendapat tidak ada rukhshah jum’at.

 

Alasan pendapat yang menetapkan rukhshah.

 

Alasan pertama:

 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir, telah menceritakan kepada kami Israil, telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin al Mughirah dari ‘lyas bin Abi Ramlah asy-Syâmi, ia berkata: “Aku menyaksikan Mu’âwiyah bin Abi Sufyan, ia bertanya kepada Zaid bin Arqam:

 

“Apakah engkau pernah menyaksikan bersama Rasulullah dua led (jum’at dan ‘led) bersamaan pada satu hari? la menjawab: Ya !, bertanya lagi: “Bagaimana yang diamalkan Nabi pada hari itu?” la menjawab: “Beliau shalat led kemudian memberikan rukshah (keringanan) seraya berkata: “Siapa yang hendak shalat jum’at, maka shalat lah.” (H.R. Abu Dawûd; ‘Aun al-Ma’bûd, 3: 407, al Fath al-Rabbâni, 2: 32; al-Nasa’i, 3: 158; Ibnu Mâjah, 1:415; al-Mustadrak, 1: 288)

 

Hadits ini mendapatkan kritikan dari segi sanadnya dimana ada rawi yang bernama Israil dan lyas bin Abi Ramlah yang dinilai dhaif. Dalam hal ini para imam ahli hadits menyimpulkan sebagai berikut:

 

“Tidak demikian (halnya) hadits itu sebenarnya shahih, sebagian ulama menganggap illat terhadap hadits itu disebabkan iyas bin Abi Ramlah itu majhul, sebenarnya Israel itu dapat dipercaya dan dapat dijadikan hujjah, ditambah pula hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Hakim dan dinyatakan shahih olehnya serta adz-Dzahabi.” (Catatan kaki al-Muhalla, 3: 89)

 

“Hadits Zaid bin Arqam dikeluarkan juga oleh Nasâi dan al-Hakim, dan dinyatakan shahih oleh Ali bin al-Madini.” (Nail al-Authâr, 3: 321)

 

“Ini adalah hadits yang shahih sanadnya, tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. (Menurut ku hadits itu telah ditetapkan (keshahihhannya) oleh adz-Dzahabi).” (al-Fathu al-Rabbâni, 6:32)

 

Walhasil hadits Zaid bin Arqam itu shahih, dapat dijadikan hujjah, banyak para ulama menshahihkannya, sementara yang menyatakan dhaif, tidak menjelaskan kedhaifannya, baik terhadap Israel maupun terhadap lyas bin Abi Rahmah.”

 

Hadits ini juga mendapatkan kritikan dari segi sanad-nya yaitu ada rawi yang bernama Baqiyyah yang dinilai mursal.

 

Dalam hal ini para ulama ahli hadits menyimpulkan sebagai berikut:

 

“Dia (Baqiyyah) termasuk rijal Muslim, buktinya dalam Mizân al-l’tidal ditulis dengan rumus/kode; C yang berarti rijal Muslim dan imam yang empat.” (Mizan al-I’tidal)

 

Menurut Hakim: “Hadits ini shahih, menurut syarat shahih Muslim, karena Baqiyyah bin Walid tidak diperselisihkan mengenal kejujurannya apa bila ia meriwayatkan dari orang-orang termashur.”

 

“Kesimpulan akhir dari sekian banyak pendapat serta penilaian terhadap Baqiyyah adalah bahwa hadits Baqiyyah itu shahih dapat dijadikan hujjah, karena Baqiyyah dalam hadits ini meriwayatkan dengan menggunkan lafazh; SANAD/HADDATSANA (telah menceritakan kepada kami), dan dia meriwayatkan dari orang-orang terkenal (Syu’bah) dan keshahihan hadits tersebut telah dikuatkan oleh adz-Dzahabi. (pengarang Mizan al-I’tidal al Mughni fi adh-Dhu’afa) dengan pernyataannya, bahwa hadits itu shahih gharib.”

 

Dengan keterangan tersebut di atas maka hadits hadits yang menyatakan ada rukhsah jum’at haditsnya shahih dan dapat dijadikan hujjah.

 

Kesimpulan ulama para ahli hadits:

 

Menurut asy-Syaukani: “Hadits itu menunjukan bahwa shalat jum’at di hari raya itu boleh diting galkan.” (Nail al-Authâr, 3: 321)

 

“Hadits itu menunjukan bahwa shalat jum’at setelah shalat ‘ied itu adalah rukhshah, boleh di laksanakan boleh (pula) ditinggalkan, dan itu khusus bagi orang yang melaksanakan shalat led, dan tidak bagi orang yang tidak melaksanakan led.” (Aun al-Ma’bad, 3:407)

 

Menurutku (ash-Shan’ani): “Hadits Zaid bin Arqam itu telah dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan tidak ada orang yang mencelanya, maka hadits itu dapat dijadikan takhsis, karena hadits hadits yang umum dapat di takhsis dengan hadits ahad.” (Subul al-Salâm, 2:52)

 

Menurut Sayyid Sabiq: “Apabila bertepatan hari jum’at dengan hari raya, maka gugurlah jum’at bagi orang yang telah melaksanakan shalat led.” (Fiqh al-Sunnah, 1: 216)

 

  1. Wajibkah shalat zhuhur bagi orang yang Shalat led tetapi tidak shalat jum’at ?

 

Dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa orang yang telah shalat ‘led tetapi tidak shalat jum’at maka ia tidak mesti shalat zhuhur, mengingat hadits di bawah ini:

 

Dari Ibnu Juraij ia berkata, ‘Atha telah berkata: “Telah terjadi bersamaan hari jum’at dengan hari raya led al-Fitri di zaman Ibnu Zubair, maka Ibnu Zubair berkata: “Telah terjadi bertepatan dua led pada satu hari, lalu beliau menyatukan keduanya dengan shalat dua raka’at di pagi hari. Beliau tidak menambah lagi (shalat) sampai shalat ashar.” (H.R. Abu Dawud)

 

Ungkapan; “Tidak menambah lagi (shalat) sampai shalat Ashar”, menurut zhahirnya hadits tersebut (menunjukan) bahwa beliau tidak shalat zhuhur.

 

Menurut Hakim: “Hadits ini shahih, menurut syarat shahih Muslim, karena Baqiyyah bin Walid tidak diperselisihkan mengenai kejujurannya apabila ia meriwayatkan dari orang-orang termashur.”

 

Kesimpulan akhir dari sekian banyak pendapat serta penilaian terhadap Baqiyyah adalah bahwa hadits Baqiyyah itu shahih dapat dijadikan hujjah, karena Baqiyyah dalam hadits ini meriwayatkan dengan menggunkan lafazh; SANAD/HADDATSANA (telah menceritakan kepada kami), dan dia meriwayatkan dari orang-orang terkenal (Syu’bah) dan keshahihan hadits tersebut telah dikuatkan oleh adz-Dzahabi (pengarang Mizan al-i’tidal al Mughni fi adh-Dhu’afa) dengan pernyataannya, bahwa hadits itu shahih gharib.”

 

Dengan keterangan tersebut di atas maka hadits hadits yang menyatakan ada rukhsah jum’at haditsnya shahih dan dapat dijadikan hujjah.

 

Kesimpulan ulama para ahli hadits:

 

Menurut asy-Syaukani: “Hadits itu menunjukan bahwa shalat jum’at di hari raya itu boleh ditinggalkan.” (Nail al-Authâr, 3:321)

 

“Hadits itu menunjukan bahwa shalat jum’at setelah shalat ied itu adalah rukhshah, boleh di laksanakan boleh (pula) ditinggalkan, dan itu khusus bagi orang yang melaksanakan shalat led, dan tidak bagi orang yang tidak melaksanakan led.” (Aun al-Ma’bad, 3:407)

 

Menurutku (ash-Shan’âni): “Hadits Zaid bin Arqam itu telah dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah dan tidak ada orang yang mencelanya, maka hadits itu dapat dijadikan takhsis, karena hadits hadits yang umum dapat di takhsis dengan hadits ahad.” (Subul al-Salâm, 2:52)

 

Menurut Sayyid Sabiq: “Apabila bertepatan hari jum’at dengan hari raya, maka gugurlah jum’at bagi orang yang telah melaksanakan shalat led.” (Figh al-Sunnah, 1: 216)

 

  1. Wajibkah shalat zhuhur bagi orang yang Shalat ‘led tetapi tidak shalat jum’at ?

 

Dalam hal ini ada dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa orang yang telah shalat ‘led tetapi tidak shalat jum’at maka ia tidak mesti shalat zhuhur, mengingat hadits di bawah ini:

 

Dari Ibnu Juraij ia berkata, ‘Atha telah berkata:

 

“Telah terjadi bersamaan hari jum’at dengan hari raya ‘led al-Fitri di zaman Ibnu Zubair, maka Ibnu

 

Zubair berkata: “Telah terjadi bertepatan dua led

 

pada satu hari, lalu beliau menyatukan keduanya dengan shalat dua raka’at di pagi hari. Beliau tidak menambah lagi (shalat) sampai shalat ashar.”

 

(H.R. Abu Dawûd)

 

قوله لم يزد عليهما العصر، ظله لم يصل الظهر فيه أن الجمعة إذا سقطت بوجه من الوجوه المسوغة لم يجب على من سقط عنه أن يصلى الظهر

 

Ungkapan; “Tidak menambah lagi (shalat) sampai shalat Ashar”, menurut zhahirnya hadits tersebut (menunjukan) bahwa beliau tidak shalat zhuhur.

 

Hadits ini menunjukan bahwa apabila jum’at gugur dengan cara-cara yang dibenarkan (agama), maka bagi yang gugur jum’at itu -tentu tidak wajib shalat zhuhur.”

