Oleh: Ust. Abdul Rohman, S.Ag

(Dai Persis Ambon-Maluku)

Gempa bumi yang diakibatkan pergeseran lempeng tektonik atau diistilahkan dengan gempa tektonik sebesar 6,8 SR telah menimpa kota Ambon dan sekitarnya pada tanggal 26 September 2019. Menurut info resmi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa gempa ini terjadi pada pukul 08:46:45 WIT, lok: 3.38 LS, 128.43 BT (40 KmTimur Laut Ambon-Maluku) pada kedalaman 10 KM dan tidak berpotensi tsunami. Pada waktu tersebut akibat yang di timbulkan tercatat ada 23 orang meninggal dunia, 107 orang luka-luka 25.000 orang mengungsi, 3 rumah ibadah rusak, 534 rumah warga rusak, 1 pasar terdampak, 3 kantor pemerintahan rusak, 4 sekolah rusak, 1 jembatan rusak dan 1 ruas jalan rusak. Akibat dari peristiwa ini sangat di rasakan sekali oleh masyarakat setempat, bahkan mereka schok (kaget) dan tak berpikir panjang untuk menyelamatkan diri, seperti yang dituturkan oleh salah satu warga Ambon yang di tulisnya dalam akun twitter resminya, dia mengatakan: “semuanya dah keburu panik dan mengungsi ke tempat tinggi. Gak bawa apa-apa, tapi mereka gendong bayi mereka sama anak-anaknya yang masih kecil—menyelamatkan diri”. Memang dampaknya sangat terasa sekali oleh masyarakat, banyak rumah mereka yang hancur berat atau ringan, sekolah dan bangunan lainnya sebagaimana yang tercatat diatas.

Gempa tersebut tidak berakhir pada waktu itu saja, melainkan pada hari-hari berikutnya sering terjadi gempa susulan walaupun getarannya dibawah besarnya getaran yang pertama kali terjadi, bahkan tercatat sampai tanggal 04 Oktober BMKG menyatakan sudah terjadi 1000 kali gempa susulan. Kejadian ini sangat berdampak sekali bagi masyarakat Ambon, mengingat mereka pasca terjadi gempa pertama tidak ada yang berani tinggal atau tidur di dalam rumah, karena getaran gempa selalu mengancam tiap detik. Semua masyarakat yang berada kisaran pantai semuanya memilih untuk mengungsi ke dataran yang paling tinggi sebagai antisipasi jika terjadi gempa yang disertai dengan tsunami. Gempa ini bukan hanya di rasakan oleh masyarakat Ambon saja melainkan oleh kabupaten tetangganya, seperti Maluku tengah dan Seram Bagian Barat juga ikut merasakan.

Di samping dampak yang dirasakan oleh masyarakat luas, dampak tersebut juga dirasakan oleh siswa/siswi MA Al-Muluuk Persis Maluku yang bertempatkan di Dusun Telaga Kodok, Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. Pada waktu kejadian tersebut berlangsung, mereka sedang melaksanakan proses belajar, dan ketika getaran terasa mereka segera berhamburan keluar menyelamatkan diri masing-masing dari kelas, sehingga ada beberapa siswa/I yang terluka kakinya akibat terinjak oleh teman sekelasnya. Semuanya sontak kaget dan berkumpul di halaman luas sekolah, dan pada akhirnya proses belajar mengajarpun di hentikan dan semua siswa/I di pulangkan ke rumah masing-masing karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.

Di Dusun Telaga Kodok, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, tempat berdiri dan berlangsungnya sekolah Persis Maluku tercatat ada 10 rumah yang rusak berat, 73 rumah susak ringan, dan 133 orang mengungsi. Di samping itu pihak sekolah MA Al-Muluuk Persis pun mencatat ada 12 rumah siswa/I nya rumahnya rusak berat, 28 rumah rusak ringan dan semua siswa/I sekolah tersebut mengungsi di tenda-tenda darurat. Ironis tentunya, tempat tinggal mereka rusak sedang mereka harus tetap fokus pada sekolahnya di hari esoknya.

Demikian itu adalah akibat yang di rasakan secara fisik oleh masyarakat Ambon secara umum dan oleh para siswa/I Persis secara khusus, dimana banyak sekali rumah-rumah, tempat ibadah dan bahkan MALL/ tempat belanja pun ikut rusak akibat gempa yang terjadi di kota tersebut.

Akibat kedua yang tak kalah mengganggunya adalah akibat psikis bagi masyarakat. Mereka semua takut dan tidak berani tinggal di rumahnya masing-masing mengingat gempa susulan sering datang secara bergantian. Aktivitas mereka terganggu, proses belajar mengajar anak-anak sekolah terhambat akibat ketakutan karena gempa tersebut. Sampai detik ini (05 Oktober 2019), siswa/I Persis lebih memilih tinggal di tenda darurat ketimbang di dalam rumah, mereka rela tinggal di luar rumah walaupun hujan selalu turun tanpa henti dan rasa dingin malam yang begitu terasa ketimbang tinggal di rumah yang bahayanya lebih mengancam akibat gempa susulan yang sering terjadi. Kebutuhan akan sandang dan pangan pun diharapkan datang dari pemerintah atau dari lembaga sosial, guna melangsungkan kehidupan mereka yang senantiasa di ancam oleh gempa bumi. Uluran tangan tersebut sedikitnya bisa mengobati sakit fisik dan psikis kami masyarakat Ambon, karena beberapa aktivitas masyarakat ada yang tidak berjalan seperti hari-hari biasa. Kepedulian tersebut sedikitnya yang akan menguatkan kami di bertahan di bumi Ambon ini.

Demikian seulas informasi dan pesan kami dari masyakat Ambon untuk saudara/I semua. Semoga kita semua ada dalam lindungannya Allah subhanahu wa taála. Aamiin.

 

Maluku Tengah, 05 Oktober 2019

Ttd,

Ust. Abdul Rohman, S.Ag

(Dai Persis Ambon-Maluku)

 

Sumber

gambar : cnn & liputan 6

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB