Oim Abdurrochim

 

Kepada siapa kita harus berterima kasih dan bersyukur pada hari ini, ketika shaum kita menjelang beberapa hari lagi, barang kali amat tergantung kepada siapa yang paling berjasa pada diri kita. Mengapa begitu? Sebab terima kasih yang benar dan pada tempatnyaakan menyebabkan rasa syukur kita ke hadirat Allah akan semakin besar pula. Seakan kaidah yang menyatakan bahwa manusia pada akhirnya harus bersyukur karena dia pandai berterima kasih.

Yang pertama, kita sampaikan ucapan terima kasih adalah kepada istri, pasangan setia kita dan anak-anak belahan jiwa kita yang telah begitu banyak membantu dalam urusan ibadah dan mu’amalah selama Ramadhan ini. Betapa tidak, sebab mereka bukan perongrong, tapi mereka adalah endorong keberhasilan shaum kita di Ramadhan tahun ini. Mereka telah “dewasa” dalam permintaan dan harapan sesuai dengan kemampuan kita selaku kepala rumah tangga. Ini terjadi semata-mata karena didikan yang mereka terima dari orangtua dan masjid dan serangkaian kegiatannya dan sekolah yang mengarahkan anak untuk meningkatkan santun mereka kepada orangtua selama Ramadhan.

Yang kedua, adalah kepada masyarakat yang merupakan cermin kehidupan bangsa ini sampai hari ini mereka benar-benar pelaksana shaum yang insya Allah baik. Masjid-masjid masih Nampak makmur dengan jama’ah terutama pada shubuh dan malam hari. Ketertiban tetap terjaga sebatas kemampuan dalam berhubungan antar tetangga, warga kota, dan antar warga Negara. Upaya saling menghormati telah Nampak walau belum maksimal. Kesadaran bahwa ini bukan Ramadhan bagi semua pihak tetap ada walau masih perlu ditingkatkan.

Yang ketiga, megapa tidak kalau terima kasih ini disampaikan kepada pemerintah yang dengan segala daya upaya telah menyediakan fasilitas untuk keperluan umat yang tengah menjalankan ibadah shaum. Operasi pasar, memelihara ketertiban dan keamanan, mengerahkan sarana transportasi untuk yang akan pulang kampong, mudik. Tidak kalah pentingnya menekankan kepada para pengusaha untuk memberikan hadiah lebaran untuk karyawan/buruh yang bekerja selama ini banting tulang dengan keuntungan yang direguk dan dinikmati majikan. Timbal balik yang tidak pernah akan dilupakan tanpa harus dirugikan salah satu pihak.

Yang keempat, kepada mereka yang jauh-jauh hari telah mengirimkan do’a tahniah, ucapan selamat disertai do’a agar amal ibadah dikabul, diterima Allah sebagai amal maqbullah. Pertanda hubungan silaturahmi yang terentang dan diupayakan tetap ada walau lewat sehelai kartu ucapan selamat lebaran, selamat Idul Fitri yang akan dating.

Belum cukup rasanya disebut satu persatu, tetapi katakanlah mereka mewakili segenap pihak yang telah berjasa begitu besar untuk menerima ucapan terima kasih. Terima kasih dari kita sesame hamba Allah.

Kehendak dari balasan terima kasih ini lebih bernilai karena kemudian insya Allah mendorong kita untuk bersyukur kehadirat Ilahi.

Antar kita biarlah ucapan terima kasih itu berbuah kemanfaatan bagi kepantingan hubungan selanjutnya yang diharap makin baik. Dan tidak ada balasan yang layak kecuali seperti Allah swt nyatakan:]

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa [4] : 86).

Jasa mereka terhadap kita, mudah-mudahan dibalas Allah dengan pahala yang lebih baik atau setimpal dengan pengorbanan dan jerih payah yang telah mereka curahkan.

Syukur kita ke hadirat Allah rasanya tidak mungkin dipisahkan dengan begitu banyak  hal yang kita terima sebagai kenikmatan yang dating dari izin-Nya.

Jasa sekian banyak hamba Allah yang berusaha memelihara ketentraman Ramadhan, sehingga kita mampu menghidupkan kembali sunnah Rasulullah saw dalam rangka mengisi bulan mulia ini, layak kita syukuri. Mau tidak mau, itu semua merupakan kenikmatan yang tidak ada dan belum pernah dirasakan sebelumnya, sebab rasanya begitu berbeda dengan suasana bulan Ramadhan tahun lalu. Hal ini sesuai dengan tantangan dan perubahan yang terjadi, yang ternyata tidak akan merubah niat orang yang ingin berbuat baik karena Allah sambil mengharap ridha-Nya.

Mudah-mudahan syukur kita ke hadirat-Nya termasuk kategori syukur yang Allah swt gambarkan dalam Al-Quran:

“dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya nikmat-Ku sanat pedih.: (QS. Ibrahim [14]: 7).

Tidak dapat diingkari bahwa perilaku yang sempat kita sebut satu persatu tadi merupakan perilaku terpuji yang membuahkan kenikmatan untuk kita yang tengah merampungkan shaum kita. Adalah layak kita syukuri hal itu.

Bertambah senantiasa kenikmatan Allah amat kita dambakan.

 

 

Oim Abdurrochim, Ramadhan, Cetak Biru Hari-Hari Lain (Kumpulan Tulisan Tentang Ramadhan), Pustaka Rahmat, 2015.

Bersihkan Harta Dengan Zakat

08112222501

info@pzu.or.id

Open chat
1
Assalamualaikum Wr WB