 

itu

 

قال عطاء: تسقظ الجمعة والله ما في ذلك اليوم فلا صلاة بعد العيد إلا العصر. عون

 

Menurut ‘Atha: “Jum’at dan zhuhur itu keduanya gugur pada hari itu, maka tidak ada lagi shalat setelah shalat ‘led, kecuali shalat Ashar.” (‘Aun al

 

Ma’bud, 3: 409)

 

Pendapat kedua tetap menyatakan wajib zhuhur, mengingat hadits di bawah ini:

 

Dari ‘Atha bin Abi Rabah ia berkata: “Ibnu Zubair telah shalat bersama kami pada hari raya di hari jum’at pagi hari kemudian kami pergi jum’at, akan tetapi Ibnu Zubair tidak keluar, lalu kami shalat sendiri-sendiri, sedang Ibnu Abbas waktu itu berada di Thaif. Ketika dia datang, kami cerita kan hal itu kepadanya, lalu ia menjawab, bahwa hal itu cocok dengan sunnah.” (H.R. Abu Dâwûd)

 

قل )الصنعاني(: ولاً يخفي أن عطاء أخبر أه لم يخرج ابن البير لصلاة الجمعة وليس ذلك بن قاطع أنه لم يصل الظهر في منزله.

 

Menurut (ash-Shan’âni): “Tidak samar lagi bahwa keterangan Atha yang menerangkan tentang Ibnu Zubair tidak keluar untuk shalat jum’at, -itu- tidak berarti dalil yang pasti bahwa Ibnu Zubair tidak shalat di rumahnya.”

 

Maka yang pasti (jelas) bahwa pendapat Ibnu Zubair ialah gugur shalat zhuhur pada hari jum’at.

 

karena merupakan perayaan bagi orang-orang vang shalat led-. Dengan dasar ini, hal itu tidak benar, sebab mungkin saja ia shalat zhuhur di rumahnya, bahkan dalam hadits Atha itu sendiri menerangkan bahwa mereka shalat sendiri-sen diri, yakni shalat zhuhur. Hal ini memberi penger.

 

tian bahwa tidak ada yang berpendapat gugur (shalat) zhuhur, dan tidak bisa diartikan bahwa mereka shalat jum’at sendiri-sendiri, karena shalat jum’at itu tidak boleh/tidak sah kecuali dengan berjama’ah.” (Subul al-Salâm, 2:53)

 

KESIMPULAN:

 

  1. Apabila kebetulan bertepatan hari jum’at dengan hari raya, maka bagi yang telah melaksanakan shalat ‘ied, boleh tidak melaksanakan shalat jum’at.

 

  1. Hadits-hadits yang menyatakan adanya rukhsah jum’at adalah hadits yang shahih menurut para ulama ahli hadits.

 

  1. Mereka yang menyatakan dhaif terhadap hadits hadits tersebut tidak berdasarkan alasan-alasan

 

yang kuat.

 

  1. Adanya rukhsah jum’at telah diakui oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Utsman serta Ibnu Zubair.

 

  1. Orang yang menyatakan tidak ada rukhsah dalam jum’at dengan sebab/alasan tidak mungkin yang wajib gugur oleh yang sunat, itu tidak kuat

 

Buktinya mendengarkan khutbah jum’at itu wajib sedang shalat tahiyatul masjid sunnat. Ternyata Nabi menyuruh seseorang untuk shalat tahiyat tul masjid pada waktu Nabi sedang berkhutbah, atau dalam perjalanan dibolehkan membatalkan puasa padahal puasa itu wajib sedangkan be pergian itu mubah . .

 

  1. Mereka (laki-laki) yang tidak sempat melakukan kan shalat ‘ied tetap wajib melaksanakan shalat jum’at

 

  1. Yang lebih utama adalah melaksanakan ‘led dan jum’at karena itulah yang diamalkan oleh Nabi.

 

  1. Mereka yang tidak melaksanakan shalat jum’at karena telah melaksanakan shalat ‘ied (menurut hemat penulis) tetap wajib melaksanakan shalat zhuhur, mengingat terdapat hadits yang menya takan; “Kami shalat sendiri-sendiri.”

 

  1. Ibnu Zubair yang tidak melaksanakan shalat jum’at, tidak berarti tidak melaksanakan shalat zhuhur di rumahnya.

 

  1. Pernyataan bahwa Ibnu Zubair tidak menambah lagi shalat sampai dengan shalat ashar, itu bukan pernyataan Ibnu Zubair sendiri, tetapi dugaan dan perkiraan orang lain (‘Atha) terhadap Ibnu Zubair.

 

Demikianlah jawaban dari masalah-masalah yang

 

erat kaitannya dengan ibadah Shaum Ramadhan.

 

Mudah-mudahan ibadah Shaum kita dan ibadah ibadah yang lainnya diterima di sisi Allah SWT dan mudah-mudahan Allah SWT mengampuni segala dosa dan kesalahan kita, Amin.

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB